free page hit counter

10 Tahun (2004-2014) Sukses LSI Dikancah Politik Nasional

Genap sepuluh tahun sudah Lingkaran Survei Indonesia (2004-2014) berkiprah di kancah politik nasional dan selama itu pula banyak capaian besar berhasil diraihnya. Sejak tahun 2004/2005, Lingkaran Survei Indonesia telah mengerjakan lebih dari 1000 survei perilaku pemilih di seluruh Indonesia, dan memenangkan klien dalam pertarungan Pileg, Pilpres, ataupun Pilkada. Pada pilpres 2004, Denny JA, pendiri Lingkaran Survei Indonesia, berhasil membantu memenangkan capres-cawapres SBY-JK. Pada tahun 2005, Lingkaran Survei Indonesia sukses membantu kemenangan klien pertamanya yaitu Ismeth Abdullah sebagai Gubernur Kepulauan Riau. Sampai dengan tahun 2013, Lingkaran Survei Indonesia total berhasil membantu memenangkan 26 gubernur dan 65 walikota/ bupati di seluruh Indonesia –suatu angka fantastis yang menunjukkan keberhasilan Lingkaran Survei Indonesia dalam memenangkan hampir seluruh klien yang dibantunya.

Dalam kompetisi Pilpres 2009, Lingkaran Survei Indonesia, melalui gagasan Denny JA, sukses memasarkan “Gerakan Pilpres Satu Putaran Saja.” Gerakan ini tidak hanya berhasil membawa pasangan SBY-Boediono ke kursi RI-1 dan RI-2, tetapi juga membuktikan ketepatan prediksi Lingkaran Survei Indonesia mengenai pemenang Pilpres 2009. Tak kalah penting untuk dicatat, prediksi tersebut dilakukan satu bulan sebelum pemilihan. Dan ditahun 2014, LSI menyempurnakan prestasinya dengan menciptakan Hattrick setelah berhasil membawa Jokowi menjadi presiden RI yang ketujuh setelah mengalahkan Prabowo Subianto. Kemenangan ini teramat istimewa bagi LSI, karena berhasil mencatatkan 3 rekor sukses sekaligus. Ketiga sukses tersebut adalah sukses survei, sukses exit poll & quick count, dan sukses konsultan politik.

Berkat survei yang akurat, dan pemenangan pilpres, pileg, serta pilkada terbanyak di antara konsultan politik manapun, Lingkaran Survei Indonesia menerima banyak penghargaan dari MURI. Berkat prestasi itu pula, Denny JA, sosok yang berada di balik kesuksesan Lingkaran Survei Indonesia, mendapat julukan “King Maker”. Tak hanya itu, penghargaan lain juga terus diberikan sebagai apresiasi tertinggi publik atas kerja dan gagasan luar biasa yang dibuat Denny JA dan Lingkaran Survei Indonesia, seperti misalnya: untuk akun twiter @DennyJA_WORLD, akun pertama yang membawa pemilu ke era sosial media; untuk hasil survei reguler yang berturut-turut menjadi headline di suratkabar nasional; untuk akurasi dan kecepatan quick count; untuk keberhasilan memenangkan Judicial Review di MK pada tahun 2008 mengenai penyelenggaraan quick count, dan sejumlah prestasi lainnya.

Dengan berbagai prestasinya sepanjang sepuluh tahun itu, tak heran jika Lingkaran Survei Indonesia dianggap sebagai lembaga survei profesional pertama yang berkontribusi dalam mengembangkan demokrasi di tanah air melalui riset (survei). Karena kontribusinya itu, Lingkaran Survei Indonesia dengan segera menjadi pusat perhatian berbagai pelaku politik di Indonesia. Kemunculan Lingkaran Survei Indonesia pun disebut-sebut fenomenal karena lembaga ini juga bertindak sebagai konsultan politik.

Meski masuknya para profesional ke dalam kancah politik Indonesia telah dimulai sejak Pemilu tahun 2004, namun mereka yang umumnya berasal dari biro iklan komersial itu, seperti hotline periklanan dan materi periklanan, hanya bisa membantu partai atau kandidat sebatas dalam merancang iklan dan pesan kampanye. Di bawah kepemimpinan Denny JA, Lingkaran Survei Indonesia yang didirikan pada tahun 2005 justru memulai kerjanya dengan jangkauan yang lebih luas. Dengan spesialisasi pada survei dan konsultasi politik, Lingkaran Survei Indonesia menawarkan jasa program pemenangan yang tidak hanya menawarkan iklan dan pengemasan kandidat (citra), melainkan juga semua jenis pekerjaan yang dibutuhkan untuk kemenangan kandidat –mulai dari penyusunan strategi, visi-misi, pelaksanaan kampanye dari rumah ke rumah, kampanye media, hingga penyediaan saksi saat pemilihan.

Dengan program pemenangan yang komprehensif itu, Lingkaran Survei Indonesia mulai meyakinkan para kliennya yang berasal dari partai politik, kandidat presiden, kandidat kepala daerah dan elit politik lain, tentang pentingnya lembaga survei dan riset sosial sebagai instrumen vital pertarungan politik. Melalui survei, baik posisi, kekuatan, dan kelemahan partai atau kandidat bisa diketahui sedini mungkin. Dengan demikian, strategi politik bisa dilakukan secara efektif dan efisien karena memperhatikan data hasil survei mengenai apa yang dibutuhkan oleh pemilih. Upaya Lingkaran Survei Indonesia dalam meyakinkan para kliennya terbilang sangat berhasil. Hal ini merupakan sebuah pencapaian dalam kampanye modern yang mengacu pada survei opini publik dan marketing politik.

Keberhasilan Lingkaran Survei Indonesia pun kemudian memicu lahirnya lembaga-lembaga serupa. Hal itu tentunya tidak lepas dari perubahan politik di Indonesia yang memberi jalan bagi menjamurnya lembaga survei dan konsultan politik. Sejak Soeharto lengser pada 1998, Indonesia membuka kran politik-nya yang tertutup. Pemilu dilaksanakan secara luber dan jurdil, baik pada tahun 1999, 2004, 2009, dan 2014. Pejabat-pejabat publik pun dipilih secara langsung oleh rakyat –mulai dari presiden, anggota DPR, DPRD, DPD, walikota, bupati hingga gubernur. Untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), terdapat lebih dari 500 pemilihan yang melibatkan rakyat secara langsung. Untuk pemilu legislatif (DPR Pusat, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota) total memperebutkan sekitar 19 ribu kursi. Era ini melahirkan kebutuhan partai dan kandidat akan tenaga profesional yang dapat membantu mereka memenangkan pemilihan.

Dalam sistem politik yang demokratis seperti ini, Denny JA, selaku pendiri dan pimpinan Lingkaran Survei Indonesia, tampak sangat jeli dalam melihat peluang pasar politik yang besar ini. Dengan menggunakan metode survei, Lingkaran Survei Indonesia bisa memberikan gambaran secara tepat dan ilmiah mengenai informasi yang dibutuhkan klien dalam rangka memenangkan pemilihan. Dengan metode survei pula, Lingkaran Survei Indonesia bisa memperkenalkan strategi dalam mendekati pemilih secara rasional: mulai dari pemetaan pemilih, pengenalan kekuatan partai dan kandidat, pemilihan pesan, pembuatan iklan dan kampanye, Get Out the Vote (GOTV), hingga pelatihan saksi. Dengan cara-cara tersebut, klien bisa mengetahui posisinya secara akurat. Biaya pemilihan juga bisa ditekan secara signifikan, karena pendekatan kepada pemilih dilakukan dengan target yang jelas.

Tak heran jika Lingkaran Survei Indonesia kemudian dinilai sebagai pelopor dan konsultan politik terdepan yang diterima dengan baik oleh partai, kandidat dan komunitas politik di Indonesia. Kiprah Lingkaran Survei Indonesia sebagai pelopor konsultan politik pun telah diakui dan banyak diliput oleh media massa di tanah air. Yang luar biasa lagi, kepeloporan Lingkaran Survei Indonesia bahkan diakui pula oleh negara lain. Lingkaran Survei Indonesia kerap menjadi bahan studi dan tempat studi banding politisi luar negeri. Pada akhir tahun 2010, Sejumlah delegasi Kongres Amerika Serikat (AS) yang dipimpin Zack Hudgins mengadakan audiensi dengan Lingkaran Survei Indonesia. Kedatangan delegasi kongres Amerika yang berjumlah lima orang tersebut di kantor Lingkaran Survei Indonesia merupakan bagian dari rangkaian kegiatannya di Indonesia untuk mengunjungi sejumlah lembaga seperti DPR, partai politik dan elit politik berpengaruh di Indonesia. Mengenai pilihannya untuk berkunjung ke Lingkaran Survei Indonesia, delegasi kongres tersebut menyatakan bahwa Lingkaran Survei Indonesia telah dianggap sebagai representasi konsultan politik yang memiliki pengaruh dalam politik nasional di Indonesia, terutama karena perannya sebagai pelopor berdiri dan berkembangnya konsultan politik di tanah air.

 

Denny JA di Balik Kesuksesan LSI

Di balik kesuksesan Lingkaran Survei Indonesia, terdapat satu nama yang menjadi mastermind, yaitu Denny Januar Ali atau lebih terkenal dengan sebutan Denny JA.

Denny JA yang lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 4 Januari 1963 ini, merupakan seorang intelektual-pengusaha terkemuka. Ia menyelesaikan pendidikan strata satu di (Universitas Indonesia) Jurusan Hukum pada tahun 1989, gelar Master of Public Administration (MPA) dari (Universitas Pittsburgh) Amerika Serikat pada tahun 1994, dan gelar Ph.D di bidang Comparative Politics and Business History diperolehnya dari Ohio State University (OSU) pada tahun 2001.

Pasca lulus dari OSU, Denny JA sempat mendirikan dan menjadi direktur Lembaga Survei Indonesia. Melalui lembaga ini, Denny JA membantu tim pemenangan pemilihan presiden untuk SBY tahun 2004 dan berhasil mengantarkannya ke kursi presiden. Berbekal pengalaman di tahun 2004 ini, Denny JA kemudian di tahun 2005 mendirikan Lingkaran Survei Indonesia dengan fokus pada survei politik dan konsultan politik bagi partai dan kandidat. Melalui Lingkaran Survei Indonesia, Denny JA semakin mempopulerkan penggunaan survei opini publik sebagai instrumen politik dan membuat survei menjadi bagian integral dari proses politik, terutama proses pemilu.

Selain mendirikan dan memimpin Lingkaran Survei Indonesia, Denny JA juga diangkat sebagai Ketua Umum AROPI (Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia) untuk periode 2007-2010, dan 2010-2013. Pada level dunia, Denny JA juga tercatat sebagai anggota WAPOR (World Association for Public Opinion Research) untuk periode 2007 sampai sekarang. Melalui kegiatan aktif riset opini publik yang sangat ia tekuni itulah, Denny JA acapkali membuat ide, tradisi baru dan kepeloporan.

Sebagai seorang intelektual, Denny JA sangat berhasil dalam mempopulerkan tradisi ilmu sosial kuantitatif yang mampu memprediksi kemenangan calon pemimpin dalam pilkada atau pemilu sejak tahun 2004. Beberapa kali ia bahkan mengiklankan prediksinya di media nasional sekitar 10 hari sampai sebulan sebelum pemilu/pilkada berlangsung.

Dalam kompetisi pilpres misalnya, nama Denny JA menjadi perhatian publik ketika ia memasarkan “Gerakan Pilpres Satu Putaran Saja.” Ide ini dimunculkan Denny JA saat menangani pasangan SBY-Boediono pada Pilpres 2009. Dengan merujuk pada hasil survei Lingkaran Survei Indonesia yang menempatkan pasangan SBY-Boediono pada peringkat pertama, Denny JA lalu mengiklankan secara masif ide “Pilpres Satu Putaran”, baik di media cetak, elektronik, ataupun TV nasional. Dalam iklan tersebut ditegaskan, Calon Presiden SBY akan menang satu putaran saja. Penting untuk dicatat, Denny JA memprediksi pemenang pemilu presiden 2009 sebulan sebelumnya. Prediksi tersebut menjadi wacana paling hangat dalam pemilu presiden 2009, bahkan menjadi bahan debat resmi calon presiden yang disiarkan aneka TV nasional. Gerakan Pilpres Satu Putaran Denny JA ini, berhasil mengantar SBY-Boediono menang telak dengan raihan suara 60,8 persen, mengalahkan pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan Muhammad Jusuf Kalla-Wiranto. Berkat prediksinya yang akurat inilah, Denny JA dianugerahi News Maker of Election 2009 oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Dua kali sukses menempatkan kliennya di kursi presiden (2004 & 2009), serta keberhasilannya memenangkan lebih dari 60% pemilihan gubernur (26 gubernur dari 33 propinsi di seluruh Indonesia) dan 65 bupati/walikota, membuat Denny JA diberi label ‘King Maker’.

Tak sampai disitu, akun twiternya @DennyJA_WORLD yang memiliki lebih dari satu juta followers – angka tertinggi di Indonesia untuk intelektual/aktivis/politisi di tahun 2012 -- mendapatkan rekor MURI dan diakui sebagai akun pertama yang membawa pemilu ke era sosial media. Melalui akun ini publik dapat mengikuti quick count (QC) Lingkaran Survei Indonesia dari mobile-phone dengan tweet hasil QC yang diperbarui setiap 10 menit. Dan hanya 4 jam setelah TPS ditutup, publik sudah bisa mengetahui siapa pemenang Pemilu. Terobosan baru dalam dunia politik dan sosial media ini, dilakukan pertama kali dalam Pemilihan Gubernur Aceh tahun 2012 dan terus berlanjut hingga Pemilu Legislatif 2014.

 

10 Tahun Sukses LSI

Tak dipungkiri bahwa Lingkaran Survei Indonesia telah mencatatkan sukses yang luar biasa selama sepuluh tahun menjalankan dua kegiatan utamanya, yaitu survei opini publik dan konsultasi politik. Selama itu pula, Lingkaran Survei Indonesia berhasil mempertahankan akurasi hasil survei pra pemilu dan hasil quick count ketika pelaksanaan pemilu dilakukan.

Melalui survei pra pemilu misalnya, Lingkaran Survei Indonesia bisa memprediksi dengan tepat siapa yang akan menjadi partai pemenang pemilu, presiden terpilih, ataupun kepala daerah. Untuk quick count, Lingkaran Survei Indonesia juga berperan dalam membantu masyarakat menerima dan mengetahui informasi perolehan jumlah suara lebih cepat dari hasil perhitungan resmi yang dikeluarkan oleh KPU tanpa perlu khawatir mengenai akurasinya. Melalui perhitungan cepat, pemilih sudah bisa mengetahui siapa pemenang pemilu, paling tidak 4 jam setelah perhitungan suara.

Kesuksesan itu diawali ketika Denny JA berhasil memenangkan pasangan SBY-JK pada pilpres tahun 2004. Pada waktu itu, Denny JA mengatakan kepada detik.com (11/5/2004), SBY akan memenangi Pemilu Presiden, 5 Juli 2004. Prediksi itu didasari pada hasil survei yang dilakukan LSI pada 9-16 April 2004, tiga bulan sebelum hari pencoblosan dilakukan. Hasil survei LSI itu menempatkan SBY pada peringkat pertama dengan meraih suara 40 persen. Sementara pesaingnya, Megawati, berada diperingkat kedua dengan raihan suara 15 persen. Prediksi survei LSI itu terbukti akurat mengingat hasil akhir KPU menunjukkan SBY berada diperingkat pertama dan Megawati berada di peringkat kedua. Sebelumnya, Denny JA melalui hasil survei LSI juga berhasil memprediksi urutan lima besar parpol pemenang Pemilu Legislatif pada 5 April 2004: Partai Golkar, PDIP, PKB, PPP, dan Partai Demokrat. Hasil ini persis sama dengan hasil penghitungan akhir dari KPU.

Pada Pemilu 2009, Lingkaran Survei Indonesia juga tercatat sebagai lembaga survei paling akurat dalam perhitungan cepat Pemilu legislatif yang tayang di TV nasional untuk urutan No. 1-9. Saat itu, berdasarkan perhitungan cepat Lingkaran Survei Indonesia, Partai Demokrat berada di urutan pertama (20,30%), disusul Golkar (14,80%), PDIP (14,10%), PKS (7,80%), PAN (6,10%), PPP (5,30%), PKB (5,20%), Gerindra (4,20%), dan Hanura (3,50%). Urutan posisi partai pemenang Pemilu ini sesuai dengan hasil yang dikeluarkan oleh KPU secara resmi satu bulan setelah hasil perhitungan cepat tayang di TV nasional pada hari Pemilu. Akurasi ini tidak dimiliki oleh lembaga-lembaga survei lainnya. Selain mengumumkan urutan posisi partai pemenang Pemilu secara akurat, Lingkaran Survei Indonesia tercatat sebagai satu-satunya lembaga survei yang mengumumkan hasil perhitungan cepat sebelum pukul 19.00 WIB pada hari Pemilu. Lingkaran Survei Indonesia juga tercatat sebagai lembaga survei yang mengumumkan hasil perhitungan cepat dengan selisih absolut rata-rata paling kecil di antara lembaga-lembaga survei lainnya dibandingkan dengan hasil perhitungan KPU, yaitu 0,217%.

Prediksi survei pra pemilu yang akurat juga berhasil dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia pada Pilpres 8 Juli 2009. Lima hari sebelum Pilpres dilakukan (3 Juli 2009), Lingkaran Survei Indonesia mengiklankan setengah halaman prediksi surveinya di Kompas pada halaman 3. Dalam prediksinya itu, Lingkaran Survei Indonesia memaparkan urutan peringkat pemenang Pilpres. Pasangan SBY-Boediono ditempatkan pada peringkat pertama dengan prosentase suara lebih dari 50%. Sementara pasangan Megawati-Prabowo berada diperingkat kedua dengan prosentase suara kurang dari 30%. Hasil prediksi survei Lingkaran Survei Indonesia ini persis sama dengan hasil perhitungan akhir KPU dimana pasangan SBY-Boediono meraih suara 60,80% suara dan Pasangan Megawati-Prabowo memperoleh suara 26,79%.

Pada 2014, Lingkaran Survei Indonesia kembali secara akurat memprediksi hasil Pemilu legislatif. Hal ini tampak pada iklan empat prediksi Lingkaran Survei Indonesia yang ditayangkan di Harian Rakyat Merdeka pada hari pemilihan, 9 April 2014, halaman 12. Pada iklan tersebut, Lingkaran Survei Indonesia menyebutkan ada dua partai yang tidak lolos parliamentary threshold (di bawah 3,5%), yaitu PBB dan PKPI. Lingkaran Survei Indonesia juga menyebut enam partai papan bawah (3,5-8%), yaitu PKB, PKS, Hanura, PPP, Nasdem dan PAN. Lingkaran Survei Indonesia lalu menyebut dua partai papan tengah (8-16%), yaitu Gerindra dan Partai Demokrat. Terakhir, Lingkaran Survei Indonesia memprediksi hanya dua partai di papan atas (di atas 16%, dan potensial di atas 20%), yaitu PDIP dan Golkar. Dalam hasil perhitungan cepat, prediksi Lingkaran Survei Indonesia ini tampak sangat akurat.

Selain dalam pileg dan pilpres, rekam jejak keberhasilan Lingkaran Survei Indonesia di kancah politik nasional dapat juga ditelusuri dari banyaknya penghargaan yang diterima, baik oleh Lingkaran Survei Indonesia ataupun Denny JA selaku pendiri dan tokoh di balik kesuksesannya.

Jika Denny JA, diantaranya, dijuluki King Maker, dianugerahi News Maker of Election 2009, diberi Rekor MURI sebagai pemimpin riset pilkada terbanyak dalam waktu satu tahun (Maret 2005-Februari 2006) yaitu 214 kali riset di 14 provinsi dan 156 kabupaten/ kota, dan sebagai pemilik akun twitter pertama yang mempublikasikan Quick Count pemilu/pilkada di hari pemilu, maka Lingkaran Survei Indonesia juga mendapatkan banyak penghargaan Rekor MURI:

 

 

 

 

Rekor MURI

 

 

Rekor MURI

 

 

  1. Konsultan Politik pertama yang telah mendapatkan kontrak pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang wilayahnya pemilihnya paling banyak 9 propinsi dari 100 kabupaten.

  2. Konsultan politik pertama yang memiliki Klien di 5 Pulau Besar di Indonesia: Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

November 2005

 

 

November 2005

Rekor MURI

 

 

Rekor MURI

 

Rekor MURI

3. Lembaga Riset yang paling banyak membuat prediksi berdasarkan survei yang akurasinya 100% dalam satu bulan (Lima prediksi yang akurat di bulan Maret 2006).

4. Quick Count terbanyak dalam satu bulan (5 kali sebulan, Maret 2006) yang hasil QC-nya paling presisi dengan hasil KPUD)

5. Konsultan pertama yang memenangkan kandidat terbanyak dalam satu bulan (lima kemenangan kendidat kepala daerah pada Maret 2006). Abdullah Hich (Bupati Tanjung Jabung Timur, Jambi), Barnabas Suebu (Gubernur Papua), Daeng Rusnadi (Bupati Natuna, Kepri), Marfina Moha Siahaan (Bupati Bolmong), Imdaad Hamid (Walikota Balikpapan).

Mei 2006

 

 

Mei 2006

 

Mei 2006

Rekor MURI

 

 

Rekor MURI

6. Konsultan pertama yang membantu memenangkan Pemilihan Kepala daerah langsung dan sekaligus di tiga kabupaten di Anangro Aceh Darussalam tahun 2005.

7. Lembaga pertama yang membantu kemenangan Gubernur Wanita (ratu Atut Chosiyah) yang langsung dipilih oleh rakyat.

April 2007

 

 

April 2007

Rekor MURI

 

 

Rekor MURI

 

Rekor MURI

  1. Lembaga yang mampu memprediksi hasil pilkada melalui iklan dengan hasil benar terbanyak, 13 kali dalam satu musim pilkada.

  2. Quick Count terbanyak dalam satu musim pilkada (64 kali, 2005-2008)

  3. Lembaga yang mampu memenangkan Pemilihan Gubernur Terbanyak, 14 Gubernur dalam satu musim pilkada.

Desember 2008

 

 

Desember 2008

 

Desember 2008

Rekor MURI

 

Rekor MURI

 

Rekor MURI

  1. Memenangkan Gubernur terbanyak (15 gubernur dari 33 propinsi yang ada di Indonesia) dalam satu musim pilkada.

  2. Pelopor Kampanye Modern yang berlandaskan survei opini publik dan marketing politik.

  3. Bersama AROPI sebagai lembaga pertama yang berhasil memperjuangkan kebebasan akademis di Mahkamah Konstitusi

Februari 2009

 

 

 

Februari 2009

 

Maret 2009

Rekor MURI

 

Rekor MURI

Rekor MURI

 

Rekor MURI

 

Rekor MURI

 

Rekor MURI

  1. Quick Count akurat yang diumumkan tercepat, 1 jam setelah TPS ditutup Pilpres 2009 di TV One

  2. Quick Count akurat pertama secara berturut-turut 100 kali

  3. Quick Count dengan selisih terkecil dibandingkan hasil KPUD yaitu 0,00% (Pilkada Sumbawa, November 2010).

  4. Survei prediksi pertama yang akurat mengenai pilkada yang diiklankan (PilGub Kepri 2005)

  5. Survei prediksi Pemilu Legislatif pertama yang akurat yang diiklankan (2009)

  6. Survei prediksi Pemilu Presiden pertama yang akurat yang diiklankan (2009)

November 2010

 

November 2010

November 2010

 

November 2010

 

November 2010

 

November 2010

Rekor MURI

  1. Hasil riset 10 kali berturut-turut sebagai Headline Suratkabar Nasional.

6 Mei 2013

 

Sebagaimana terdapat dalam tabel, prestasi Lingkaran Survei Indonesia tidak hanya sebagai konsultan politik, tetapi juga sebagai pembuat opini publik. Hasil survei dan pendapat Lingkaran Survei Indonesia banyak menghiasi pemberitaan media nasional, dan menjadi referensi penting bagi elit politik, partai politik dan pembuat kebijakan. Sejak berdiri tahun 2005, setiap tiga bulan sekali, Lingkaran Survei Indonesia melakukan survei nasional dengan menanyakan kepada publik pendapat mereka atas isu dan kebijakan publik. Mulai dari isu aktual hingga isu-isu penting seperti demokrasi, Islam, toleransi, kinerja lembaga publik dan sebagainya. Hasil-hasil survei Lingkaran Survei Indonesia tersebut dipublikasikan dalam sebuah konferensi pers yang dilakukan secara regular dan mendapat perhatian media dengan menempatkannya sebagai berita penting serta porsi liputan yang luas. Karenanya, hasil survei Lingkaran Survei Indonesia kerap menjadi bahan utama perdebatan dan diskusi dalam acara talkshow.

Lingkaran Survei Indonesia juga melakukan peran penting dalam memperjuangkan kebebasan lembaga survei. Pada tahun 2009, bersama dengan AROPI (Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia), Lingkaran Survei Indonesia memprakarsai pengajuan Judicial Review (Tinjauan Yuridis) kepada Mahkamah Konstitusi atas Undang-undang No 10 tahun 2008, Pasal 245 ayat 2, 3 dan 5, serta pasal yang berkaitan (pasal 282 dan pasal 307), yang dinilai mengancam keberadaan lembaga survei. Tinjauan Yuridis ini berhasil menemui kata sepakat dimana Mahkamah Konstitusi akhirnya memperbolehkan Perhitungan Cepat (Quick Count) dilakukan pada hari Pemilu. Menanggapi keberhasilan ini, Denny JA selaku Ketua Umum AROPI dan Pimpinan Lingkaran Survei Indonesia dengan rendah hati menyatakan bahwa kemenangan Tinjauan Yuridis atas UU No 10 tahun 2008 ini merupakan kemenangan kebebasan akademis, bukan kemenangan lembaga survei. Kemenangan tersebut menunjukkan bahwa Lingkaran Survei Indonesia tidak hanya piawai membuat kepeloporan dalam hal gagasan, tetapi juga telah banyak membantu proses pengembangan demokrasi di tanah air.

 

Puncak Prestasi: Hattrick LSI

Di tahun 2014 ini, Denny JA melalui LSI-nya akhirnya berhasil menciptakan prestasi puncak dalam kompetisi Pilpres. Denny JA dan LSI yang didirikannya telah tiga kali berturut-turut memenangkan calon presiden dalam pemilihan presiden secara langsung di Indonesia. Hasil rekapitulasi KPU menetapkan Jokowi-JK memperoleh dukungan 53,15 persen dan pasangan Prabowo-Hatta memperoleh dukungan 46,85 persen. Pilpres kali ini, bagi LSI adalah pilpres yang istimewa. LSI mencatatkan 3 rekor sukses sekaligus. Ketiga sukses tersebut adalah sukses survei, sukses exit poll & quick count, dan sukses konsultan politik.

Kesukses pertama yakni sukses survei. Selama masa pileg sampai pilpres, LSI adalah lembaga yang paling banyak melakukan survei nasional dan paling banyak pula melakukan konferensi pers. Terhitung ada 5 kali survei nasional yang dilaksanakan LSI sejak April hingga Juli 2014. Dari 5 kali survei nasional tersebut, tercatat sebanyak 7 kali LSI melakukan rilis survei. Akurasi survei LSI pun bisa diukur dari hasil pilpres 2014.

Dua hari jelang pilpres, kesimpulan survei LSI menyatakan bahwa elektabilitas Jokowi-JK mengalami rebound dan menjauh dari elektabilitas Prabowo-Hatta. Pada H-2 tersebut elektabilitas Jokowi-JK sebesar 47.80 persen dan elektabilitas Prabowo-Hatta 44.20 persen dengan swing voters masih sebesar 8.0 persen. Selisih kedua pasangan capres sebesar 3,60 persen. Hasil survei tersebut terbukti. Rekapitulasi suara oleh KPU menunjukan bahwa Jokowi-JK adalah pemenang pilpres 2014.

Kesuksesan kedua adalah sukses exit poll dan quick count. Pada pukul 14.00 WIB setelah pencoblosan 9 Juli, LSI merupakan lembaga survei pertama yang mengumumkan presiden-wakil presiden terpilih versi exit poll dan menjadi judul di media massa “Selamat datang presiden baru kita, Jokowi-JK versi exit poll”. Hasil exit poll menunjukan pasangan Jokowi-JK memperoleh dukungan 52 persen dan pasangan Jokowi-JK memperoleh dukungan 48 persen. Hasil exit poll ini terbukti.

Pada jam 15.30 WIB di hari pencoblosan 9 Juli, LSI pun merilis hasil quick count (hitung cepat). LSI merilis hasil hitung cepat dengan data masuk sebesar 98,05 persen. Pada posisi data masuk tersebut, elektabilitas Jokowi-JK sebesar 53,37 persen dan elektabilitas Prabowo-Hatta sebesar 46,67 persen.

Jika dibandingkan dengan hasil resmi KPU (53,15 persen vs 46,85 persen), maka simpangan absolut, antara hasil hitung cepat LSI dengan KPU hanya 0,22 persen (dibawah 1 persen). LSI tercatat sebagai salah satu dari tiga lembaga paling presisi, jika datanya dihitung dengan data masuk 98,05 persen.

Namun jika yang dibandingkan dengan hasil KPU adalah data masuk 100 persen quick count LSI. Maka LSI adalah lembaga paling presisi di antara lembaga survei lainnya. Selisih absolut antara hasil hitung cepat LSI dengan KPU hanya 0,15 persen. Data masuk 100 persen LSI, menunjukan bahwa elektabilitas Jokowi-JK sebesar 53,30 persen, sementara pasangan Prabowo-Hatta sebesar 46,70 persen.

Itu artinya hasil quick count dapat dijadikan rujukan dan pembanding terhadap hasil rekapitulasi yang dilakukan oleh lembaga yang berwenang, KPU. Tiga kali pemilu di Indonesia, cukup memberi bukti bahwa hasil quick count dan exit poll adalah temuan ilmiah yang bisa digunakan sebagai “alat kontrol” bagi perkembangan demokrasi di Indonesia.

Adapun kesukseskan ketiga adalah  sukses konsultan politik. Dalam pilpres 2014, Divisi Konsultan (pemenang) LSI dikontrak resmi oleh tim Kampanye Nasional Jokowi-JK untuk membantu memenangkan pasangan ini. Kontrak resmi tersebut dimulai pada tanggal 20 Juni 2014. Hanya kurang lebih 20 hari sebelum pilpres di laksanakan.

Dalam Pilpres 2014 ini, LSI secara resmi membantu kemenangan Jokowi-JK. Dengan hasil ini, LSI/Denny JA mencatatkan sukses seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo dalam sepakbola.

LSI mencatatkan hattrick, 3 (tiga) kali ikut menjadi konsultan politik yang membantu kemenangan capres dalam 3 kali pemilu di Indonesia. Sebelumnya LSI ikut membantu kemenangan SBY pada Pilpres 2004 dan Pilpres 2009.

Meski LSI terlibat dalam pemenangan atau menjadi konsultan politik salah satu capres, namun survei dan quick count LSI terbukti tetap independen dan menyajikan data apa adanya. Divisi riset dan divisi konsultan adalah dua divisi yang berbeda dan independen di LSI.

Sepuluh tahun sudah kiprah Lingkaran Survei Indonesia di kancah politik nasional. Dan selama itu pula LSI membuahkan kesuksesan yang sulit ditandingi oleh lembaga survei dan konsultan politik manapun yang ada di tanah air. Sebuah sukses yang tentunya diperoleh dengan kerja keras dan cerdas!


Bagi artikel ini

Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co