free page hit counter

Novriantoni Kahar : Cinta Dalam Lima Tangkai Sastra Advokasi

Novriantoni Kahar

Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina

Cinta lebih tua dari agama/ Sudah ada cinta sejak manusia diciptakan-Nya

Cinta lebih tua dari agama/ Janganlah agama mengalahkan cinta

 

Premis itu mungkin hanya berlaku dalam puisi. Di alam nyata, tak jarang yang tua mengalah. Kedudukan agama itu di atas puisi/ Jangan kau bandingkan penyair dengan nabi (hal. 74). Tepatnya, supremasi agama (selalu) bisa mengalahkan cinta. Dihadapannya, banyak kisah cinta yang bernoda tak beroleh berkah. Ia bisa kapan saja menjadi pemisah. Terutama tatkala masyarakat belum siap terbebas dari belenggu.

Tak hanya agama menjadi penyebab. Cinta pertiwi bisa tersandera prasangka etnis yang mengalun benci. Cinta keluarga, diuji pahit-getirnya pertaruhan menjadi pahlawan devisa. Cinta sesame jenis, janganlah dikata. Cinta antar agama atau bahkan antar paham agama yang berbeda saja, hm, masih berabe di alam nyata. “Atas nama cinta” tak serta-merta menjadi abdakadabra. Di alam nyata, semua bisa saja berujung manis, terkadang malah tragis.

Isu-isu yang diangkat buku ini masih tabu di negeri ini. Tapi siapa yang menjamin ia akan begitu selamanya? Atas Nama Cinta mengangkat isu cinta dan diskriminasi yang merintanginya. Semua dituangkan dalam pilihan kata dan kalimat yang diikhtiarkan indah. Terkenal sebagai raja survei dan konsultan politik, Denny JA seakan masuk ke dalam dunia kata dan romansa. Kelima tangkai puisi esai yang ditulisnya, mengangkat isu-isu yang masih relevan untuk Indonesia. Mungkin untuk waktu yang akan lama.

“Puisi Esai” didaulat sebagai corak dan medium baru yang hendak diujicoba di ranah sastra. Apa itu “puisi esai” dijelaskan Denny dalam pengantarnya. Sapardi Djoko Damono juga mengulas sepintas lepas. Ignas Kleden, mendudukkan letak karya ini dalam belantara dunia sastra. Presiden penyair Indonesia yang tak kunjung turun dari tahtanya, Sutardji Colzoum Bachri, menulis epilog pendek buat lima tangkai puisi panjang ini.

Terlepas dari perdebatan soal statusnya kelak di dunia sastra, isu yang diangkat buku ini sangat penting bagi Indonesia kini.Apa arti Indonesia bagi Fang Yin? Lahir di sana ia tak minta/ Ketika trauma masih menganga/ Indonesai hanya kubangan luka (hal. 48). Petaka diskriminasi yang menimpanya terjadi di era Reformasi. Kini orang berpikir, isunya mungkin sudah basi. Tapi siapa menjamin politik manis muka meminang tahta masa kini telah menempatkannya di dalam arsip sejarah masa silam kita?

Soal Ahmadiyah kini tiba-tiba menjadi kucing kurap bangsa dan negara. Ancaman serius bagi akidah, kata sebagian atau banyak orang. Cinta Yuli pada Romi yang berlainan paham agama, bagaimana?  Bila cinta tlah memanggilmu/ ikutlah jalannya walau mungkin berliku/ Dan bilamana sayapnya mendekapmu/ pasrah dan menyerahlah/ walau pedang yang bersembunyi di sayap itu/ menghunusmu (hal. 56-57). Terkadang—dan betapa sering terjadi hunusan-hunusan itu. Di dunia fana ini: Agama Allah tak boleh kalah/ oleh cinta sesaat para remaja (hal. 72).

Mau lagi? Cinta beda agama. Tidak juga mudah persoalannya. Dewi dan Albert hanya satu kasus saja. Bersahabat?/ tak usah ditanya/ Cinta?/ nanti dulu, agama berbeda (hal. 157). Tapi ikrar cinta tetap baka: Simpan bunga kering ini, Dewiku/ Sampai kau terbebas dari belenggu/ Kalau sampai waktunya nanti/ kalau kita memang jodoh sejati/ kirimlah bunga ini padaku kembali/ dan aku akan datang padamu/ Aku janji! (hal. 156-157).

Ingin yang tragis? Kisah cinta pahlawan devisa! Minah namanya. Hajat rumahtangga mengalahkan cinta-rindunya pada kehangatan keluarga. Pergilah ia mengadu nasib, semoga menjadi pahlawan devisa. Di Tanah Suci, manusia tetaplah juga bergelimang noda dan dosa. Dari dalam negeri saja, nestapa tak lupa menyiksa. Perusahaan tenaga kerja selalu bertingkah dan mencari celah. Uang sebegitu tiada arti/ dibanding gaji besar nanti (hal. 92). Gaji besar nanti tak kunjung tampak batang hidungnya. Di Saudi, burung yang terkurung di sangkar emas/ masih tetap bisa bernyanyi/ Tapi di rumah yang megah ini/ mulutku malah terkunci (hal. 99). Cinta anak dan suami tidak terperi; malah tragedi yang berujung mati.

Dan yang paling sensitif adalah ini. Suatu sore di sebuah taman/ didekatainya Sarinah, dirangkulnya, dipeluknya/ Diciumnya—siapa tahu asmara bisa menyala—semua sia-sia (hal. 129). Bukan tiada upaya melawan kodrat. Sepanjang hayat, Sudah kulawan naluriku selama ini/ tapi aku tak mampu! (hal. 145).Akhirnya berserah juga pada takdir Ilahi. Ya Allah, Kau jadikan ragaku lelaki/ tapi hatiku sepenuhnya perempuan/ Kini ikhlas kuterima semuanya/ Bantu aku ya Allah, memulai hidup baru(hal. 147).

Hidup baru tidaklah mudah. Diperlukan jalan baru, wawasan baru. Mungkin juga perlawanan dan perjuangan baru. Tapi karangan Denny JA bukan puisi perlawanan atau puisi sosial yang selama ini kita pahami, kata Sapardi. Dalam fotografi, tulis Sapardi, ada yang disebut foto esai (sebuah ibarat bagi ikhtiar Denny), yakni serentetan foto yang berkisah tentang suatu isu. Menobatkannya sebagai balada, Kleden menangkap niat Denny untuk mencobakan bentuk lain dalam berekspresi, dengan menggabungkan esai dan puisi.

 

 

Satra Advokasi

Apakah niatan itu bisa berhasil mengadvokasi semangat anti-diskriminasi? Mengingat rumitnya isu ini, tentu itu bukan kerja sekali jadi. Konon, buku ini diniatkan sebagai upaya advokasi. Umumnya memang mengandung kata dan kalimat indah. Aib utamanya mungkin pada kehendak menjaga alur berkisah, seakan-akan sudah diproyeksikan untuk menjadi sinema. Tapi itu bisa dimaklumi, penulisnya sastrawan pemula, dan alamak, mengaku tak hendak pula menjadi pujangga. Namun begitu, isu-isu yang diangkat di sini sangat menggugah. Jika melihat perhatian khalayak sebagaimana termaktub pada websitenya,www.puisi-esai.com, kita tak syak lagi bahwa sambutan positif itu nyata.

Mungkin ada unsur strategi publikasi, hadiah, dan sayembara, sehingga karya ini disambut gegap-gempita. Namun jika membaca komentar tertulis hadirat pembaca di website yang tertera, kita tak dapat menampik bahwa pembaca tak hanya disapa untuk kemudian pergi-berlalu tanpa babibu. Mereka ‘tersapa, tersentuh, terhisap, dan terisi’ oleh isu, kisah, dan cara ungkap Denny JA yang sederhana dan tak hendak melanglangbuana dalam melakukan eksperimen kata dan metafora. Pada puisi esai ini, mungkin bukan semata pencapaian estetika berbahasa yang dikejar dan diidam-idamkan. Tendensi dan pesan yang hendak disampaikan pengarang sangat jelas sehingga pembaca tak perlu bertanya kepada rumput mana untuk tahu pengarang sedang bicara apa.

Unsur fakta yang dikukuhkan dalam catatan kaki mungkin menjadi isu tersendiri. Tapi dalam puisi esai yang sejatinya fiksi ini, ihtiar itu tampaknya juga menjadi jembatan emas pembaca ke dunia nyata. Kelima isu yang diangkat Denny JA mengena dan seakan-akan sungguh dipilih berdasarkan survei berkala tentang tema utama: diskriminasi dan intoleransi. Pada titik ini orang dapat berspekulasi, apakah latar belakang pengarang sebagai ilmuwan sosial dan pengukur opini massa telah membuatnya lebih peka terhadap isu-isu strategis yang sememangnya perlu mendapat perhatian dunia sastra.

Isu yang belum banyak berubah di Indonesia sejak reformasi, bagi Denny, adalah payahnya soal kesetaraan warganegara dan masih kuatnya aroma diskriminasi dan intoleransi. Di sini, Denny tak hanya prihatin tapi memilih jalannya untuk terlibat dan “berpolitik lewat sasta”. Politik dalam artian perebutan kekuasaan seperti dalam pilkada-pilkada, tentu tidak. Politik dalam makna keterlibatan dalam mempengaruhi kesadaran publik, iya! (Media Indonesia , 11/5/2012). Dengan kata lain, puisi esai Denny JA mungkin bisa pula dinamai “sastra advokasi”. Ini adalah jenis sastra dengan suatu misi profetik juga. Denny seakan-akan berdakwah lewat sastra, dan oh, dia mungkin senang bila dakwahnya mustajab untuk mengubah kesadaran masyarakat, terutama agar berempati terhadap korban yang dibuatnya bicara dengan tegarnya.

Dengan bersimpulkan kisah cinta, sejak terbit April lalu, kelima puisi esai ini telah membiak ke berbagai medium pengungkapan. Yang terbaru adalah berbentuk sinema yang diangkat dari kisah “Romi dan Yuli dari Cikeusik”. Pada film pendek yang disutradarai Hanung Bramantyo begitu apik ini, fakta intoleransi yang memang nyata tidak disamarkan sedemikian rupa. Tragedi yang menimpa warga Ahmadiyah di sana tidak diringkus sebagai metafora. Ia diungkap sebagai fakta, tapi dengan sentuhan kisah dan sinematografi yang digarap secara halus, ironis, dan oh, tragis.

Pendek kata, di lima tangkai puisi esai ini, kesan yang muncul pada saya: cinta itu sesungguhnya indah—namun tak selamanya bertuah. Ia kadang menorehkan luka. Luka yang mendalam, tak jarang berujung di kematian. Namun, sekalipun mati berkalang tanah, perjuangan untuk mempertinggi dan mengagungkannya adalah utama.

 

Jakarta, 20 Juni 2012.


Bagi artikel ini


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co