free page hit counter

Isu Diskriminasi dalam Puisi Esai

“Kita di Indonesia, tidak di Amerika. Di sini agama di atas segala Tak terkecuali cinta remaja.”

“Ayo Yuli, sihir hatimu. Katakan cinta kalahkan segala.”

Itu dua cuplikan puisi esai “Romi dan Yuli dari Cikeusik.” Romi anak pengurus Ahmadiyah, paham yang dianggap sebagian ulama menyimpang dari ajaran Islam. Sementara Yuli anak pengurus organisasi Islam yang dianggap garis keras, anti-Ahmadiyah. Dua sejoli ini saling jatuh cinta terlepas dari perbedaan paham agama keluarga mereka.

Yuli mulai ragu. Ayah dan Ibu mengatakan Kedudukan agama di atas cinta remaja. Tapi cintanya pada Romi begitu tinggi. Ia juga menyadari Romi tidak pernah meminta menjadi anak pengurus Ahmadiyah. Ketika ia lahir, ayahnya sudah menjadi pengurus Ahmadiyah. Hal yang sama dengan Yuli. Ketika Yuli lahir, ayahnya juga sudah anti-Ahmadiyah. Yuli terombang-ambing antara cinta yang tulus di hatinya, dengan kenyataan sosial bahwa Ahmadiyah itu paham yang menjadi musuh ayahnya.

Kisah di puisi ini salah satu sisi lain dari Indonesia, yang jarang dibicarakan secara terbuka. Ia bagian dari isu besar diskriminasi yang masih hidup di permukaan ataupun di bawah sadar kolektif masyarakat Indonesia. Dalam lima puisi esai di buku ini, kisah diskriminasi itu diekspresikan dari kacamata korban.

Sebagai penulis, aktivis dan peneliti, sejak lama saya merenungkan cara agar aneka isu diskriminasi itu menarik perhatian publik. Jika kasus itu dituliskan dalam paper akademis, kolom, atau esai biasa, sulit sekali menggambarkan kepekatan emosi dan suasana interior psikologi korban diskriminasi. Jika kisah itu dituliskan dalam puisi biasa atau prosa liris biasa, sulit juga menyajikan data dari isu yang faktual, yang minimal harus muncul di catatan kaki.

Saya bukan penyair dan tidak berpretensi menjadi penyair. Tapi memang kisah ini lebih memadai disajikan dalam medium baru, yang saya sebut “Puisi Esai.1

 

Fiksi dan Fakta

Masalah diskriminasi di Indonesia masih hidup, kadang terselubung dan terus dipertentangkan banyak pihak. Saya ingin memotret kisah itu dalam karangan yang dimaksudkan bisa menyentuh hati. Sekaligus juga karangan itu diikhtiarkan memberi info memadai soal konteks sosial isu diskriminasi.

Karangan itu ditulis dalam bentuk puisi kisah cinta, namun dipenuhi catatan kaki tentang fakta. Ini sebuah eksperimen yang menjembatani fiksi dan fakta. Detail kisahnya fiksi. Tapi kenyataan sosial dari isu itu fakta.

Di samping kesamaan tematik isu diskriminasi, lima puisi esai dalam buku ini juga punya kesamaan lain. Para korban dari isu itu selalu diperlihatkan berjuang. Tak penting apakah ia menang atau kalah. Insting berjuang tokoh utamanya ini bias karena perjalanan panjang saya selaku aktivis.

Namun saya sadari, dalam dunia sastra ikhtiar berjuang itu justru lebih menyentuh jika digambarkan secara halus. Dalam sastra, tokoh utama yang menjadi korban tidak harus selalu dalam posisi yang menang pula.Apalagi menang dan kalah dalam sebuah perjuangan tak pernah pasti. Nabi Isa bagi orang Islam, atau Jesus bagi orang Kristen, hidup duniawinya diyakini pengikutnya berakhir di salib. Pengikutnya dibasmi. Sekilas, jika dinilai di tahun awal Masehi, ia kalah.

Tapi kini, 2000 tahun kemudian, agama Kristen selaku pengikut Jesus justru paling besar. Lebih besar dibandingkan pengikut agama mana pun termasuk yang tidak beragama. Dilihat dari tahun masa kini, ia menang.

Dalam perjuangan menegakkan sebuah nilai, baik agama, ideologi, atau isu sosial, akhirnya yang penting bukan menang dan kalah. Yang utama dan yang memberi inspirasi adalah ikhtiar perlawanan, terutama bagi pihak yang menjadi korban. Tak peduli, sekecil apa pun ikhtiar perlawanan itu.

Spirit cinta, ikhtiar berjuang, dan diskriminasi menjadi perekat lima puisi esai di buku ini. Itu terekam secara implisit ataupun eksplisit, secara halus atau tersurat, baik dalam kasus diskriminasi terhadap kaum Tionghoa (“Sapu Tangan Fang Yin”), diskriminasi paham agama (“Romi dan Yuli dari Cikeusik”), diskriminasi terhadap gender (“Minah Tetap Dipancung”), diskriminasi terhadap homoseks (“Cinta Terlarang Batman dan Robin”), dan diskriminasi agama (“Bunga Kering Perpisahan”).

Di akhir lima puisi esai ini, tokoh utama bisa bernasib tragis dan kalah. Bisa juga tokoh utamanya disebut menang dan happy ending. Tapi semuanya, menang dan kalah dalam perjuangan nilai, selalu sementara. Yang penting inspirasi yang ingin ditularkannya.

 

Puisi Esai

Kebutuhan ekspresi kisah ini membuat saya memakai sebuah medium yang tak lazim. Saya menamakannya “Puisi Esai”. Ia bukan esai dalam format biasa, seperti kolom, editorial atau paper ilmiah. Namun, ia bukan juga puisi panjang atau prosa liris. Medium lama terasa kurang memadai untuk menyampaikan gagasan yang dimaksud.

Saya mencari medium dengan beberapa kriteria. Pertama, ia mengeksplor sisi batin, psikologi dan sisi human interest pelaku. Kedua, ia dituangkan dalam larik dan bahasa yang diikhtiarkan puitik dan mudah dipahami. Ketiga, ia tak hanya memotret pengalaman batin individu tapi juga konteks fakta sosialnya. Kehadiran catatan kaki dalam karangan menjadi sentral. Keempat, ia diupayakan tak hanya menyentuh hati pembaca/pemirsa, tapi juga dicoba menyajikan data dan fakta sosial. Karangan ini ditargetkan berhasil jika ia tak hanya menggetarkan hati tapi juga membuat pembaca lebih paham sebuah isu sosial di dunia nyata.

Kebutuhan itu membuat saya melahirkan medium penulisan yang berbeda. Saya sebut medium baru ini “Puisi Esai”. Yaitu puisi yang bercita rasa esai. Atau esai tentang isu sosial yang puitik, yang disampaikan secara puitis. Ia bukan puisi yang lazim karena ada catatan kaki tentang data dan fakta di sana dan di sini, serta panjang dan berbabak. Ia juga bukan esai yang lazim karena dituliskan dengan larik, puitik dan lebih mengeksplor sisi batin.

 

Genre Baru?

Akankah puisi esai ini menjadi sebuah genre baru sastra Indonesia? Sebagai penulis saya seharusnya tidak terlalu dipusingkan soal itu. Tapi sebagai aktivis, saya senang sekali jika medium puisi esai semakin banyak digunakan untuk menyampaikan sisi batin individu dalam sebuah konflik atau problem sosial. Saya tentu bersemangat untuk ikut memfasilitasinya. Ketika buku ini sedang dirampungkan, beberapa penulis lain sedang riset untuk aneka isu sosial yang akan diekspresikan melalui puisi esai.

Sebuah genre baru di dunia seni atau paradigma baru di dunia pemikiran hanya ditentukan oleh satu hukum sosial saja. Yaitu apakah hal baru itu diterima oleh sebuah komunitas? Itu cukup dengan melihat banyaknya pengikut atau pengarang yang mengulangi medium atau ekspresi baru itu.

Sebuah genre pada dasarnya adalah konstruksi sosial. Ia tidak lahir hanya karena titah seorang otoritas sastra, tapi terutama karena diterima oleh publik.2

Genre atau paradigma tidak diukur dari kualitas internal karya itu atau kedalaman cara berpikir baru yang ditawarkan. Ia semata diukur oleh daya terima publik terhadap ekspresi baru itu. Ia ditentukan oleh popularitas ekspresi baru itu.3

Ketika pertama kali lahir musik Rock and Roll, elit musisi saat itu menganggapnya tumpukan bunyi bernilai sampah. Rock and Roll dituding menurunkan kualitas musik. Mereka membandingkan Rock and Roll dengan musik sebelumnya: musik klasik. Namun musik Rock and Roll terus tumbuh, didaur-ulang oleh musisi lain. Munculnya genre baru musik Rock and Roll tak bisa distop oleh para “nabi” dan kritikus musisi genre sebelumnya.

Di dunia seni, tak ada sejenis paus dalam agama Katolik yang punya otoritas menentukan ajaran mana yang benar dan salah. Tak ada tembok tinggi untuk memisahkan mana sastra yang benar atau yang salah. Atau memilah ini sastra tinggi dan ini sastra rendah.

Bisa saja satu otoritas sastra beropini soal itu dan mencoba memilahnya: ini sastra serius; itu sastra populer. Tapi segera ia akan mendapatkan opini berbeda dari otoritas sastra lain, atau oleh khalayak yang punya filosofi lain. Apa daya ini era yang tak lagi bisa dimonopoli oleh siapa pun. Superman sudah mati!

Seni sepenuhnya milik masyarakat, bukan hanya milik elit sastrawan. Apalagi di era revolusi komunikasi dengan Facebook, YouTube, dan Twitter. Opini berseliweran. Masyarakat luas akhirnya menjadi hakim penilai. Publik luas akan menentukan apakah puisi esai ini tumbuh menjadi genre baru, atau terkubur.

Setelah sebuah karya dipublikasikan, pengarangnya mati. Karya itu yang hidup. Sebuah genre baru hanya lahir jika medium puisi esai ini tumbuh secara organik, beranak-pinak melalui karya orang lain. Dunia sastra Indonesia segera hamil tua. Akan lahir sebuah genre baru: generasi penulis puisi esai.

Namun jika tak ada publikasi yang kuat lainnya dengan format serupa, puisi esai hanya berhenti sebagai ikhtiar di buku ini saja. Lalu ia terkubur. Atau sekadar menjadi catatan kaki seorang pengamat yang mencoba me-review aneka ikhtiar di dunia sastra.

 

Terima kasih

Ucapan terima kasih pertama saya ucapkan kepada rekan yang menjadi teman diskusi soal karangan ini: Sapardi Djoko Damono, Ignas Kleden, Eriyanto, Fatin Hamama dan Mohamad Sobary. Lima rekan tersebut banyak ikut mempengaruhi ruh karangan. Ikut juga merumuskan nama untuk gaya penulisan tak biasa ini. Akhirnya saya pilih nama puisi esai, setelah mengalami perubahan berkali-kali dari opini liris, esai liris, puisi opini, dan puisi naratif.

Sapardi Djoko Damono selaku senior selalu membuka tangan untuk membantu di berbagai tahapan karangan ini. Kegairahannya memberi masukan menambah kegairahan saya sendiri untuk terus menyempurnakan karangan dari segi bentuk dan isi.

Terima kasih juga kepada kawan-kawan di Ciputat School. Ini komunitas tempat saya mematangkan konsep generik puisi esai. Terima kasih terutama kepada Ahmad Gaus AF. Sejak ide pertama, Gaus menjadi kawan diskusi dan membantu riset yang dibutuhkan. Gaus menjadi orang pertama yang secara intens terlibat penuh dalam proses karangan ini.

Juga terima kasih kepada anggota Ciputat School lain: Zuhairi Misrawi, Ihsan Ali Fauzi, Jonminofri Nazir, Novriantoni Kahar, Elza Peldi Taher, Anick HT, Neng Dara, Jojo Rahardjo, Nur Iman Subono, Ali Munhanif, Buddy Munawar Rachman, dan Djohan Effendi. Mereka ikut memberi warna puisi esai.

Terima kasih kepada kawan tempat saya bekerja di Lingkaran Survei Indonesia dan Dua Rajawali Perkasa. Mereka –Eriyanto (saya sebut lagi), Sunarto, Budi, Barkah, Sopa, Luki, Troi, Firman dan kawan lain– banyak memberi masukan yang ikut membentuk format, plot dan isi puisi esai. Pandangan Eriyanto banyak mempengaruhi penulisan ulang puisi esai ini di masa awalnya.

Terima kasih juga kepada kawan di dunia sastra ataupun intelektual. Nirwan Dewanto, Radhar Panca Dahana, Adhie M Massardi, Effendi Gazali, J. Kristiadi, Indra J. Piliang, Eep Saefullah Fatah, Yunarto Widjaya, Amir Husein Daulay, Rocky Gerung, Yudi Latif, Hamid Basyaib, Johan Silalahi, Hamid Dipopramono, AE Priyono, Ifdhal Kasim, Baron Basuning, Tohir Effendi dan kawan lain yang tak bisa disebut satu per satu. Pujian dan kritikan mereka sepedas apa pun menjadi bumbu yang ikut mempersedap puisi esai ini.

Akhirnya, terima kasih kepada istri tersayang Mulia Jayaputri dan dua ananda tercinta, Rafi Denny dan Ramy Denny. Dengan caranya sendiri, mereka memberi komentar, ikut memberi ruh dan membiarkan saya menyendiri dalam proses perenungan hingga kadang dini hari. Saya meminta istri tercinta mengetik di komputer kalimat terakhir karangan ini. Kepada tiga permata, Love of My Life, buku puisi esai dipersembahkan.

Setelah selesai menulis titik terakhir karangan ini, saya semakin nyaman. Format puisi esai memang lebih bisa mengekspresikan jenis karangan saya, yang ingin merangkum kebutuhan fiksi dan fakta. Saya tak tahu, apakah impresi pribadi ini bisa digeneralisasi. Yang saya tahu, hidup memang memerlukan fakta. Hidup juga memerlukan fiksi. Puisi esai menampung keduanya.

Jakarta, Maret 2012

  1. Terima kasih kepada Sapardi Djoko Damono, Ignas Kleden, Eriyanto, Fatin Hamama, Mohamad Sobary dan kawan-kawan di Ciputat School, yang sejak awal ikut mencari label paling mewakili untuk nama generik karangan ini.
  2. Bawarshi, Anis. “The Ecology of Genre.” Ecocomposition: Theoretical and Pedagogical Approaches. Eds. Christian R. Weisser and Sydney I. Dobrin. Albany: SUNY Press, 2001
  3. Kuhn, Thomas S. The Structure of Scientific Revolutions, 3rd Ed. Chicago and London: Univ. of Chicago Press, 1996

Bagi artikel ini


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co