free page hit counter

Dan Akhirnya Rahasia itu pun Disingkap

Review Film Cinta yang Dirahasiakan

Dan Akhirnya Rahasia itu pun Disingkap

Oleh Dédé Oetomo

Pemenang Hiburan Dua (iPad2)

Lomba Review 5 Film Indonesia tanpa Diskriminasi Denny JA-Hanung Bramantyo 2013

 

Amir (diperankan Rizal Syahdan) dan Bambang (Zack Nasution), dua tokoh utama film “Cinta yang Dirahasiakan,” di mata kebanyakan orang gay sangat mujur, karena dari usia remaja mereka telah berkawan dan sekaligus menjalin cinta yang berlanjut sampai dewasa. Seandainya tidak ada masalah rumit yang mereka hadapi, alur film ini akan rendah mutunya.

Masalah itu timbul ketika mereka mulai beranjak dewasa. Ada adegan di mana guru pelajaran agama Islam mereka (diperankan Cecep Suwandi) secara khusus menyebutkan bahwa hubungan seksual antara dua orang laki-laki adalah perbuatan yang “melampaui batas.” Suara pak guru dalam menyatakan hal itu yang tegas dan terkesan mengaibkan perilaku homoseks kiranya tidak membuat Amir, yang digambarkan berwatak peragu dan berperilaku beragama yang senantiasa mengharapkan hal yang mustahil, perlu mempertanyakan apakah “batas” yang dilampaui. Dia pun merasa risau dan seakan kehilangan pegangan, karena rasa cintanya kepada Bambang sangat kuat.

Penggambaran seksualitas antara Amir dan Bambang dalam film yang diproduksi oleh Denny J.A. dan Hanung Bramantyo serta disutradarai oleh Rahabi M.A. ini dilakukan dengan sangat halus dan apik, yang bagi saya merepresentasi kebanyakan orang gay di masyarakat kita yang walaupun melakukan hubungan seksual dan di kalangan atau komunitasnya sendiri dapat bebas-lepas, di masyarakat umum berlaku tidak terbuka.

Ditampilkannya narator (TioPakusadewo) yang berwibawa dan tegas tetapi ramah pada fenomena yang dikedepankan dalam film ini secara tersurat pula menunjukkanbahwa film ini bernafaskan keberagaman dalam aspek orientasi seksual kita sebagai manusia.

Sebagai aktivis gay, tentu saja saya senang dengan film seperti ini. Alur ceritanya juga tidak tergelincir dalam propaganda progay yang simplistik. Kebimbangan Amir digambarkan dalam adegan di mana dia sudah berlatih untuk membuka diri kepada ibunya yang janda (Dini Vitri). Ibu ternyata mendadak jatuh sakit, dan dokter (Amarullah) menyatakan kepada Amir dia sudah tidak dapat berbuat apa pun untuk menyembuhkannya. Di sini juga terjadi adegan yang banyak terjadi dalam keluarga kita yang anaknya gay: ibu sudah berfirasat, bahkan tahu, bahwa Amir bersifat beda, namun alih-alih meringankan beban anaknya dengan mengajaknya berbicara soal seksualitasnya yang beda itu, ibu justru minta Amir nikah dengan seorang perempuan anak keluarga miskin yang dikenalnya. Solusi pernikahan heteroseks ini terkesan sangat simplistik, tetapi tidak berlebihan bahwa pernikahan seperti ini masih juga terjadi di masyarakat kita.

Maka semua latihan Amir untuk mengaku kepada ibunya jadi sia-sia, dan dia pun, seperti banyak gay lainnya di masyarakat kita, “mencoba” menjalani kehidupan pernikahan heteroseks. Akan tetapi usaha Amir, dengan bantuan ibadah yang khusyuk pun, tidak berhasil. Kerinduannya pada Bambang, yang memutuskan meninggalkan Amir karena merasa tak ada masa depan yang dicita-citakannya, akhirnya mengalahkan segalanya. (Bambang yang berjulukan Batman memang seakan superhero yang pemberani dan tahu apa yang diinginkannya. Amir, sebaliknya, lebih seperti Robin, julukannya dari remaja, yang tidak berani memilih dengan tegas.)

Akhirnya, Amir pun berpisah dengan istrinya, dan berusaha menelusuri ke mana pergi Bambang, dengan menemui Hendro (Hefri) yang berprofesi tipikal gay, desainer, tetapi juga aktivis, yang pernah menasihati Amir supaya terbuka saja sebagai gay.

Bagaimanakah akhir cerita film ini bagi Amir? Bagi Bambang? Sebaiknya anda saksikan sendiri filmnya, yang dapat diunduh dari https://www.youtube.com/watch?v=nwOYxwx14Gc.

Film ini memang tentang dua orang laki-laki gay, atau mungkin dapat dikatakan tentang seorang laki-laki gay yang menghadapi dilemma menghadapi keluarganya dan agamanya. Karena itu penggarapan watak tokoh perempuannya lemah.Ibu, kawan tiga serangkai Amir dan Bambang, Sarinah (diperankan Marsya S. Adiyuta), dan istri Amir, seakan hanya pelengkap belaka.Istri Amir bahkan nyaris tak ditampilkan kecuali sebagai sosok kabur di latarbelakang. Dalam hal ini cerita film ini kurang merepresentasi kenyataan bagi banyak gay, yaitu punya kawan akrab perempuan yang sering kali merupakan orang pertama yang mereka percaya dengan rahasia mereka. Secara lebih serius dapat dikritik bahwa film ini tidak feminis.

Akan tetapi selain itu film ini merepresentasi keadaan gay dalam masyarakat kita, yang cukup banyak seperti Amir, dan dari mereka ini, tidak semua mujur seperti Amir, yang pada akhirnya berani untuk membuka diri. Gay yang tegas terbuka macam Bambang juga sudah mulai banyak, dan yang menarik, kawan-kawan Bambang banyak yang aktivis, yang berusaha meyakinkan Amir bahwa identitas gay itu wajar-wajar saja.

Sambil menyaksikan film ini, saya mencoba membayangkan diri saya sebagai beberapa macam penonton.

Sebagai aktivis, tentu saja saya menyambut baik film ini. Saya yakin saudara-saudara kita yang gay akan mendapatkan dorongan untuk lebih tegas menghadapi dilemanya dan memilih untuk jadi gay terbuka, sebagaimana pesan film ini secara umum. Mungkin mereka tidak akan langsung membuka diri, tetapi film ini dapat menjadi pengilham atau pemicu proses ke arah keterbukaan yang pada akhirnya menyejahterakan.

Kalau saya seorang ibu, boleh jadi saya akan suka dengan kesabaran (keraguan?) ibu Amir yang membiarkan anaknya melalui proses yang dapat menyakitkan tetapi pada akhirnya akan membawa anaknya ke jalan yang benar. Namun kalau saya seorang ibu yang rajin belajar tentang perkembangan hal-hal seperti seksualitas, saya mungkin akan mengritik ibu Amir karena member beban tak perlu bagi anaknya.

Kalau saya aktivis perempuan, saya akan keberatan dengan pilihan ibu Amir supaya anaknya menikah dengan perempuan yang kemudian diajaknya berpisah, atau seakan dicampakkan begitu saja. Apalagi perempuan ini dari keluarga tak mampu. Nasib macam apa yang akan menunggu janda Amir dalam kehidupan masa depannya? Memang inilah kritik keras kaum feminis terhadap pilihan gay yang menikah secara heteroseks dan tidak jujur mengenai seksualitasnya.

Yang saya agak khawatir adalah apakah film ini akan berpengaruh pada gay yang memang sangat mengimani interpretasi agama (dalam hal ini Islam) yang literalis (harfiah) yang nota bene cenderung konservatif. Memang tidak mudah memasukkan begitu banyak aspek dalam suatu film, namun patut dipertanyakan mengapa hanya suara agama yang konservatif saja yang dimunculkan di sini. Mungkin dalam film lain nanti suara agama yang progresif dapat ditampilkan.

Kalau saya seorang agamis yang konservatif, mungkin secara a priori saya sudah tidak mau menyaksikan film ini. Barangkali tidak adil kita harapkan begitu banyak dari suatu film berdurasi 45 menit. Usaha mengubah kaum konservatif perlu waktu lama dan keterpajangan pada berbagai materi yang akhirnya dapat meyakinkan sebagian dari mereka bahwa mereka salah.

Di pihak lain, dengan semua kekurangan itu, saya suka dengan pelibatan ibu yang di akhirat pun dibayangkan tersenyum menyaksikan anaknya, meskipun terluka sementara, sudah mulai menapak ke arah jalan yang baik bagi dirinya sebagai gay. Ini, pada hemat saya, merepresentasi banyak ibu yang karena nalurinya saying kepada anaknya kalaupun budaya atau agama mengatakan yang sebaliknya. Agensi seperti ini memang lumrah di kalangan kita manusia. Mungkin film ini juga dapat mengilhami atau memicu ibu yang sudah berfirasat bahwa anaknya gay sehingga lebih proaktif membuka pintu bagi si anak untuk mengakui seksualitasnya.

Secara umum film ini merupakan tambahan signifikan pada perbendaharaan materi pendidikan seksualitas bagi masyarakat umum maupun gay sendiri dalam mengarungi samudera kehidupan yang kadang berombak bergolak. Dengan begitu, mari kita sambut film ini, sebagai bagian dari membangun masyarakat yang lebih sejahtera karena tidak ada diskriminasi.


Bagi artikel ini


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co