MULUTMU PENENTU SURGAMU

MULUTMU PENENTU SURGAMU

Sahabat pernakah kalian mendengar seseorang asyik membicarakan kejelekan, keburukan,  maupun aib orang lain?. Atau mendengar langsung dari teman, sahabat dan keluarga anda sendiri yang melakukannya?, atau bahkan anda sendiri pernah melakukannya?. Di zaman sekarang, hal seperti ini sudah bukan menjadi hal yang asing lagi ditelinga kita hampir setiap hari, kita mendengar hal seperti ini. Orang yang kita anggap sebagai sahabat kita sendiri saja bisa melakukan itu dibelakang kita. Bahkan beberapa orang yang sama sekali tidak tahu bisa saja ikut-ikutan membicarakan orang lain seakan-akan dia tahu persis hal yang dibicarakan. Lalu seseorang yang berusaha mengingatkan temannya untuk berhenti membicarakan aib orang lain justru malah mendapatkan cacian atau ejekan sebagai orang yang sok alim, berasa paling benar, dan paling suci. Pernakah kalian sadar bahwa tindakan ini salah? Atau pernahkah kalian merasakan bagaimana jika and berada di posisi yang sedang dibicarakan.  Setiap orang di dunia ini mempunyai kesalahan, Tidak ada mahluk di dunia ini yang tidak melakukan kesalahan bahkan seorang nabi pun dapat saja berbuat kesalahan. Lalu apa dasarnya kita boleh menceritakan kesalahan orang lain ini, pada teman-teman kita dan menjadikan hal ini sebagai bahan lelucon lalu mengejeknya.

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِم حَرَامٌ دَمُهُ وَ عِرْضُهُ وَ مَالُهُ

“Setiap muslim terhadap muslim lainnya diharamakan darahnya, kehormatannya, dan juga hartanya.”

Hadist di atas ini adalah cerminan betapa rasul sangat menginginkan eratnya tali persaudaraan semua umat muslim, dengan saling kasih-mengasihi, sayang-menyangi, dan saling rangkul-merangkul. Itu sebabnya diharamkan umat muslim saling menumpahkan darah yaitu membunuh, mencuri harta benda yang bukan miliknya terhadap sesama muslim, dan diharamkan pula perbuatan yang dapat menjatuhkan, meremehkan, dan merusak kehormatan muslim lainnya. Islam mengenal hal ini dengan GHIBAH. Yang secara bahasa arab itu alghibah yaitu menggunjing. Atau secara istilah yaitu suatu perbuatan yang dapat merugikan orang lain melalui lisan kita seperti. Membuka, membongkar, dan menyebutkan aib orang lain.

Ada pula hadist lainnya dari nabi mengenai ghibah, yaitu:

“Dari Abu Hurairah. ra, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: ”Tahukah kamu apa ghibah itu?” Para sahabat mmenjawab:”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Nabi bersabda: ”Kamu menyampaikan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”. Lalu Rasul ditanya: ”Bagaimana jika yang saya sampaikan itu merupakan (kenyataan) yang terjadi pada diri saudaraku itu?” Nabi Saw bersabda: ”Jika yang kamu sampaikan itu benar terjadi pada saudaramu, berarti kamu telah menggunjingnya. Jika tidak terjadi pada dirinya, berarti kamu telah berbuat dusta kepadanya”. (HR. Muslim)

 

 

 

Adapun ayat al quran yang juga mendukung untuk tidak melakukan ghibah adalah. (QS. 49: 12)
‘‘Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.’

 

Sahabat, islam adalah agama yang sempurna. Islam telah mengajarkan kita banyak hal. Bahkan permasalahan hubungan sosial pun dibahas secara rinci. Ghibah ini adalah salah satu permasalahan sosial yang sudah diperingatkan dari jutaan tahun yang lalu oleh rasullah untuk tidak di lakukan. Islam juga bukan agama yang kaku, dalam islam pun di perbolehkan melakukan ghibah atau membicarakan orang lain hanya dalam kasus tertentu. Tentunya dengan niat yang baik atau secara syari. Terdapat 6 pengecualian menurut imam nawwi dalam kitabnya yaitu Syarah Muslim :

1 ) seorang yang dianiaya melaporkan halnya orang yang menganiaya, kemudian dia menyebutkan kejahatan yang dilakukannya. Dalam hal ini Islam memberikan rukhshah untuk mengadukannya.

Contohnya apabila ada seseorang pembantu yang disiksa oleh majikannya ia berhak melaporkannya pada hakim di pengadilan menganai kejahatan apa saja yang majikannya lakukan terhadapnya.

Firman Allah: “Allah tidak suka kepada perkataan jelek yang diperdengarkan, kecuali (dari) orang yang teraniaya, dan adalah Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (an-Nisa': 148)

2 )  Untuk meminta bantuan atau merubah kemungkaran, dan mengarahkan pelaku maksiat untuk kembali berbuat benar

Contohnya kita mengetahui dengan pasti bahwa teman kita ingin berkelahi dengan orang lain. Kita boleh mengadukannya pada orang tua teman kita atau pada seseorang yang bisa menahanya serta mencegah agar tidak terjadi perkelahian.

Hal ini pula didukung oleh hadist nabi yaitu :

“Bila kamu melihat suatu kemungkaran, maka ubahlah dengan tanganmu. Namun apabila tak mampu ubahlah dengan lisanmu. Dan bila tak sanggup juga, yang terakhir adalah ubahlah dengan hatimu (doa dalam hati), tapi perlu diingat bahwa itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

3 )  Untuk meminta fatwa (nasihat)

Contohnya teman baik saya menghianati saya, lalu saya sangat marah., seseorang yang dalam keadaan marah pasti akan berbuat sesuatu yang ceroboh tanpa berfikir panjang. Dalam hal ini kita boleh menceritakan teman kita yang berhianat ini kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan nasihat bagaimana saya harus bertindak.

4 ) Untuk mengingatkan umat Islam dari perbuatan buruk.

Contohnya ini bisa kita samakan denga krtitikan kepada seseorang yang melakukan tindakan buruk atau yang bertentangan dengan ajaran agama islam demi tegaknya kebenaran  adapun hadist nabi yang mendukung perlunya untuk saling mengingatkan sesama umat muslim adalah

Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya. Jangan mendhaliminya dan jangan memasrahkannya. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantunya. Dan barangsiapa yang memberikan jalan keluar dari kesulitan saudaranya, maka Allah akan memberikan jalan keluar bagi kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan tutupi aibnya pada hari kiamat. (HR. Bukhari Muslim)

5 ) Seseorang melakukan kefasikan atau perbuatan bid’ah secara terang-terangan.

Contohnya kita melihat teman kita minum minuman keras atau haram dan dilakukan secara terang-terangan di depan umum, maka itu tidak apa-apa. Namun perlu di ingat hanya perbuatan yang di perlihatkan di depan umum atau terang terangan saja. Tidak boleh perbuatan yang lain. Kelemahan kita biasanya ketika sudah asik membicarakan satu kejelekan orang lain biasa ini akan merembet atau membawa sifat kejelekan lainnya juga. Maka dari itu saya secara pribadi menyarankan lebih baik tidak usah melakukan hal ini biarpun diperbolehkan tapi dikhawatirkan kita terbawa nafsu untuk mengeluarkan kejelekan seseorang yang lebih dari yang dibolehkan

6 ) mengenalkan seseorang.

Contohnya jika kita mencari alamat teman kita bernama Adi dan kebetulan di daerah tersebut orang yang memiliki nama Adi ada banyak. Maka kita diperbolehkan untuk mnegatakan ciri-cirinya biarpun itu ciri-ciri cacat. Misalkan “pak saya mau Tanya, bapak tau rumahnya Adi yang matanya buta itu gak?”
namu hal ini tidak dibenarkan untuk membeir label pada seseorang, yang arahnya lebih untuk ejekan kepada seseorang yang memiliki kelemahan fisik sehingga kita bisa menggunakan nya sebagai panggilan. Contohnya kita mempunyai teman yang kulitnya hitam lalu kita selalu memanggil dia “SI DEKIL” atau “SI HITAM”

 

 

Inspired?

Share cerita dan ide kamu di sini
Mulai menulis


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co
or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?