free page hit counter

Di Gerbang Stasiun Penghabisan

  • Dellorie Ahada, Dodi Indra, Joel Pasbar, Muhammad Subhan, Pinto Janir, Sastri Bakry
  • Penerbit : inspirasi.co book project
  • Tahun : 2018
  • ISBN : -

PUISI ESAI DALAM SECANGKIR KOPI HANGAT

Oleh Alwi Karmena

Dalam hati yang lapang dengan pikiran yang jernih, kita ucapkan “Selamat Datang Puisi Esai” di Ranah Minang. Terlihat pakaianmu bersih. Kami maklum, ketika hadir, agak tersibak rambutmu ditiup angin lalu. Keretamu menderu dari jalan-jalan yang berbatu dan berdebu. Niscayalah, “kata-kata” dalam puisi yang diusung, bukan racun atau bisa yang mengundang perbenturan. Tapi, adalah secangkir teh atau kopi hangat yang terhidang di beranda petang hari, ketika orang dirindu menjamu kita bertamu.

Tanah Minangkabau adalah tanah yang subur dan hidup dengan pikiran-pikiran, sehingga kata ditanam menjadi puisi. Kata pujangga, Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan negeri ini. Barangkali, keindahan alam Minangkabau inilah yang menjadi inspirasi bagi penghuninya untuk mengolah kata menjadi kalimat. Lalu, kalimat menjelma dalam susunan lirik yang elok.

Bermula pada kata. Demikianlah adanya, jika kata dan keinginan sebuah era penjelajahan, dunia estetika akan menjadi padang terbuka yang berkabut. Ketika itu, imajinasi menjadi kuda pelajang bukit. Kuda itu pulalah yang menerjang batas atau pagar-pagar berkabut. Sementara joki pemacu kuda itu adalah sang kata dan sang makna.


Bagi artikel ini

Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co