free page hit counter

Bangsa Yang Besar, Bangsa Tanpa Diskriminasi

Review Film Cinta yang Dirahasikan

Bangsa Yang Besar, Bangsa Tanpa Diskriminasi

Oleh Hartoyo*

Pemenang Hiburan Lima (iPad2)

Lomba Review 5 Film Indonesia tanpa Diskriminasi Denny JA-Hanung Bramantyo 2013

 

Ketika saya menghadiri sebuah acara yang dilaksanakan oleh aktivis perempuan di Cikini, Jakarta bertema “Re-Married”, ada hal yang menggelitik. Pokok bahasan tentang perkawinan sangat berwajah heteroseksual.  Padahal pernikahan bisa saja “bubar” dan kembali menikah karena persoalan pasangannya seorang homoseksual.  Jadi perkawinan bukan semata-mata persoalan heteroseksual saja tetapi juga menjadi persoalan kelompok homoseksual.  Ada banyak gay di Indonesia yang akhirnya memutuskan meninggalkan istri dan anaknya karena sudah berani untuk jujur pada diri sendiri, sebagai gay.

Jujur pada diri sendiri, mengakui siapa sebenarnya diri kita memang bukan hal yang muda dalam konteks Indonesia. Karena menyangkut masa depan dan lingkungan sosial yang melingkari hidup kita sebagai makhluk sosial.  Sebagai warga negara, umat beragama, anggota masyarakat di satu kelurahan  dan yang paling berat menjadi anggota keluarga inti. Apalagi untuk jujur pada diri sendiri tentang sesuatu yang paling personal, orientasi seksual, sesuatu yang sangat sulit sekali untuk dilakukan.

Pandangan publik tentang orientasi seksual manusia selalu diidentikan sebagai heteroseksual. Bahwa semua manusia sepertinya “terberi secara alami” menjadi heteroseksual. Berbagai perangkat sosial seperti agama, negara dan budaya secara sistematis menanamkan bagi individu apa yang semestinya, harus heteroseksual. Diluar itu sebagai sesuatu yang menyimpang, pendosa, penyakit sehingga layak untuk “disembuhkan” atau disingkirkan.  Ini yang dikatakan oleh Sosiolog Perancis, Emile Durkheim sebagai patologi dalam masyarakat. Sehingga patoligi itu akan mengganggu proses integrasi sosial. Dalam konteks sekarang, jika melawan sistem yang sudah ada maka pada titik ekstrim akan kehilangan hak-hak dasarnya sebagai warga negara. Maka menjadi tidak heran kelompok homoseksual yang berani terbuka akan mengalami kemiskinan yang sistematis.

Sehingga dalam situasi ini, seseorang yang berbeda orientasi seksual memilih untuk bungkam dengan identitasnya sendiri. Bahkan tidak jarang menjadi orang yang sangat munafik untuk menunjukkan kepada publik bahkan pada diri sendiri bahwa dirinya bukanlah seorang homoseksual. Akibatnya ada banyak perempuan,anak, publik dan diri sendiri harus menerima akibatnya.

Pergulatan diri seorang gay yang hidup dalam masyarakat heterosentris itulah menjadi tema sentral  dalam film “Cinta Yang Dirahasiakan” yang diangkat dari puisi-puisi Denny JA.  Cerita film berawal dari dua sahabat karib, Amir dan Bambang di bangku sekolah menengah atas menjalin kasih sejenis,  yang dianggap publik sesuatu yang tidak wajar. Bahkan diri mereka sendiri juga merasakan itu, kecuali tokoh Bambang yang lebih percaya diri mengakui sebagai homoseksual. Hubungan cinta Amir dan Bambang hanya mereka yang tahu, sembunyi dan tertutup.

Jangan ditanya kenapa mereka (Amir dan Bambang) bisa saling mencintai, cinta lahir dan muncul begitu saja kadang diri kita sendiri tidak dapat mengkontrolnya mengapa kita bisa mencintai dengan seseorang. Dengan siapa kita harus mencintai, laki-laki atau perempuan bahkan mungkin bukan dengan jenis kelamin keduanya. Transeksual-Transgender misalnya. Nah, begitu juga Amir dan Bambang saling mencintai walau publik begitu mengecam cinta mereka. Situasi hubungan yang penuh dengan ketertutupan itulah yang diangkat dalam judul film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo.

Tokoh Amir adalah seorang gay yang belum siap untuk terbuka siapa dirinya sebagai seorang gay bahkan pada ibu dan dirinya sendiri. Banyak hal yang melatarbelakangi Amir sehingga sangat sulit untuk terbuka atau “coming out” minimal kepada diri sendiri. Dari mulai pendidikan yang diajarkan oleh orang tua dirumah, pendidikan sekolah, pendidikan agama sampai hukum negara. Semuanya mengarahkan Amir untuk menjadi heteroseksual. Diluar itu haram, neraka balasannya.

Semua aspek itu yang memberikan pengaruh besar ketakutan ataupun ketidaksiapan tokoh Amir untuk mengakui dirinya sebagai seorang gay.  Bahkan untuk mengakui kepada ibunya sendiri sangat sulit sekali dia lakukan.  Karena kepatuhan dan tidak ingin meyakiti orang tua, akhirnya Amir mengikuti permintaan ibunya untuk menikah dengan seorang perempuan. Pernikahan palsu yang sudah pasti akan rawan dengan perceraian, seperti yang penulis sampaikan di awal tulisan ini. Begitu juga yang dialami oleh Amir dalam cerita tersebut.

Apa yang terjadi pada kehidupan Amir, itulah wajah kehidupan gay di Indonesia. Takut dan akhirnya menikah dengan seorang perempuan. Tentu alasannya bermacam-macam, ada karena tuntutan keluarga seperti yang dialami Amir tetapi juga karena hal lain, pandangan agama ataupun status sosial. Laki-laki menikah dengan perempuan atau sebaliknya akan ada mendapatkan pengakuan sebagai manusia yang “sempurna” oleh lingkungan sosial.  Sehingga bukan hal yang mudah untuk hidup melawan sistem sosial yang sudah dianggap sebagai sesuatu kebenaran mutlak. Kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Tetapi tidak untuk penulis!

Apakah para gay yang menikah dengan perempuan dan mempunyai anak kemudian akan “meninggalkan” kehidupan dirinya sebagai gay?  Dari pengalaman penulis sebagai gay sekaligus aktivis gay, umumnya gay-gay yang menikah dan punya anak masih akan tetap berhubungan dengan sesama gay lainnya. Walau tentu motifnya macam-macam, mencari pasangan, sekedar membangun hubungan sosial sesama gay ataupun memang sudah bosan menjalani hubungan sebagai seorang heteroseksual.

Situasi ini juga yang digambarkan dalam film tersebut melalui tokoh Amir, walau dirinya menikah dengan perempuan tetapi hati dan jiwanya tetap untuk sang kekasih sejenisnya, Bambang. Tiap malam selalu wajah dan tubuh Bambang yang diingat.  Sehingga pernikahan tidak berhasil menghapuskan hati Amir dari rasa cinta sejenisnya kepada Bambang. Tidak ada pilihan bagi Amir selain memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya. Sebuah sikap yang sangat berani.  Sayangnya sikap Amir ini tidak banyak dilakukan oleh gay yang menikah dalam kehidupan nyata. Hidup penuh dengan topeng.

Tentu jalan hidup Amir tidak selalu sama dengan kehidupan gay yang menikah khususnya yang di Indonesia. Seperti yang saya sampaikan diatas, masih ada seorang gay yang menikah terlihat bahagia mempunyai istri dan anak-anak. Bahkan berpuluh-puluh tahun hidup dalam dua dunia yang berbeda tetapi dirinya tetap bisa menjalani terlihat baik dimata publik. Istilahnya, siang jadi ular malam jadi belut. Kehidupan bunglon! 

Tentu apa yang dialami oleh gay yang seperti itu tidak sepenuhnya salah dari gay sendiri, tetapi kontruksi sosial masyarakatlah membuat mereka melakukan itu. Sistem sosial yang “heterosentris” yang menjadi biang masalah sehingga Amir selalu bimbang mengambil sikap.

Tapi ironisnya masih ada pandangan masyarakat ataupun psikolog yang menyimpulkan “berubahnya” orientasi seksual seseorang (dari homoseksual ke heteroseksual) indikasinya hanya karena sudah menikah dan punya anak.  Padahal itu kesimpulan yang salah kaprah. Ada jutaan gay yang hidup dalam dunia yang berbeda, bahkan penulis berani jamin umumnya gay di Indonesia memutuskan menikah dengan perempuan. Maka jangan shock atau kecewa jangan-jangan kita bagian dari manusia yang dilahirkan dari pembuahan antara sel telur atau sperma dari seorang homoseksual. Atau mungkin pasangan kita adalah seorang homoseksual?

Dalam konteks Indonesia, tidak banyak gay yang seperti tokoh Bambang, lebih berani menyatakan dirinya sebagai gay kepada publik, inilah saya. Bambang yang dalam film itu diceritakan sebagai gay yang aktif dalam organisasi gay dan membangun jaringan komunitas gay sehingga menjadikan dirinya lebih percaya diri sebagai gay. Kehidupan Bambang penuh informasi tentang seksualitas, sayangnya tidak banyak didapat oleh kebanyakan gay di Indonesia.  Sebabnya selain tidak mau terlibat aktif, seorang gay juga sudah membatasi diri bahwa homoseksual sesuatu yang salah atau dosa. Karena dirinya menyakini sebagai pendosa, maka menjadi tidak penting bahkan dianggap aneh untuk mempelajari gay walau itu menyangkut dirinya sendiri. Inilah situasinya. Itulah yang dialami oleh tokoh Amir jika dilihat dari latar belakang kehidupannya.

Terkadang penulis berpikir, mengapa persoalan orientasi seksual individu, hubungan cinta sejenis hal yang paling personal menjadi urusan publik? Dengan siapa ereksi dan berbagi kasih sayang sampai negara ikut campur, ini tentu sangat ironis sekali. Bagaimana negara masuk ke ruang-ruang yang sangat pribadi dari warga negara, bukan dengan semangat perlindungan tetapi kontrol yang semestinya tidak perlu dilakukan oleh negara.

Padahal jika bicara kontribusi, individu homoseksual di Indonesia maupun dunia banyak sekali memberikan kontribusi dalam peradaban kemanusiaan. Bukan hanya dunia hiburan dan seni diwarnai kelompok gay bahkan ilmuwan dan aktivis kemanusiaan diseluruh dunia juga banyak penyuka sejenis. Misalnya penemu komputer, bapak pramuka dunia, atlet dan politikus juga banyak yang gay. Dalam film “Cinta Yang Dirahasiakan” disebutkan beberapa tokoh dunia yang penyuka sejenis.

Terakhir, kritik terhadap film ini. Walau mempunyai semangat pembelaan dan penghapusan terhadap kelompok homoseksual tetapi sayangnya masih “terjebak” pada pandangan “biologis centris”.  Bahwa orientasi seksual dalam hal ini homoseksual sesuatu yang “given” bukan sesuatu yang dipilih secara bebas. Padahal persoalan orientasi seksual apakah given ataupun kontruksi menjadi perdebatan ilmuwan sampai sekarang.

Sebenarnya yang penting bukan perdebatan apakah homoseksual itu given ataupun pilihan. Yang menjadi persoalan bagaimana setiap warga negara, mau dia homoseksual ataupun heteroseksual berhak mendapatkan perlakuan yang sama “tanpa diskriminasi”. Semangat non diskriminasi itulah yang patut kita berikan apresiasi besar bagi film ini. Karena ini bukan hanya untuk kelompok homoseksual semata tetapi untuk kemajuan bangsa Indonesia, agar kedepannya menjadi bangsa yang lebih beradab. Bangsa yang besar, bangsa tanpa diskriminasi.

 

*Seorang Gay Muslim dan Direktur Lembaga Our Voice


Bagi artikel ini


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co