Serba ada atau serba cukup?

12201512110609056737images.jpg

Pasti indah sekali ya punya hidup serba berlebih, serba ada, ingin ini ingin itu tinggal bilang saja. Sekedipan mata, semua terpenuhi, bahkan yang tak kau butuhkan sebelumnya pun ada, pokoknya tak harus menunggu lama, bersungut-sungut, merengek, apalagi sampai keluar peluh untuk mendapatkannya. Mungkin seperti itulah kehidupan seseorang yang bergelimang harta, kekuasaan, kedudukan atau strata sosial yang tidak biasa di masyarakat. Terhormat, terpandang, terkenal, setiap kali melewati jalan, yang ada orang-orang akan berwah-wah ke arahnya. Kehidupan semacam itu, siapa yang tak ingin? Lebih tepatnya, siapa yang tak iri? Kau mau? Gampaaaang…

Sebenarnya di jaman ini, mudah saja memiliki kehidupan bak konglomerat macam itu, meski kita hanya bermodalkan niat dan camera 360 saja sudah cukup *eh.

Bukan hidupnya yang saya maksudkan tapi gaya hidupnya. Gaya hiduplah yang memberi manusia merk secara kasat mata. Gaya hiduplah yang dijadikan citra diri, gaya hiduplah yang bahkan mungkin manusia mati-matian memenuhinya walau tak dibawa sampai mati. Kepuasan batin? Entahlah. Mungkin lebih tepatnya kusebut saja “gengsi.”

Memang apa yang sebenarnya paling diincar seseorang saat terlihat me-waaaah ? Pujian kan? Aku paham, ada kepuasan tersendiri bagi seseorang bermental “suka pamer” saat berhasil membuat lawannya iri. Jadi jika sudah punya niat untuk bergaya hidup mewah, tunaikan dengan memoles penampilan dan lihai memamerkan kepalsuan, berbohong itu perlu saat kau harus berlagak parlente walau sebenarnya tak mampu, dengan mudah orang sejenis itupun akan berdecak kagum, merasa iri, kemudian berbenihlah “gengsi” di antara mereka, perasaan tak terima akan tumbuh, membuat yang lain ikut memoles penampilan juga pamer sana-sini. Dan jadilah budaya makhluk sekulerisme itu semakin lama semakin mengakar.

Itulah gaya hidup, sesuatu yang mungkin sedang mencekik urat saraf manusia kekinian. Jika kau tanyakan apa itu hidup, hidup adalah sederhana. Bahkan ketika kau hanya memiliki apa yang orang lain tak syukuri dan amat sangat menghargainya itulah hidup dengan sebenar-benarnya hidup, ketika kau mampu melihat apa yang kebanyakan manusia tak menghiraukannya, saat itulah kau sedang hidup.

Adakah yang berpikir aku terkesan sedang menyudutkan orang kaya? Tidak sama sekali. Aku sedang tidak membandingkan si kaya dan si miskin harta disini, ini hanya tentang mental dan pencitraan “hidup” yang sering di salah artikan manusia. Aku saja masih sangat fakir ilmu tentang kehidupan, hanya berbagi sedikit potret dari sisi yang berbeda.

Pernah suatu kali aku bertanya pada seorang kawan, apakah yang paling disyukuri dalam hidupnya,

“Saat aku terlahir dari keluarga yang tak punya.” Jawabnya.

Aku tak lantas bertanya apa maksudnya, bahkan menunggu kelanjutannya, jawabannya memang singkat namun itu telah menjelaskan banyak hal padaku. Kau tahu, dia calon sarjanawan yang selama ini menyambi menjadi tulang punggung keluarganya. Ia memulai perjuangan dari nol, ditempa ujian hidup dari kedalaman paling dasar. Tak jarang ia menangis, hanya menangis lalu kembali melanjutkan rutinitasnya yang bagi orang lain mungkin sangat menguras tenaga demi penghasilan yang tak seberapa. Akupun berkesimpulan, kekuatan yang ia dapatkan setiap hari selama ini tak lain karena pandainya ia menghargai hidup. Ia dibebani ujian yang anak seusianya mungkin belum tentu mampu menanggungnya dan ia mensyukuri itu.

“Setidaknya kalau aku kaya nanti dan tiba-tiba bangkrut, aku tidak akan stress. Hidup susah mah udah terlalu mainstream buat aku, jadi biasa aja. Hahaha..” Celetuknya tiba-tiba.

Tidakkah kita berpikir, kunci hidup itu cukup dengan rasa cukup. Rasa cukup itu lebih tinggi harganya dari perasaan manapun yang kita rasakan, melebihi rasa puas ketika disanjung orang lain. Rasa cukup itu mahal, tak terbeli, tak mudah dirasakan manusia bermental “anti kelihatan melarat”, dibayar berapapun, dipoles sebagaimana pun takkan bisa perasaan itu muncul bagi orang-orang palsu.

Perasaan cukup itu hanya berbenih pada jiwa yang jujur, terhadap dirinya dan orang lain. Tak peduli di garis mana sang Maha Pengatur menaruhnya dalam kasta, manusia yang merasa cukup akan selalu tertawa renyah saat bahagia, bahkan pada hal-hal kecil sekalipun.

Dan lagi, perasaan cukup itu ada dalam jiwa seseorang yang sering lupa, lupa meminta apa-apa lagi pada sang Maha Pemurah dikarenakan terlalu sibuk bersyukur.

Profile photo of Risma Idrus

Penulis

Inspired?

Share cerita dan ide kamu di sini
Mulai menulis


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co
or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?