POSITIVE PSYCHOLOGY DI LINGKUNGAN KERJA

10201510300804134939picture-of-happy-people-CEcO.jpg

PSIKOLOGI POSITIF DI LINGKUNGAN KERJA

 

Dulu orang mengira, bahwa kebahagiaan (positivity) akan kita peroleh setelah kita mendapatkan kesuksesan. Namun berbagai penelitian positive psychology membuktikan yang sebaliknya yaitu: kebahagiaanlah yang menyebabkan kesuksesan. Shawn Achor menegaskan itu dalam bukunya, The Happiness Advantage.

 

Meski Achor bukan pelopor dari science of happiness, namun Achor dikenal sebagai konsultan bisnis dan pengajar Happiness di Harvard UniversityHappiness adalah mata kuliah yang digemari di Harvard, mengalahkan mata kuliah bisnis. Setelah Martin Seligman, penulis buku “Flourish” yang telah dinobatkan sebagai pionir dari positive psychology, dan Tal Ben-Shahar, penulis buku “Happier”, Achor kemudian melesat sebagai pakar positive psychology yang mengabdikan ilmunya untuk mengeluarkan potensi positif para pekerja di perusahaan-perusahaan besar di seluruh dunia.

 

Berapa jam setiap orang berada di lingkungan kerjanya? Setidaknya 8 jam sehari seorang pekerja berada dan berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan kerjanya. Lalu berapa jam ia berinteraksi dengan keluarganya? Mungkin hampir sama, yaitu 8 jam sehari atau malah kurang. Itu menunjukkan bahwa lingkungan kerja adalah tempat yang sama penting dengan rumah, karena bisa saling mempengaruhi. Bagi pekerja yang sudah dilengkapi dengan science of happiness, tentu ia akan lebih bisa menikmati lingkungan kerjanya dan rumahnya, bahkan ia bisa lebih menghasilkan kualitas kerja yang maksimal.

 

Positive psychology yang dikembangkan pertama kali oleh Seligman adalah bagaimana meningkatkan kebahagiaan untuk memaksimalkan kualitas hidup. Inilah yang disebutnya sebagai positive psychology yang berbeda dari ilmu psikologi di masa awal sebelumnya yang lebih melihat psikologi sebagai ilmu yang mempelajari apa yang salah atau sakit dalam jiwa manusia.

 

Kajian mengenai kebahagiaan ini sekarang diminati di mana-mana di seluruh dunia, bukan hanya diminati oleh mahasiswa Achor di Harvard. Bahkan juga telah diminati oleh banyak pelaku bisnis. Beberapa penelitian menunjukkan, bahwa mereka yang memiliki kebahagiaan akan lebih mudah mengeluarkan seluruh potensi positif di otaknya untuk mencapai kesuksesan di lingkungan kerja. Salesman yang memiliki positivity lebih mampu menjual 56% lebih banyak daripada salesman yang tidak memiliki positivity.

 

Martin Seligman, dalam kariernya selama 40 tahun sebagai psikolog telah membuatnya tidak bahagia. Menurut Seligman, “Psikologi sering berhubungan dengan gejala-gejala kejiwaan yang sulit membuat saya bahagia, tetapi dengan mempelajari positive psychology saya jauh lebih bahagia dan dapat memberikan kebahagiaan pada orang lain”.

 

Positive psychology telah menciptakan cara untuk memperoleh positivity yang berguna bagi kita dalam menjalani hidup dan pekerjaan kita sehari-hari. Untuk itu, Seligman telah memelopori program Master of Applied Positive Psychology (MAPP). Sebagian besar peserta program S-2 ini berlatar belakang konsultan bisnis yang ingin memanfaatkan positive psychology untuk memberikan dampak positif pada berbagai perusahaan yang menjadi klien mereka.

 

Banyaknya profesional yang mengambil studi MAPP untuk menerapkan science of happiness dalam perusahaan sesungguhnya hanya sebagian kecil dari fenomena merebaknya kesadaran akan pentingnya kebahagiaan sebagai faktor utama pencapai kesuksesan. Di mana-mana di seluruh dunia kebahagiaan di lingkungan kerja memang menjadi salah satu isu terpenting yang banyak diperbincangkan.

 

Dalam konferensi American Society for Training and Development di Orlando, AS, isu yang paling dominan adalah soal 1 elemen dalam kebahagiaan yang mempengaruhi kualitas kerja, yaitu Engagement. Banyak perusahaan yang mengeluh karena karyawan mereka tidak fokus dalam pekerjaannya sehingga gagal memberikan kualitas kerja yang baik. Penelitian di AS membuktikan bahwa hanya 29% karyawan yang benar-benar Engaged. Sisanya, yaitu 54% karyawan, masuk kategori not Engaged, sementara 17% lainnya adalah actively disEngaged.

 

Penyebab utama tidak Engaged karyawan ini adalah karena mereka tidak memiliki positivity (kebahagiaan), bukan hanya di tempat kerja, tetapi juga di rumah dan di mana saja. Tanpa positivity, mereka mudah saja melihat pekerjaan sebagai setumpuk tugas dan kewajiban yang malah membuat mereka menjadi bertambah negatif. Mereka sulit menjalani hidup, apalagi menjalani pekerjaan mereka dengan positif.

 

Maka, perusahaan yang ingin usahanya lebih kompetitif sesungguhnya perlu mengadopsi science of happiness atau positive psychology untuk memperbaiki situasi ini. Perusahaan harus “masuk” ke dalam “kehidupan pribadi” para pekerjanya dengan cara menyediakan coaching atau training yang sudah diciptakan oleh banyak pakar positive psychology di dunia.

 

Persepsi yang salah selama ini mengenai kebahagiaan (positivity) harus dibalik. Kebahagiaan bukan lagi dilihat sebagai urusan pribadi, tetapi juga urusan dunia. Karena itu perusahaan atau organisasi yang menginginkan memiliki tingkat kompetisi yang tinggi harus memperbaiki level kebahagiaan (positivity) di lingkungannya. Kebahagiaan sudah menjadi science yang sudah diukur, diteliti dan dipraktekkan selama lebih dari 2 dekade belakangan ini. Mengapa tidak memanfaatkannya?

 

 

 

M Jojo Rahardjo

Membangun Positivity di Facebook

Inspired?

Share cerita dan ide kamu di sini
Mulai menulis


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co
or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?