free page hit counter

Review Film Sapu Tangan Fang Yin

Sapu Tangan Fang Yin

Oleh Leon Agusta

Pemenang Hiburan Tiga (iPad2)

Lomba Review 5 Film Indonesia tanpa Diskriminasi Denny JA-Hanung Bramantyo 2013

 

 

Pada mulanya adalah sebuah percintaan yang manis. Sepasang kekasih, Albert dan Fang Yin, keduanya mahasiswa, sedang menikmati masa keemasan.  Tiba-tiba    mereka terperangkap dalam pusaran prahara, yang memorakporandakan  Jakarta dan sekitarnya menjadi bagaikan neraka. Itulah peristiwa  Mei 1998, yang tercatat sebagai tragedi. Di luar segala gagasan dan impian, peristiwa mengerikan ini merenggut kebahagiaan Albert dan Fang Yin; memisahkan mereka untuk selamanya. Fang Yin mengalami trauma. Diperlukan waktu 13 tahun bagi Fang Yin untuk menaklukkan trauma yang nyaris menghancurkannya.

 

Namun, kisah film pendek (47 menit) ini jauh melampaui ikhwal kegetiran cinta yang kandas. Apa arti Indonesia bagi keturunan Cina, dipertanyakan. Relevansi sejarahnya demikian luas. SAPU TANGAN FANG YIN adalah puisi esai Denny JA, dengan credo Indonesia Tanpa Dikriminasi. Bersama  Hanung Bramantyo puisi esai ini diangkat menjadi sebuah film seni kontemporer. Dengan inovasi ini “nasib malang puisi zaman ini yang semakin terkucil”, hendak  diselamatkan; dijelmakan ke suatu bentuk medium baru yang lebih sesuai dengan semangat zaman ini. Sutradara Karin Binanto, sudah mewujukannya menjadi satu karya artistik yang berkualitas. Perbincangan Fang Yin dengan psikolog Raisa yang berupaya mengubah sikap Fang Yin  agar berdamai dengan masa lalu, disajikan sedemikian halus sebentuk artikulasi artistik yang sangat indah. 

                                                                       *

Ketika huru hara Mei 1998 terjadi Albert dan Fang Yin sedang asyik merangkai sebuah impian sederhana, namun sangat mulia, yaitu mendidik sejumlah anak-anak miskin  di jalanan yang tanpa tujuan dan pengharapan. Fang, didorong oleh rasa kasih dan kesantunannya, ingin menyewa sebuah tempat untuk berkumpul sekaligus sebagai tempat tinggal bagi anak-anak terlantar itu. Agar usahanya lebih mantap ia juga ingin mendirikan yayasan. Tetapi impian luhur itu tinggal impian.

Huru-hara Mei yang brutal itu memangsa Fang Yin tanpa ampun. Ia bagaikan seekor anak domba yang lembut di tengah kerumunan binatang buas. Ia diperkosa ramai-ramai; melawan habis-habisan, namun tak kuasa. Fang Yin ambruk lahir bathin.

Pada saat itu, teriakan yel-yel reformasi yang mulanya terdengar begitu gemuruh, tiba-tiba tenggelam, digantikan dengan gelombang kerusuhan massal diikuti pekik dan teriakan mengerikan: bunuh Cina, bakar Cina, habisi Cina. Jakarta dan sekitar jadi lautan api, langit penuh dengan gumpalan asap. Korban berjatuhan tak terbilang. Ada yang bunuh diri karena tak mau hidupnya dirampan secara kejam.                                                  

Prahara ini tak pelak lagi adalah sebuah noda hitam yang sangat kental dalam sejarah peradaban bangsa yang mengaku berbudaya tinggi ini, Indonesia. Catatan tim pencari fakta: 78 orang diperkosa, 85 orang korban penyiksaan, 1190 orang mati terbakar, dan kira-kira 70 ribu orang lari berhamburan ke luar negeri. Fang Yin, dan keluarganya termasuk yang ikut lari ke Los Angeles, Amerika.

Salah satu penyebab prahara Mei 1998 adalah ledakan bom waktu dari politik diskriminasi pemerintah orde baru yang diterapkan secara kaku terhadap etnis Cina di Indonesia berupa pembatasan hak-hak kewarganegaraan. Mereka hanya diizinkan bergerak di bidang ekonomi. Kebijakan ini menunjukkan tidak adanya kepercayaam terhadap etnis Cina. Jasa-jasa orang Cina dalam berbagai gelombang peradaban nusantara yang sudah menjadi bagian penting dari sejarah, tak diakui. Dilupakan.

Namun, kebijakan ini pulalah yang justru telah meningkatkan kekayaan dan kesejahteraan warga Cina secara luar biasa sehingga menanamkan duri dalam daging berupa sentimen sosial dalam masyarakat. Orang-orang dalam pemerintahan  banyak sekali mengambil manfaat dan keuntungan dari politik diskriminasi yang memperlebar kesenjangan sosial ini. Namun politik diskriminasi ini pada akhirnya justru menjadi bumerang. Dihadirkannya peristiwa lengsernya Suharto dan sekilas wajah Abdurahman Wahid menjadi catatan kaki tersendiri bagi film yang berdasarkan puisi esai ini.

Film ini menyisakan satu pertanyaan yang sangat mengusik: Dari manakah datangnya ribuan gerombolan massa itu? Siapakah yang menggerakkan mereka? Mereka tak mungkin datang serempak begitu saja lantas mengamuk, menganiaya, merampok semaunya, tanpa adanya komando dan logistik. Bukan hanya itu. Empat orang mahasiswa mati diterjang peluru. Siapakah yang melakukannya? Di balik pertanyaan ini, sampai sekarang, tersembunyi berbagai bentuk ketakutan terhadap bencana yang berkeliaran di sekitar kita.

Trauma dan luka jiwa Fang Yin dan beribu Fang Yin lainnya merupakan jembatan kenangan penuh catatan: alangkah rapuhnya nasib manusia. Film ini mengingatkan kita kepada sejarah panjang berliku-liku penuh tragedi, khususnya yang dialami etnis Tionghoa di seluruh pelosok tanah air Indonesia,

Sungguh, sangat tidak mudah hidup sebagai orang Cina di Indonesia. Pada era perburuan PKI, etnis Cina selalu berada dalam gumpalan bencana. Juga pada era sesudahnya. Kartu penduduk mereka diberi tanda. Mereka senantiasa jadi korban pemerasan dan sasaran penganiayaan pada setiap kesempatan.

Sebuah ilustrasi: di sebuah kampung, seorang lelaki Cina yang tidak mau membayar ronda malam kepada orang yang ingin menggantikannya karena ia, dengan maksud baik, ingin mengalaminya sendiri, bisa dituduh pelit, mau makan sendiri. Kemudian, berbagai kesulitan pun menyusul. Perlakuan seperti ini jumlahnya tak terbilang dengan berbagai kemungkinan. Hal yang sangat sepele dengan gampang dapat menjerumuskan orang Cina ke dalam kesulitan yang tak dapat diterima akal sehat.    

Etnis Cina di Indonesia, di lubuk hati mereka paling dalam, terpendam kecemasan, bayangan kisah-kisah nasib kaumnya yang penuh luka menghantui hidup mereka dari masa ke masa. Hingga saat ini ereka tidak pernah bisa betul-betul bebas.

Masyarakat kita tidak memiliki etika keberagaman sebagai payung untuk berlindung.. Setiap perbedaan dengan mudah dapat menjadi benih konflik yang mengundang bencana. Perbedaan kepercayaan, kelas sosial, dan berbagai perbedaan lainnya dalam masyarakat kita, merupakan api dalam sekam di mana bencana selalu mengintai.

Inilah kesadaran hidup yang dialami Fang Yin selama bermukim di negeri pelariannya. Ia terpuruk dalam satu proses konflik psikologis yang panjang; pertarungan pembebasan dari dendam dan kebencian yang menghentak ke bawah sadar jiwanya. Lama sekali hati dan lidahnya kelu. Trauma itu memburunya sampai ke dalam mimpi. Beberapa kali ia mencoba bunuh diri. Untunglah ada kasih sayang kedua orang tuanya dan sentuhan keahlian psikolog Raisa Wijaya, jebolan Universitas Kalifornia, yang tak pernah berhenti memberikan kasih sayangnya. Usaha ini berhasil mencairkan hati Fang Yin yang membeku. Namun sungguh tidak mudah.  

Selama di Los Angeles, Amerika, Fang Yin studi di College of Art and Design. Secara pelan dan bertahap, Fang Yin akhirnya nememukan keseimbangan kesadaran yang membuatnya mampu melanjutkan hidup sebagai manusia baru yang memiliki pengharapan.

Pada akhirnya proses penyembuhan ini, setelah 13 tahun berlalu, Fang Yin, yang ternyata tangguh dan pantang menyerah, berhasil menemukan dirinya kembali.

Fang Yin membuktikan bahwa ia mampu bangkit dari jurang kehancuran. Sapu tangan pemberian Albert, satu-satunya kenangan padanya, yang telah mengusap ribuan tetes air matanya selama menjalani masa-masa terburuk dalam hidupnya, ia bakar. Inilah  upacara yang dilakukan Fang Yin sebagai pembebasaan  dari beban masa silam yang menghimpitnya. Ritual penyucian diri. Kebencian dan dendam pada Indonesia yang pernah membakar hatinya, akhirnya padam. Albert pun sudah menjadi milik Rina, sahabat dekat Fang Yin, dan ia sudah merelakannya.

Indonesia Baru memanggilnya dengan suara kemenangan melawan masa lalu. Indonesia sudah berubah. Fang Yin ingin menyusul kedua orang tuanya yang sudah lebih dulu kembali.

Ia telah berhasil menemukan kembali keindonsiaannya dalam   kenangan terhadap segala yang baik dan indah. Kenangan pada anak-anak jalanan yang pernah diasuhnya, hasrat untuk menjadi manusia yang berarti bagi sesama, membuat ia merasa lahir kembali sebagai Fang Yin yang memiliki cita-cita luhur. Jiwa dan hatinya sudah pulang ke tanah kelahirannya.

 

Gong Melawan Lupa

Film SAPU TANGAN FANG YIN hadir di tengah kekinian kita yang abai dan sering alpa sebagai satu kesaksian seni kontemporer.  Bagaikan suara gong yang lantang, resonansinya terdengar sampai jauh. Dentang gong ini, menghidupkan berlapis-lapis kenangan kolektif yang tertimbun dari masa-masa, ketika kemanusiaan dan peradaban diluluh-lantakkan secara membabi buta.

Kehadirannya, berhasil menancapkan sebuah kaca besar di hadapan sejarah peradaban masa kini di mana kita dapat menyaksikan borok yang meruyak dan membusuk di wajah kita. Film ini mengingatkan bahwa tugas utama kesenian adalah menyampaikan kesaksian tentang kenyataan yang sudah berlangsung dan mengingatkan bahaya yang mungkin terjadi.

Sebagai karya seni kontemporer, film ini memberikan penegasan alasan yang kuat dengan relevansi sejarah yang tak terbantah, bahwa sebagai bangsa kita secara sadar harus bangkit, melawan segala bentuk diskriminasi yang merajalela di negeri tercinta ini. Saat ini, 15 tahun setelah reformasi, kita merasakan mulai bermunculannya lagi api dalam sekam yang setiap waktu dapat meledak jadi bom waktu, tanpa ada yang memperingatkan.  

Paradigma Indonesia Baru, Indonesia Tanpa Diskriminasi Denny JA, adalah antisipasi terhadap kondisi masa kini, sekaligus merupakan sebuah visi yang tegas bagi satu kebangkitan gerakan kultural menuju kebudayaan masa depan di  Indonesia. Patriotisme kultural!  

Jakarta, 11 September 2013.


Bagi artikel ini


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co