free page hit counter

Gema Hati Mongondow

  • Deisy Wewengkang, Hamri Manoppo, Muhammad Rifsan Makangiras, Pitres Sombowadile, Sawiyah Al'Idrus
  • Penerbit : inspirasi.co book project
  • Tahun : 2018
  • ISBN : -

MEMBACA PUISI ESAI 5 PENYAIR SULAWESI UTARA

Oleh Dr. Ratun Untoro, M.Hum.

Agak terkejut tatkala panitia menghubungi saya untuk memberi pengantar buku ini yang katanya berisi tentang puisi esai. Terkejut bukan saja karena mengapa saya yang ditugasi, tetapi juga karena istilah puisi esai sedang ramai dibicarakan masyarakat sastra akhir- akhir ini. Malah muncul petisi penolakan melalui media sosial yang konon sudah ditandatangani banyak orang. Selanjutnya, saya mencari-cari pembenar atas tugas saya ini. Pertama, saya ingat artikel Leo Lowenthal dalam buku The Art in Society (1964) yang menyebutkan bagaimana satu hasil karya dapat diterima oleh sebuah masyarakat pada zaman tertentu. Siapa tahu, model puisi esai seperti ini memang yang dikehendaki dan diterima masyarakat Zaman Now—saya belum melihat hasil survei itu. Kedua, saya ingat perkataan Pramoedya Ananta Toer dalam Indonesia (1953) yang menyatakan bahwa pengkritik sastra jangan sampai mencetuskan bahaya-bahaya baru bagi kesuburan perkembangan sastra. Siapa tahu, puisi esai ini menjadi bagian perkembangan sastra dan jangan sampai tidak berkembang subur gara-gara pengkritik. Dan, toh saat ini karya seperti itu memang benar-benar ada—terlepas dari bagaimana ia muncul dan berapa lama bertahannya. Ketiga, saya ingat tulisan Wolfgang Iser dalam bukunya The Act of Reading (1978) yang menyatakan bahwa a text can only come to life when it is read, and if it is to be examined, it must therefore be studied through the eyes of the reader. Saya berposisi sebagai mata pembaca yang bisa membuat teks pada buku ini hidup. Berdasar pada ingatan itu--semoga tidak salah--saya menerima tawaran untuk memberi pengantar buku ini.


Bagi artikel ini

Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co