free page hit counter

Pusi Esai: Genre Baru Puisi Indonesia

Nama Denny JA, pakar survei dan konsultan politik terkemuka sekaligus ilmuwan dan kolumnis yang telah menerbitkan banyak buku, kembali menggebrak publik tanah air dan menjadi pembicaraan paling hangat dipembuka tahun 2014. Namun, kali ini bukan mengenai prestasinya di dunia politik, melainkan kiprah kepeloporannya di dunia sastra Indonesia.

Tokoh yang terkenal luas di dunia politik sebagai arsitek bagi kemenangan SBY- JK dan SBY – Boediono pada pilpres 2004, 2009, dan 2014, serta memenangkan 26 kursi gubernur dan 65 jabatan walikota bagi klien yang ditangani Lingkaran Survei Indonesia (LSI) - sebuah lembaga konsultan miliknya - menjadi sorotan publik setelah puisi esai yang dibidani kelahiran dan tumbuh-kembangnya itu mengantarkan Denny JA pada penobatan dirinya sebagai satu dari 33 tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh. Penobatan ini ditetapkan oleh komunitas sastra yang tergabung dalam Tim 8 bersama Yayasan HB Jassin.

Denny JA dan ‘puisi-esai’ adalah nama baru yang belum pernah ada dalam sejarah perpuisian di tanah air. Kemunculan keduanya sebagai sesuatu yang baru, tentu mengejutkan publik. Ditambah lagi dengan dimasukkannya nama Denny JA ke dalam penghargaan Tim 8, yang diabadikan dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (terbit Januari 2014), menimbulkan pertanyaan, gugatan, dan pro-kontra.

Bentuk ‘puisi’ dan bentuk ‘esai’ sudah lama diketahui publik, tetapi ‘puisi esai’? Bagaimanapun, menggagas penggabungan keduanya memiliki konsekuensi semantik tersendiri. Meski begitu, mengingat terdapatnya pesan sosial di balik pemunculan puisi esai dan masifnya penyebaran genre baru puisi Indonesia ini di ranah sastra tanah air, semestinya pengukuhan Denny JA sebagai salah satu tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh dinilai sebagai sesuatu yang wajar.

 

Buku ‘Atas Nama Cinta’ : Kemunculan Puisi Esai

Meski menggeluti dunia politik, Denny JA - pendiri Lembaga Survei Indonesia (LSI 2004), Lingkaran Survei Indonesia (LSI 2005), Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia (AROPI), dan Asosiasi Konsultan Politik Indonesia (Akopi) – sejak lama merasa prihatin dengan praktik diksriminasi dan intoleransi yang marak terjadi di tanah air, terutama pasca Reformasi 1998. Melalui survei sisipan Lingkaran Survei Indonesia, ia mencermati angka korban kekerasan akibat diksriminasi dan intoleransi di tanah air cukup tinggi.

Denny JA kemudian memimpikan datangnya sebuah era di mana manusia Indonesia tak lagi dinilai berdasarkan identitas sosialnya, baik agama, paham agama, etnis, jenis kelamin, bahkan orientasi seksual.

Melalui renungan mendalam, kegelisahan hati dan harapan akan era Indonesia tanpa diskriminasi, memancing Denny JA untuk membuat buku puisi-esai, sebuah genre baru penulisan puisi yang ditulis secara sastrawi serta dilengkapi dengan catatan kaki.

Buku berjudul ‘Atas Nama Cinta’ : Sebuah Puisi Esai, yang memiliki keterangan pada cover: Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta yang Menggetarkan Hati, terbit pada Maret 2012 dan memuat 5 puisi esai bertemakan cinta. Hanya saja, kisah cinta yang dituturkan dalam lima puisi esai ini bukan cinta yang berdiri sendiri melainkan bertali-temali dengan kompleksitas persoalan sosial yang kritis. Di sana ada isu perbedaan agama (Bunga Kering Perpisahan), isu rasial (Sapu Tangan Fang Yin), orientasi seksual (Cinta Terlarang Bantam dan Robin), kekerasan gender (Minah Tetap Dipancung), dan pertentangan sekte agama (Romi dan Yuli dari Cikeusik). Disajikan sedemikian rupa dengan pesan-pesan moral yang dikemas apik dengan bahasa puisi, kelima isu tersebut dibingkai dalam tema besar: masalah diskriminasi.

Penerbitan buku puisi esai ini diiringi oleh seorang budayawan senior, Ignas Kleden, dan dua orang penyair papan atas, Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri, yang memberi apresiasi pada epilog buku. Ketiganya menyambut baik corak baru penulisan puisi—atau eksperimen—yang dilakukan oleh Denny JA, yang keluar dari pakem penulisan puisi lirik.  

 

Di samping versi cetak, buku karya Denny JA ini juga dibuatkan versi mobile web, sehingga dapat diakses dari telpon genggam dan akun twitter sekalipun. Oleh sebagian orang, buku itu dianggap sebagai tonggak yang membawa sastra ke era sosial media. Hanya dalam waktu sebulan, HITS di web buku puisi itu melampaui satu juta. Ini tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah buku puisi, buku sastra bahkan buku umum sekalipun. Tak hanya membaca, sebagian mereka juga menyampaikan kesan dan komentar yang dapat dilihat melalui www.puisi-esai.com, sebuah web yang berisi sosialisasi puisi esai mengenai apa, mengapa, dan karya, dan peristiwa seputar perkembangan puisi esai di Indonesia.

Belum genap 10 bulan sejak diluncurkannya, web www.puisi-esai.com telah diklik lebih dari 7 juta kali (persisnya 7.502.891).

Ini menunjukkan betapa puisi kembali dekat dengan khalayak, bahwa publik luas membaca dan merespon puisi dalam waktu cepat dan massif. Publik pun sebenarnya akan memberikan respon yang sama kepada puisi lain, asalkan dihidangkan dengan bahasa yang mudah; disajikan dengan tema yang juga menjadi kegelisahan mereka sendiri; asalkan diberikan kemudahan akses untuk menikmatinya melalui jaringan yang sedang hot : media sosial, seperti twitter, smartphone, internet.

Bukan hanya disajikan dalam web dan mobile web, puisi-puisi esai karya Denny JA ini juga ditransformasikan ke dalam film dimana penulisnya, Denny JA, menggaet sineas kenamaan Hanung Bramantyo sebagai co-produser.

  1. Film Saputangan Fang Yin berkisah tentang diskriminasi yang menimpa etnis Tionghoa tatkala pecahnya Reformasi 1998. Film ini  disutradarai oleh Karin Bintaro, dan dibintangi Leoni Vitria, Hartanti Reza Nangin, dan Verdi Solaiman.
  2. Film Minah Tetap Dipancung berkisah tentang derita-nestapa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di mancanegara. Film ini disutradarai oleh Indra Kobutz dengan aktris/aktor: Vitta Mariana, Saleh Ali, dan Peggy Melati Sukma.
  3. Film Bunga Kering Perpisahan berkisah tentang problematika yang dihadapi mereka yang mengalami cinta/nikah beda agama. Film ini disutradarai oleh Emil Heradi dengan aktris/aktor: Rawa Nawangsih, Arthur Brotolaras, dan Teuku Rifku Wikana.
  4. Romi dan Yuli dari Cikeusik berkisah tentang pertentangan antar paham agama antara sebagaian Muslim Indonesia dan anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Film ini disutradarai oleh Indra Kobutz dengan aktris/aktor: Zascia Adya Mecca, Ben Kasyafani, dan Agus Kuncoro.
  5. Cinta Terlarang Batman dan Robin, yang difilmkan dengan judul Cinta Yang Dirahasiakan, menggambarkan dilema dan problematika yang dihadapi kaum hososeksual di Indonesia. Film ini disutradarai oleh Rahabi MA dan dibintangi aktor Rizal Syahdan, Zack Nasution, dan Tio Pakusadewo.

Kelima film yang mengeskplorasi sisi batin tiap tokohnya itu diputar dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) VIII (29 Nov -7 Des 2013) di Yogyakarta dan dijadikan simulasi dalam pertemuan korban tragedi kekerasan bulan Mei 1998, peringatan hari lahir Pancasila di Taman Ismail Marzuki, dan momen hari buruh memperingati kematian Ruyati, TKW Indonedia yang dipancung di Arab Saudi.

Buku Atas Nama Cinta buah pikiran Denny JA pun kemudian dianggap menjadi cikal bakal lahirnya gagasan tentang urgensi sebuah Gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi (ITD) yang diwujudkan dalam karya-karya budaya. Denny JA melalui Yayasan Denny JA untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi kemudian memulai kerja untuk ikut membangun bangsa dengan menjadikan sastra, musik, film, lukisan, fotografi dan karya budaya lainnya sebagai media perjuangan menumbuhkan kesadaran antidiskriminasi dan toleransi serta upaya menghapus praktik diksriminasi dan intoleransi di Indonesia.

Selain itu, buku Atas Nama Cinta menjadi karya pertama puisi esai yang mencoba keluar dari paradigma lirisisme dan sekaligus menandai tradisi baru dalam penulisan puisi di Tanah Air. Salah satu puisi dalam buku itu yang berjudul Sapu Tangan Fang Yin untuk pertamakalinya dibacakan dalam Kongres Sastra Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang berlangsung di kawasan Puncak, Jawa Barat, pada bulan Maret 2012. Dalam acara yang dihadiri sekitar 150-an sastrawan dari seluruh Tanah Air itu juga untuk pertamakalinya dilakukan sosialisasi puisi esai dalam bentuk undangan untuk membuat review, kritik, dan lomba penulisan puisi esai.

 

Apa dan Bagaimana itu Puisi Esai ?

Dalam buku bunga rampai ‘Puisi Esai: Kemungkinan Baru Puisi Indonesia’ yang berisi 20 pendapat para budayawan, sastrawan, kritikus, dan intelektual, termasuk pula Denny JA sebagai Bapak Puisi Esai Indonesia, terdapat beberapa pemahaman dan polemik mengenai puisi genre baru tersebut.

Menurut Denny JA, puisi esai ialah puisi panjang dan berbabak, karena ia pada dasarnya adalah drama atau cerpen yang dipuisikan. Berbeda dengan puisi lirik yang merupakan puisi arus utama, puisi esai menyampaikan latar seting dan konteks yang sangat jelas juga tidak dirahasiakan. Bahasa yang dipilih ialah bahasa yang mudah dipahami. Oleh karena itu, Denny JA menegaskan, sebuah puisi esai harus memiliki kriteria : mengeksplor sisi batin, psikologi dan sisi human interest pelaku; dituangkan dalam larik dan bahasa yang diikhtiarkan puitik dan mudah dipahami; tak hanya memotret pengalaman batin individu tapi juga konteks fakta sosialnya oleh karena itu kehadiran catatan kaki menjadi sentral; dan diupayakan menyentuh hati pembacanya. Dalam sebuah puisi esai, lanjutnya, selayaknya tergambar dinamika karakter pelaku utama atau perubahan sebuah realitas sosial. Dinamika karakter dan perubahan sebuah realitas sosial itu dengan sendirinya membutuhkan kisah yang berbabak.

Abdul Kadir Ibrahim, sastrawan dan kritikus sastra dari Kepulauan Riau, mengemukakan bahwa di tangan Denny JA, puisi bukan lagi sekadar keindahan dan nilai atau pesan, juga rasa, melainkan sekaligus menimbulkan pemikiran, pengetahuan, dan pengalaman. Menurutnya, kata-kata, larik-larik puisi esai yang diperkenalkan dan ditulis Denny JA , menjadi ada makna baru dan kuat, karena disokong dan ditunjang oleh keberadaan data atau fakta. Dalam puisi semacam ini, pembaca dapat menikmati keindahan dan sekaligus pengetahuan.

Agus R Sarjono memandang puisi esai sebagai puisi yang ditulis dengan spirit esai, bahwa yang harus digarisbawahi dalam puisi ini adalah keterkaitan dan solidnya larik-larik puisi dengan fakta, dan oleh karenanya membutuhkan catatan kaki atas fakta yang dirujuk. Spirit itu antara lain keterlibatan penyair dengan masalah krusial yang menjadi bagian penting masyarakat; rasa hormat atas fakta dan riset dengan tidak terburu-buru menyimpulkan suatu fenomena lantas memfiksikannya; dan tak kalah penting menyadari bahwa hakikat sebuah puisi adalah sebagai aparat komunikasi yang harus bisa berkomunikasi dengan pembaca. Dan itulah yang dilakukan Denny JA dalam puisi esai.

Dalam buku bunga rampai ‘Puisi Esai : Kemungkinan Baru Puisi Indonesia’ itu pula, dikupas tentang polemik kemunculan puisi esai yang dibidani oleh Denny JA.

Maman S. Mahayana, kritikus sastra terkemuka di tanah air, menuliskan bahwa ketika kekuasaan melakukan pembungkaman atas kebenaran, sastra dengan caranya sendiri justru dengan leluasa menyampaikan. Rupanya itulah yang Denny JA, ilmuwan sosial dan penulis esai prolifik, tawarkan dalam konsep puisi esai, yaitu sebagai media perjuangannya menyuarakan isu-isu sosial seperti diskriminasi dan intoleransi. Oleh karena itu, Maman S. Mahayana mengatakan, terlepas soal kontroversi legitimiasi puisi-esai, publik sastra Indonesia sudah seharusnya memberikan apresiasi atas sumbangan yang ditawarkan oleh Denny JA.

Sementara itu Leon Agusta menegaskan bahwa sejak awal, bentuk, konteks, dan isi buah karya Denny JA adalah esai dalam format puisi. Meski dalam sejarah sastra Indonesia, upaya mempertemukan bentuk-bentuk tulisan yang berbeda dalam satu karya bukanlah sesuatu yang baru, namun ‘temuan’ Denny JA ini mampu menggali sumber estetik jauh lebih mendalam mengenai gugatan terhadap isu sosial berbingkai diskriminasi. Leon Agusta menyebut puisi esai Denny JA sebagai estitka pembebasan, yaitu mengandung konsep keindahan yang memiliki keberpihakan pada nilai-nilai universal dan pembebasan manusia dari belenggu diskriminasi. Dalam konteks ini, kekuatan estetika dalam narasi menjadi jembatan emas untuk menyampaikan pengalaman emosional, sedangkan catatan kaki memperkuatnya sebagai pengalaman intelektual. Dengan demikian, Denny JA telah membuka jendela baru bagi masyarakat sastra Indonesia untuk melihat kenyataan sejarah peradaban dengan cara yang baru pula.

 

Terbitnya Karya-karya Puisi Esai lain

Magnet daya tarik buku antologi puisi esai ‘Atas Nama Cinta’ karya Denny JA rupanya berefek teramat kuat dan cepat dalam menyedot perhatian masyarakat sastra. Ibarat sebuah kereta api dengan buku ‘Atas Nama Cinta’ karya Denny JA sebagai lokomotif, buku-buku puisi esai yang lahir sesudahnya pun bermunculan sebagai gerbong-gerbongnya.

alam periode 2012-2013, lahir tujuh buku antologi puisi esai lain dan satu buku bunga rampai menyoal tanggapan berbagai kalangan mengenai kemungkinan baru puisi Indonesia. Buku-buku tersebut yaitu:

  1. Kutunggu Kamu Di Cisadane (Penerbit: Komodo Book, 2012) karya Ahmad Gaus. Kata Pengantar: Jamal D. Rahman.
  2. Manusia Gerobak (Penerbit: Jurnal Sajak, 2013) karya Elza Peldi Taher. Kata Pengantar: D. Zawawi Imron.
  3. Mata Luka Sengkon-Karta (Penerbit: Jurnal Sajak, 2013). Antologi ini memuat puisi esai juara Lomba Menulis Puisi Esai 2012, karya Peri Sandi Huizchedengan, Beni Setia, dan Saifur Rohman. Penyair Agus R. Sarjono bertindak sebagai editor dan pemberi kata pengantar untuk antologi ini.
  4. Dari Rangin ke Telpon (Penerbit: Jurnal Sajak, 2013). Antologi ini memuat puisi esai juara hiburan Lomba Menulis Puisi Esai 2012, karya Katherine Ahmad, Kedung Darma Romansha, Rahmad Agus Supartono, Wendoko, dan Yustinus Sapto Hardjanto. Penyair Acep Zamzam Noor bertindak sebagai editor dan pemberi kata pengantar untuk antologi ini.
  5. Dari Singkawang ke Sampit (Penerbit: Jurnal Sajak, 2013). Antologi ini memuat puisi esai juara hiburan Lomba Menulis Puisi Esai 2012, karya Arief Setiawan, Arif Fitra Kurniawan, Catur Adi Wicaksono, Hanna Fransisca, dan Jenar Aribowo. Penyair Jamal D. Rahman bertindak sebagai editor dan pemberi kata pengantar untuk antologi ini.
  6. Mawar Airmata (Penerbit: Jurnal Sajak, 2013). Antologi ini memuat puisi esai kategori puisi esai menarik Lomba Menulis Puisi Esai 2012, karya Nur Faini, Onik Sam Nurmalaya, Sahasra Sahasika, Syifa Amori, Stefanus P Elu, Yudith Rosida. Antologi ini diberi kata pengantar oleh Sunu Wasono. Penyair Jamal D. Rahman bertindak selaku editor.
  7. Penari Cinta Anak Koruptor (Penerbit: Jurnal Sajak, 2013. Antologi ini memuat puisi esai kategori puisi esai menarik Lomba Menulis Puisi Esai 2012, karya Alex R. Nainggolan, Baiq Ratna Mulyaningsih, Carolina Betty Tobing, Chairunnisa, Damhuri Muhammad, dan Huzer Apriansyah. Penyair Nenden Lilis A. menulis kata pengantar untuk antologi yang disunting oleh penyair Jamal D. Rahman ini. ar untuk buku ini.
  8. Puisi Esai: Kemungkinan Baru Puisi Indonesia (Penerbit: Jurnal Sajak, 2013). Buku ini merupakan bunga rampai yang memuat tulisan-tulisan seputar puisi esai. Penyair Acep Zamzam Noor bertindak sebagai editor dan pemberi kata pengantar untuk buku ini.

 

Selain karya-karya yang disebutkan di atas, Jurnal Sajak yang terbit setiap 3 (tiga) bulan dan diasuh oleh para penyair memuat puisi esai dan mendiskusikan isu puisi esai dalam setiap edisinya.

Gerbong penerbitan buku puisi esai ini kemudian disusul lagi oleh peluncuran lima buku puisi esai yang berisi buah karya dari 23 penyair tanah air yang tak ingin ketinggalan dalam menorehkan sumbangsihnya dalam kemunculan puisi baru. Kelima buku tersebut adalah :

  1. Moro-moro Algojo Merah Saga ditulis oleh Agus Noor, Isbedy Setiawan, Mustafa Ismail, Anisa Afzal, Chavchay Saefullah, dan Zawawi Imron. Buku kedua berjudul 
  2. Sungai Isak Perih Menyemak ditulis oleh Ahmadun Yosi Herfanda, Anwar Putra Bayu, D. Kemalawati, Handry TM, Mezra E. Pellondou, dan Salman Yoga S.  
  3. Testamen di Bait Sejarah ditulis oleh Rama Prabu.
  4. Serat Kembang Raya ditulis oleh Fatin Hamama, Sujiwo Tejo, Akidah Gauzillah, Anis Sholeh Ba’asyin dan Dianing Widya.
  5. Jula Juli Asam Jakarta ditulis oleh Remmy Novaris, Sihar Ramses Simatupang, Kurnia Effendi, Bambang Widiatmoko dan Nia Samsihono.

Kelima buku puisi esai yang memuat 23 karya penyair Nusantara ini diluncurkan pada 19 Maret 2014 di Taman Ismail Marzuki dan dikemas secara meriah dan sukses dalam pagelaran wayang seniman Sujiwo Tedjo.

Magnet daya tarik buku antologi puisi esai ‘Atas Nama Cinta’ karya Denny JA juga menarik kaum intelektual dan penyair muda Novrianto Kahar, Anick HT, dan Jojo Rahardjo yang pada akhir 2013 hingga medio 2014 juga mengangkat isu diskiriminasi ke dalam puisi esai. Buku itu masing-masing berjudul ‘Imaji Cinta Halima’; ‘Kubur Kami Hidup-hidup’ ; dan ‘Sanih Kamu Tidak Perawan Lagi’.

Dalam ‘Imaji Cinta Halima’, Novrianti Kahar menuangkan keprihatinannya akan diskriminasi terhadap kaum perempuan yang masih kental terjadi dalam masyarakat Indonesia dan dunia hingga hari ini, khususnya dalam masyarakat berkultur Islam. Buku yang diluncurkan di Pisa Café, Mahakam, Jakarta, 11 November 2013 ini berlangsung meriah dan sukses dengan dihadiri oleh Denny JA selaku pencetus puisi esai, para budayawan dan seniman seperti Zen Hae, Remy Silado, Sacha Stevenson seorang youtuber dan satiris asal Kanada yang bertutur tentang pilihan hidupnya. Tak hanya itu, hadir pula Lurah Susan Jasmine yang kontroversial karena disrkriminasi agama dari warganya yang turut memberi sambutan dan membacakan sebuah puisi karya Novrianto Kahar. Acara ini semakin ‘hidup’ dengan musikalisasi puisi yang dibawakan oleh sang penulis dan penyair muda Monica Anggie, diiringi musik blues Kate Grealy, gitaris perempuan asal Australia.

Peluncuran buku ‘Kubur Kami Hidup-hidup’ pun tak kalah meraih sukses dan meriah. Anick HT yang mengurai derita kaum minoritas agama di Indonesia termasuk pengungsi kekerasan terhadap Ahmadiyah, menyelenggarakan peluncuran bukunya di Pisa Café Mahakam, 17 Februari 2014, dihadiri Denny JA, Ulil Abshar, Abdul Moqsith Ghazali, Todung Mulya Lubis, Zafrullah Ahmad (jubir Ahmadiyah Indonesia).

Sementara Jojo Rahardjo baru saja menerbitkan buku ‘Sanih, Kamu Tidak Perawan Lagi’ yang berkisah tentang diskriminasi gender yang dialami perempuan yang hidup dalam budaya patriarkis.

 

Lomba Review dan Menulis Puisi Esai

Sejak awal Denny JA, yang menciptakan babak baru dalam sejarah puisi Indonesia, menggagas puisi esai bukan hanya sebagai kemungkinan baru perpuisian tanah air melainkan juga sebagai alat perjuangannya menggugah kesadaran dan membuka mata seluruh elemen bangsa akan pentingnya penghapusan diskriminasi dan intoleransi. Melalui puisi esai, Denny JA ‘berbicara’ kepada para pembacanya tentang bahaya diskriminasi dan intoleransi sebagai praktik yang merugikan dan mengancam keutuhan bangsa dan negara. Bukan hanya isu diskriminasi dan intoleransi, pada akhirnya seluruh masalah sosial yang selama ini mengendap dan terlewati begitu saja laksana angin lalu, diangkat dan dikupas secara mendalam hingga menyentuh alam kesadaran.

Dalam rangka itulah, puisi esai perlu ditumbuh-kembangkan, dimekarkan ke dalam sanubari setiap manusia Indonesia. Oleh karena itu, Denny JA pun menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti lomba review dan lomba menulis puisi esai, dengan harapan publik umum maupun publik sastra menjadi kenal dan dekat dengan bentuk baru perjuangan sosial budaya ini.

Sejak diperkenalkannya puisi esai pada tahun 2012, Denny JA telah menyelenggarakan Lomba Review Buku Puisi Esai ‘Atas Nama Cinta’ karya Denny JA yang merupakan ‘ibu’ dari karya esai yang diterbitkan sesudahnya. Lomba yang ditutup pada 30 Mei 2012 ini berhadiah total 100 juta rupiah: sebuah penghargaan fantastis yang diberikan Denny JA kepada pecinta puisi/ sastra di Indonesia dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah lomba sastra tanah air. Selain itu, Lomba Menulis Puisi Esai ‘Mesalah Sosial’ juga diadakan dan ditutup pada 28 Oktober 2013 dengan tema hadiah untuk juara pertama sebesar 12.5 juta rupiah, juara kedua 10 juta rupiah, pemenang ketiga 7.5 juta rupiah; lagi-lagi sebuah penghargaan luar biasa bagi penulis puisi.

 

Denny JA sebagai Satu dari 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh

Pada Januari 2014, catatan sejarah sastra Indonesia diperkaya dengan terbitnya sebuah buku berjudul 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang disusun oleh Tim 8.

Tim 8 sendiri adalah para sastrawan dan kritikus sastra terkemuka tanah air yang ingin mencari ketokohan dalam dunia sastra. Maka tim yang terdiri dari Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, Maman S. Mahayana, Acep Zamzam Noor, Nenden Lilis Aisyah, Berthold Damshauser, Joni Ariadinata,dan Ahmad Gaus, ini segera merumuskan dan menimbang sosok-sosok yang memiliki kriteria : orang yang melalui gagasannya, kiprahnya, tindakannya, memberikan pengaruh dan dampak cukup luas khususnya pada dinamika kehidupan sastra, dan umumnya pada dinamika kehidupan intelektual, sosial, politik, dan kebudayaan Indonesia yang lebih luas.

Menurut Tim 8, Denny JA masuk ke dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia karena Denny JA adalah sosok yang paling fenomenal saat ini dengan puisi esai-nya. Denny JA adalah wakil kontemporer dari dinamika sastra dalam 3 tahun terakhir. Puisinya paling banyak dibaca, dimana hanya satu tahun setelah karyanya ‘Atas Nama Cinta’ dipublikasikan di web(2012), puisi itu dibaca hampir 8 jut a orang dengan ribuan respon. Selain itu, Denny JA juga menempati posisi pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau bahkan penentang, yang kemudian menjadi konvensi, fenomena dan paradigma baru dalam kesusastraan Indonesia.

Menanggapi penghargaan yang diberikan kepadanya, Denny JA dengan rendah hati mengatakan bahwa dirinya berterima kasih kepada tim 8 meski apa yang dilakukan bukan karena ia berpretensi menjadi penyair melainkan karena ingin menemukan medium yang tepat untuk menuangkan kegelisahan sosial dan komitmen kerja membangun bangsa indonesia tanpa diskriminasi.

(PELUNCURAN BUKU 33 TOKOH SASTRA : Kepala Pelaksana Pusat Dokumentasi Sastra HB Yassin, Aryany Isna Murti (kanan) menyerahkan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh kepada satu di antara tokoh yang dituliskan dalam buku tersebut, Denny JA (kiri), dalam acara peluncuran buku tersebut di Jakarta, Jumat (3/1/2014). Buku karya Jamal D Rahman dan kawan-kawan tersebut mengupas tokoh sastra di Indonesia dari beberapa generasi satrawan seperti Marah Roesli, Buya Hamka, Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar sampai generasi Rendra, Taufik Ismail, Putu Wiajay, Ayu Utami, dan lain-lain)

 

Rekor MURI

Kiprah Denny JA yang massif di bidang sastra dengan mempelopori dan menumbuh-kembangkan puisi esai sebagai genre baru puisi Indonesia, serta pengaruhnya yang luas dengan bermunculannya 16 buku puisi esai dari penyair lain hanya dalam waktu dua tahun setelah buku Atas Nama Cinta‘ karya Denny JA diterbitkan, tak ayal lagi membuahkan penghargaan yang tinggi bagi Denny JA.

Selain dinobatkan sebagai salah satu dari 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh, Buku Puisi Esai ‘Atas Nama Cinta’ karya Denny JA juga mendapatkan penghargaan MURI untuk rekor Buku Yang Diekspresikan Kembali Ke dalam Medium Seni Terbanyak.

 

Democracy Award

Upaya Denny JA menyampaikan dan menyebarluaskan pesan antidiksriminasi dan intoleransi melalui karya-karya budaya juga mendatangkan penghargaan Democracy Award (20/3/2013) dari instisusi yang bergerak di bidang pemberitaan nasional, Rakyat Merdeka OnLine (RMOL. Institusi ini memberikan Democracy Award kepada tokoh-tokoh yang dianggap berperan besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan Denny JA, yang memiliki prestasi dan dedikasi baik di dunia politik dan sastra, termasuk di dalamnya.  

Karya lengkap puisi esai

1.   Mereka Yang Takluk di Hadapan Korupsi (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2014)

2.   Sanih, Kamu Tidak Perawan (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2014)

3.   Tanjung Mata Bulan (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2014)

4.   Rantau Cinta Rantau Sejarah (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2014)

5.   Kisah Tak Wangi Belahan Jiwaku (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2014)

6.   Lumpur - Lumpur Sejarah (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2014)

7.   Konspirasi Suci (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2014)

8.   Jula Juli Asam Jakarta (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2014)

9.   Moro-Moro Algojo Merah Saga (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2014)

10. Testamen di Bait Sejarah (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2014)

11. Sungai Isak Perih Menyemak (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2014)

12. Serat Kembang Raya (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2014)

13. Kuburlah Kami Hidup-Hidupi  (Penerbit : ICRP, Tahun : 2014)

14. Imaji Cinta Halima (Penerbit : Rene book, Tahun : 2013)

15. Manusia Gerobak (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2013)

16. Kutunggu Kamu Di Cisadane (Penerbit : Komodo Books, Tahun : 2012)

17. Pidato Kebudayaan: Politik Demokrasi tanpa Budaya Demokrasi (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2013)

18. Dari Rangin Ke Telepon (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2013)

19. Mawar Airmata (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2013)

20. Mata Luka Sengkon Karta (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2013)

21. Puisi Esai: Kemungkinan Baru Indonesia (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2013)

22. Dari Singkawang Ke Sampit (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2013)

23. Indonesia Tanpa Diskriminasi (Penerbit : Jurnal Sajak, Tahun : 2013)

24. PENDIDIKAN KARAKTER: Pendidikan Menghidupkan Nilai untuk Pesantren, Madarasah dan Sekolah (Penerbit : Paramadina, Tahun :           2014)

 


Bagi artikel ini

Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co