free page hit counter

Zuhairi Misrawi – Puisi Esai, Puisi Melawan Diskriminasi

• Judul: Atas Nama Cinta: Sebuah Puisi Esai • Penulis: Denny JA • Penerbit: Renebook • Cetakan: I, April 2012 • Tebal: 216 halaman • ISBN: 978-602-19153-2-5 Zuhairi Misrawi

Diskriminasi merupakan realitas yang senantiasa tersuguhkan saban hari, baik secara langsung yang terlihat kasat mata maupun tidak langsung melalui layar televisi. Protes menggema, tetapi pemerintah tak bisa berbuat apa-apa. Satu kata yang mengemuka, pemerintah melakukan pembiaran terhadap diskriminasi!

Buku Atas Nama Cinta: Sebuah Puisi Esai, yang ditulis oleh Denny JA, merupakan sebuah upaya mengetuk kesadaran publik perihal pentingnya melawan lupa dan pembiaran atas diskriminasi. Apa pun alasannya, diskriminasi merupakan perbuatan haram yang tidak boleh dilakukan oleh siapa pun karena melanggar hukum Tuhan dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Setiap manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang mulia, dan kemuliaan manusia terletak sejauh mana mereka mampu memuliakan orang lain dengan mengedepankan empati, simpati, dan kasih sayang.

Selama ini, narasi tentang diskriminasi selalu mengabaikan perspektif korban. Narasi di ruang publik terlalu memanjakan pelaku diskriminasi sehingga korban kurang mendapatkan hak yang semestinya, terutama perlindungan hukum. Di sinilah karya ini mempunyai keistimewaan karena puisi-puisi yang disajikan kepada pembaca secara umumnya merupakan narasi para korban diskriminasi.

Nasib buruh migran di luar negeri, yang akrab dikenal sebagai tenaga kerja Indonesia/tenaga kerja wanita (TKI/TKW), misalnya, menjadi salah satu perhatian penulis buku ini dalam puisi-puisinya. Kisah tentang Aminah, TKW yang dipancung di Arab Saudi, merupakan salah satu kisah yang menarik untuk dikomentari karena ditulis dengan menggunakan perspektif korban.

Puisi ini mengetengahkan tentang perempuan yang dihukum mati karena membunuh majikannya. Tidak seperti narasi yang umumnya hanya berhenti pada pembunuhan yang konon dilakukan TKW, penulis dalam puisinya mengisahkan tentang perlakuan amoral yang kerap diperbuat si majikan. Aminah menuturkan kepedihan selama berada di rumah majikannya: Burung yang terkurung di sangkar emas/Masih tetap bisa bernyanyi/Tapi di rumah yang megah ini/Mulutku malah terkunci/Tak ada siapa-siapa untuk berbagi cerita (halaman 99). Aminah menambahkan, Aku dituduh menggoda suaminya dengan senyumku/Dan aku pun disiksa/Tubuhku dicambuk/Rambutku dijambak/Pahaku disetrika (halaman 107).

Kisah perlakuan diskriminatif yang dihadapi Aminah ini sontak akan membangunkan kembali kesadaran pembaca bahwa jutaan buruh migran yang sering dipuji sebagai pahlawan devisa besar itu hakikatnya hidup layaknya burung dalam sangkar. Bahkan, lebih buruk dari itu karena kerap kali diperlakukan secara diskriminatif. Mereka disiksa, diperkosa, bahkan dihukum mati. Ironisnya, pada saat yang sama, perlindungan sangat nihil sehingga diskriminasi itu terjadi berkali-kali lipat.

Selain kisah tentang TKW yang dihukum pancung, penulis buku ini juga dengan baik mengisahkan tentang perempuan Tionghoa korban kerusuhan pada tahun 1998, cinta penganut beda agama, cinta kaum transjender, dan cinta penganut Ahmadiyah dengan kelompok garis keras. Semua kisah tersebut dengan apik disampaikan dalam puisi yang mudah dipahami dan enak dibaca.

Fiksi dan fakta

Tidak seperti pada umumnya, yang cenderung abstrak dan kadang sulit dipahami, penulis buku ini memilih jalan baru dalam kepenulisan puisi, yang disebut ”puisi esai”. Seperti yang dia tuturkan dalam pengantar, di dalam karyanya ini, dia hendak menjembatani dua dimensi: fakta dan fiksi (halaman 10). Langkah tersebut bertujuan pembaca menikmati puisi-puisi dalam buku ini sembari berdialog dengan realitas soal yang penuh dengan diskriminasi itu. Tidak seperti lainnya yang kerap njlimet, puisi esai sengaja dikemas dengan bahasa yang mudah tetapi tidak kehilangan daya imajinasi dan intuisi sebagaimana layaknya.

Puisi-puisi yang terdapat dalam buku ini dikemas dalam kisah cinta yang memikat sehingga dimensi human interest begitu kentara. Dari usia remaja hingga dewasa dapat membaca puisi esai ini dan menikmati pesan-pesan humanis yang terdapat di dalamnya.

Puisi esai ini telah berhasil membumikan kembali puisi, yang hakikatnya sebagai instrumen untuk mendekatkan antara intuisi, imajinasi, dan realitas sosial. Apalagi, puisi-puisi esai digunakan untuk meneropong persoalan diskriminasi yang sangat mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir. Siapa pun yang membaca buku ini akan menyadari bahwa kita harus serius menyelesaikan masalah diskriminasi sosial yang kurang mendapatkan perhatian dari elite republik ini.

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan penulis di antaranya penulisan puisi yang terlalu panjang. Sebagai contoh, puisi ”Sapu Tangan Fang Yin” yang ditulis lebih kurang 25 halaman. Penulisan puisi yang terlalu panjang dapat membosankan pembaca. Akan lebih baik jika puisi ditulis tidak terlalu panjang.

Berikutnya soal catatan kaki, yang merupakan hal unik dalam ”puisi esai”. Di satu sisi, keberadaan catatan kaki penting untuk memberikan penjelasan yang lebih rinci tentang sebuah peristiwa dan ide, tetapi yang perlu diperhatikan adalah akurasi dari sebuah catatan kaki. Sebaiknya catatan kaki menggunakan ”sumber primer”, bukan ”sumber sekunder”.

Terlepas dari kedua catatan kritis tersebut, puisi esai akan menjadi sebuah genre baru dalam dunia puisi. Sebagaimana diungkapkan oleh Sapardi Djoko Damono di dalam epilog, penulis buku ini telah berhasil menggabungkan antara fiksi dan fakta dalam sebuah karya sastra yang unik dan menarik. Tidak hanya itu, pembaca juga disuguhkan catatan kaki, yang tidak biasa dalam karya fiksi.

Zuhairi Misrawi Penikmat Sastra dan Penulis Novel

 

sumber : Kompas, 30 September 2012


Bagi artikel ini


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co