free page hit counter

Islam Liberal: Agenda dan Seputar Istilah

Diskusi berikut mengangkat isu seputar istilah dan agenda Islam Liberal yang merupakan salah satu tema awal yang muncul dalam Milis tersebut.

Sejak didirikan pada 8 Maret 2001, kelompok diskusi (Milis) Islam Liberal (islamliberal@yahoogroups.com) telah mendiskusikan berbagai hal mengenai Islam, negara, dan isu-isu kemasyarakatan. Kelompok diskusi ini diikuti oleh lebih dari 200 anggota, termasuk para penulis, intelektual, dan pengamat politik seperti Taufik Adnan Amal, Rizal Mallarangeng, Denny JA, Eep Saifulloh Fatah, Hadimulyo, Ulil Abshar-Abdalla, Saiful Mujani, Hamid Basyaib, dan Ade Armando. Dimoderatori oleh Luthfi Assyaukanie, diskusi berikut mengangkat isu seputar istilah dan agenda Islam Liberal yang merupakan salah satu tema awal yang muncul dalam Milis tersebut. 

Peserta Diskusi: Denny JA, Hamid Basyaib, Ichan Loulembah, Luthfi Assyaukanie, Nirwan Arsuka, Rizal Mallarangeng, Saiful Mujani, Sukidi, Robin Bush, Zulfiani Lubis. 

Luthfi Assyaukanie:

Teman-teman, untuk memulai diskusi kita, saya akan mengemukakan dua pendapat saling bertolak belakang dari dua orang teman kita. Pertama, pendapat Ulil Abshar-Abdalla, yang mengatakan bahwa gerakan Islam Liberal di Indonesia telah gagal. Menurut Ulil, gerakan itu bukan cuma gagal, tapi gagal total. Apa yang bisa diperbuat para intelektual liberal kita ketika kekerasan demi kekerasan melanda negeri ini, ketika orang-orang yang mengatasnamakan agama saling membunuh, menghalalkan darah, merusak jalan, pohon, dan gedung. Islam Liberal telah gagal. Paling tidak, gagal dipahami masyarakat kita secara luas. 

Kedua, pendapat Syamsul Rizal Panggabean. Menurut teman kita ini, Islam Liberal justru sedang menuai sukses luar biasa. Indikasinya adalah Pemilu lalu. Islam-islam (Islams) yang tidak liberal (baca; partai Islam yang masih mengedepankan eksklusivisme, negara Islam, dan pemahaman skripturalis) anjlok. Mereka tidak mendapat cukup suara; kehilangan konstituen; dan terancam terdegradasi dalam Pemilu mendatang. “Partai Islam” kata Panggabean, “baru akan mendapatkan suara jika ia membuka diri, bersikap pluralis, toleran, dan inklusif. Dan ini semua adalah ciri Islam Liberal.” 

Nah, dengan dua pendapat itu, saya ingin mengajak Anda semua mendiskusikan tema Islam Liberal, baik yang menyangkut istilah, prospek, dan nasib gerakan ini di Indonesia khususnya dan dunia Islam umumnya. 

Saiful Mujani:

Saya setuju dengan pendapat Panggabean bahwa Islam Liberal telah berhasil kalau menggunakan ukuran hasil pemilu lalu di mana dua partai yang tidak berideologi Islam mendapatkan suara terbanyak. Islamkah pendukung PDI-P dan Golkar? “Islam” kalau menggunakan rukun Islam sebagai ukurannya. Memangnya ada ukuran lain sehingga kita bisa mengeksklusi keislaman seseorang? Bagi saya, salat dan puasa ukuran yang cukup memadai bagi keislaman seseorang. Secara total 80% orang Islam bisa disebut Islam kalau menggunakan parameter ini. Apa ini tidak cukup besar? Tergantung. Kalau dibandingkan ketaatan menjalanakan agama (pergi ke greja atau bero'a) negara-negara di Eropa Barat tentu proporsi ini sangat besar. Kalau mau ditambah dengan intensitas sering berdoa'a di luar salat, ngaji, dan ikut pengajian, ya proporsi yang taat berisalam sekitar 55%. Wajar, kan? 

Apakah pendukung PDI-P dan Golkar Islam? Kalau menggunakan salat sebagai parameter, sebagian besar ya: 66% pendukung PDI-P dan 81% pendukung golkar dari yang beragama Islam secara teratur atau sering menjalankan salat lima waktu. Kalau menggunakan ukuran kasar ini kita bisa bilang bahwa pendukung kedua partai yang tak berideologi Islam ini adalah orang-orang Islam yang taat menjalankan salat. Tapi proporsi ini di bawah proporsi pendukung partai-partai berideologi Islam (PPP, PBB, PK). Pendukung partai ini rata-rata sekitar 88%. Apakah perbedaan proporsi itu punya dampak terhadap pilihan partai? Punya, sebesar 8%. Artinya kalau orang semakin taat menjalankan ritual Islam seperti salat dari tidak pernah menjadi pernah, dari jarang ke sering, atau dari sering ke selalu, maka akan terjadi perubahan sekitar 8% dari memilih partai yang yang dirut atas dasar spektrum partai yang paling kurang Islam (PDI-P) ke yang paling Islam (PK). Dampak ini secara subsantif ya antara lemah dan moderat saja, tidak terlalu kuat. Tapi mengatakan bahwa Islam tak punya dampak sama sekali terhadap pilihan partai adalah salah. 

Saya kira ukuran yang proporsional dan kongkrit dari Islam liberal dalam konteks politik adalah bila orang taat menjalankan agama tapi memilih partai sekuler. Dengan kata lain ketaatan beragama tak punya dampak positif pada pilihan partai kalau partai diurut atas dasar spektrum kurang-paling Islam. Dari definisi ini ada dua kesimpulan empirik yang bisa dikatakan: Panggabean benar bahwa dampak Islam terhadap politik tidak sebesar yang diduga selama ini, terutama sejak klaim Geertz dll. Tapi juga harus hati-hati, secara statistik masih ada dampak agama terhadap pilihan politik itu. Klaim Ulil, kalau menggunakan ukuran 8% itu, bisa dibilang Islam liberal belum berhasil betul. Tapi di Amerika dan Inggris sekalipun, agama tetap punya pengaruh kira-kira sebesar ini, dan kita tidak bisa mengatakan bahwa liberalisme telah gagal di tanah leluhur liberalisme ini. 

Rizal Mallarangeng (Celi):

Islam liberal? Ini istilah yang sangat menarik. “Liber” dari bahasa Latin, artinya “bebas,” “merdeka”. Dari istilah ini kita bisa mengajukan beberapa pertanyaan sederhana: Islam (umat Islam) mau bebas dari apa? Dari kungkungan politik? Dari doktrin dan warisan-warisannya sendiri? Dari kebodohan? Selain itu, Islam (umat Islam) mau bebas untuk berbuat apa? Sekadar bebas untuk beribadah? Hidup secara demokratis dan merdeka untuk menafsirkan kembali doktrin-doktrin yang ada agar agama dan modernitas tidak bertentangan? Apa landasan konseptual yang dapat diberikan terhadap masalah “free from” dan “free for” oleh kaum yang mengatakan diri mereka sebagai kaum Islam liberal? 

Alfred North Whitehead pernah berkata bahwa semua filsafat modern hanyalah catatan kaki dari pemikiran-pemikiran Plato. Kita mungkin bisa berujar, semua pemikiran Islam modern bisa relevan hanya jika ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari istilah Islam liberal. 

Zulfiani Lubis (Uni):

Rasanya, problem kita belakangan ini adalah pengkotak-kotakan. Dan, paling nggak enak kalau pengkotak-kotakan itu, “hanya” disebabkan istilah. Karena itu, kenapa kita tidak menggunakan nama “Islam” saja? Liberal, fundamentalis, demokrat atau apapun watak yang mau kita pilih dari “Islam” itu kan penafsiran masing-masing orang, masing-masing kelompok, masing-masing mazhab. Pada intinya, Islam itu watak dasarnya adalah sosialis (seperti kata Cak Nur). Liberal, itu kan terkandung maksud/keinginan/pilihan komunitas ini...didasari perasaan miris melihat politisasi agama dan mengentalnya sikap sebagian orang Islam yang mengusung bendera agama, sehingga menyebut dirinya, atau dapat sebutan: Islam militan atau Islam fundamentalis. 

Membuat dikotomi Islam Liberal dengan Islam Fundamentalis, juga akan menguntungkan pihak-pihak yang menganggap hanya kepada dirinyalah bangsa kita menggantungkan diri untuk kehidupan berbangsa yang plural. Padahal, saya yakin bahwa mayoritas bangsa ini cinta kemajemukan dan tidak ingin siapapun, orang Islam maupun non-Islam, mengetengahkan kehidupan yang dogmatis, apalagi menjadikannya policy publik. 

Kalau kita menggunakan istilah Islam saja, saya berharap kita dapat menghasilkan pemahaman Islam yang sebenar-benarnya. Meluruskan yang selama ini bengkok-bengkok. Bukan yang dibauri oleh nilai budaya, Arab, misalnya. Ada banyak contoh, misalnya, di mana hukum Islam mengatur sangat baik hal-hal yang sulit diatur dalam hukum pidana sipil, dan juga perdata. 

Denny JA:

Pertanyaan yang diajukan Rizal sangat penting dijawab karena menjadi dasar dan common platform komunitas kita. Ada dua buku yang dapat menjadi bacaan penting karena membahas konsepsi dasar Islam Liberal. Pertama: Islamic Liberalism. Kedua, Liberal Islam, a Source Book. Dengan membaca dua buku itu, minimal sudah ada kesamaan minimum tentang persepsi apa itu Islam Liberal. 

Secara sengaja, kita harus menempelkan kata Liberal di samping Islam, karena yang akan kita perjuangkan bukan interpretasi Islam yang lain, tapi interpretasi Islam yang liberal, yang sesuai dengan prinsip dasar negara moderen seperti yang berkembang di negara maju. 

Mengapa Islam Liberal penting? Demokrasi hanya mungkin terkonsolidasi di negara yang mayoritasnya muslim, hanya jika masyarakat muslim percaya bahwa prinsip dasar demokrasi itu sama dengan prinsip dasar (interpretasi) Islam. JIka tidak, selalu terjadi ketidak sepakatan yang memecah belah atas the rule of game demokrasi. Dikwatirkan lagi jika ketidak sepakatan itu tak hanya sebatas wacana, namun mengarah kepada kekerasan fisik. 

Luthfi Assyaukanie:

Pada dasarnya, saya memahami “Islam Liberal” sebagai Islam yang kritis, progresif, dan dinamis. “Islam Liberal” sebenarnya adalah istilahnya A.A. Fyzee, intelektual Muslim India, yang dipopulerkan Charles Kurzman dalam karyanya Liberal Islam. Istilah itu mungkin tidak terlalu penting, karena Anda bisa menggantinya dengan, misalnya, “Islam Progresif,” “Islam Pluralis,” atau “Islam Dinamis.” 

Farid Esack, intelektual asal Afsel, misalnya, kurang setuju dengan penggunaan istilah “liberal” karena berkonotasi perlawanan dan pemberontakan. Tapi saya senang menggunakannya, karena memang ada sesuatu yang harus dilawan dan ada alasan untuk memberontak. Saya melihat bahwa mayoritas Islam yang ada sekarang adalah Islam ortodoks, baik dalam wajahnya yang fundamentalis (dalam sikap politik) maupun konservatif (dalam pemahaman keagamaan). Islam Liberal datang sebagai sebuah bentuk protes dan perlawanan terhadap dominasi itu. 

Celi (Rizal Mallarangeng) sebetulnya telah mengantarkan kita kepada persoalan yang paling mendasar, ketika mengatakan: kalau kita ingin bebas, bebas dari apa dan bebas untuk apa. Saya kira, jawabannya jelas: bebas dari otoritas masa silam dan bebas untuk menafsirkan dan mengkritisi otoritas tersebut. Ketika kita mengatakan “bebas dari” dan “bebas untuk,” kita memposisikan diri menjadi seorang “protestan” yang berusaha mencari hal-hal yang baik-baik dari warisan agama dan membuang hal-hal yang buruk (saya membayangkan semangat protestanisme itu adalah semangat yang seluruhnya bersifat positif, seperti yang dijelaskan dengan sangat bagus oleh Max Weber). 

Dalam bayangan saya, “Islam Liberal” adalah sebuah gerakan reformasi (bukan dalam pengertian mahasiswa, tapi pengertian semangat protestantisme klasik) yang berusaha memperbaiki kehidupan umat Islam, baik menyangkut pemahaman keberagamaan mereka maupun persoalan-persoalan lainnya (ekonomi, politik, budaya, etc). 

Untuk Uni: Saya tidak setuju dengan Anda yang mengandaikan satu Islam, dan karenanya, Anda menawarkan penggunaan istilah “Islam” saja ketimbang harus ada embel-embelnya. Pada level ide, Anda bisa berbicara tentang itu, tapi kenyataan sosiologis menunjukkan bahwa ada banyak Islam yang dianut kaum Muslim (kata Plato: “hanya ada satu kursi di dunia ide, tapi ada banyak kursi di dunia nyata”). Anda harus memilih mau berislam yang mana dan mau pakai cara apa. Saya kira, persoalannya bukanlah membuat dikotomi atau mengkotak-kotakan Islam. Tapi realitas sosial kita menyuguhkan kenyataan itu. 

Ketika Anda merujuk Cak Nur, maka Anda sedang berbicara tentang “Islam versi Cak Nur” dan bukan Islam yang satu yang Anda bayangkan itu. Karena ia jelas-jelas berbeda dengan Islamnya kiai-kiai langitan yang menganggap “di dada Gus Dur ada malaikat” misalnya, atau dengan Islamnya Goethe yang berkata “If Islam means submission, then in Islam we live and die.” 

Rizal Mallarangeng:

Saya setuju dengan Luthfi. Karena dia menyinggung soal Protestanisme, saya jadi teringat Martin Luther: “So stech' ich hier, ich kann nicht anders,” di sini aku berdiri, aku tidak bisa berpindah lagi. Setelah dia merumuskan tesis-tesis kekristenan baru, dia lalu berpegang teguh padanya. Hasilnya? Eropa serta dunia Kristen lebih seabad bergoyang dalam semangat pembaharuan. 

Apakah kita juga bisa merumuskan prinsip-prinsip baru dalam Islam, yang tertolak dari persoalan “bebas dari” dan “bebas untuk” sebagaimana yang tersirat dalam istilah Islam liberal? Kalau memang sudah ada, seberapa jauh kita bisa memegang prinsip-prinsip itu dan berseru, “So stech' ich hier...” apa pun resikonya? 

Ichan Loulembah:

Bagi saya, istilah Islam Liberal itu penting: Pertama, Islam dalam istilah ini adalah penamaan untuk domain, baik itu sebagai basis gagasan, ataupun sosiologis. Sebab, kekacauan sekarang disebabkan oleh wilayah gagasan yang belum membentuk paradigma baru yang lebih maju (pasca Cak Nur dkk). Sementara di wilayah aksi, terjadi “pemiskinan”, “pengerasan”, terhadap ide-ide “Islam Kultural,” termasuk oleh beberapa aktor utamanya sendiri. Gus Dur - dalam hal toleransi - pada akhir-akhir ini misalnya hampir sama menakutkan seperti kelompok “garis keras” seperti FPI, Lasykar Jihad, dll. Untuk itu perlu untuk “membebaskan kembali” Islam sebagai dan untuk Pembebasan. 

Kedua, Liberal adalah istilah perlawanan yang secara label akan mudah diartikan sebagai gerakan yang berakar pada semangat untuk merubah, mengubah wacana yang selama ini “mengandangkan” Islam sebagai ajaran “sehari-hari” semata. 

Sukidi:

Perkenankan saya menyambung diskusi kita dan sekaligus memberikan kritik: 

1. Istilah “Islam liberal” yang oleh Uni dinilai eksklusif dan mengarah ke arah pengkotak-kotakan, sebenarnya kembali mengingatkan kita pada refleksi harian tokoh Islam liberal kita, Ahmad Wahib. Ya, karena selama ini kita hanya tahu Islam menurut Abduh, Islam menurut Cak nur, Islam menurut bla..bla..bla. Tapi, ketika Wahib ingin tahu Islam menurut pemahamannya sendiri, ia pun akhirnya berkata: “itu kan juga Islam menurut saya (Wahib).” Dalam konteks inilah kita meletakkan pemikiran liberal dalam Islam, yang oleh Kurzman disebut “liberal islam.” 

2. Islam Liberal hanya liberal dalam pembacaannya terhadap teks dan wacana. Tapi, maaf, tidak liberatif terhadap yang tertindas. Malah sebaliknya, cenderung menindas yang tertindas, dengan tawaran wacana yang sama sekali disconnect dengan wacana rakyat tertindas. Gus Dur itu, dalam kategori Greg Barton adalah tokoh kelas wahid Islam Liberal. tapi, dalam gerakan politiknya, cenderung otoriter dan sama sekali tidak demokratis (ingat! cita-cita Gus Dur ingin jadi tentara). Pendekatannya demokratis liberal, tapi aktualisasi gerakan politiknya cenderung tidak demokratis. Jadi, maaf, omong kosong belaka Islam Liberal. 

3. Saya justru ingin meletakan Islam Liberal, dalam konteks usaha liberatif Dr. Farid Esack menentang rezim penindas apartheid di Afrika Selatan dengan merekontruksi teologi-teologi pluralis dalam al-Alquran untuk menggalang “inter-faith solidarity” menentang rezim penindas. Nah, bagaimana kita meletakkan wacana Islam Liberal di Indonesia, untuk menggalang solidaritas antar iman dalam rangka melawan rezim penindas dari tokoh Islam Liberal itu sendiri. 

Robin Bush: 

Kalau boleh saya menambah sedikit komentar. Pertama, saya setuju dengan Denny bahwa kita memerlukan fokus, apa lagi kalau ada keinginan menjadi springboard untuk sebuah “action” dan bukan hanya untuk diskusi doang. Tentu saja kita semua mengerti bahayanya “pengkotakan,” tetapi essentialism seperti itu bisa juga dilawan di dalam suatu wacana yang terfokus (lihat saja wacana feminisme yang dikritisi soal essentialisme itu, tapi akhirnya melahirkan pemikiran anti-pengkotakan: posmo, poststructuralism, dll yang membuka lebar pengkotakan modernisme). 

Kedua, buat Sukidi yang merasa “Islam Liberal” itu dibuktikan kurang valid karena kekurang-demokratisnya Gus Dur yang (tadinya?) jubir NU Kultural, menurut saya, problemnya bukan dengan wacananya (islam liberal/islam kultural) tapi dengan beberapa ciri khas NU sebagai organisasi. Maksud saya, masalahnya bukan dengan wacana Islam Liberal yang kurang effektif, tapi justru karena wacana itu terlalu elit di kalangan NU dan kurang berpenetrasi kepada lapisan menengah dan bawah...ataupun lapisan atasan yang lebih “struktural” (PB,PW,PCNU), disitu alasannya kenapa kita melihat NU sekarang meninggalkan identitas “civil society” yang dibangun oleh kalangan intellektualnya 5-10 tahun belakangan ini. 

Ketiga, dan berkait dengan point kedua, kalau saya amati sejauh ini, patokan, tokoh, dan contoh yang dipakai untuk melambangi “islam liberal” di milis ini rata-rata dari kalangan modernis/neo-modernis...bukan untuk menekankan divide 'modernis/tradisionali' yang palsu itu, tapi kalau saya boleh mengusul...sebaiknya kami juga buka pintu dan mengencourage partisipasi dari kalangan intelektual NU karena di lingkungan itu memang ada wacana yang kaya soal pluralism/toleransi dll. Mereka (intelektual/aktifis NU) banyak memikir, menulis dan membahas soal-soal ini dalam perjuangan mereka untuk mendirikan NU sebagai “motor civil society” belakangan ini. 

Saiful Mujani:

Secara sembarangan, barangkali Islam liberal bergerak pada tiga tataran sikap: sikap teologis/filosofis (refleksi dan keyakinan tentang hal-hal fundamental dalam doktrin Islam), sosiologis atau sikap sosial, dan sikap politis. Ketiga wilayah ini barangkali saling pengaruh. Supaya lebih spesifik, pada tingkat teologis/filosofis banyak masalah yang perlu direnungkan. Salah satunya adalah pertanyaan kuno, tapi bagi saya amat fundamental dan dapat berimplikasi sosial dan politis: Apakah Alquran itu makhluk, qadim, atau hadith? Ini mengingatkan saya pada diskusi dengan kiyai saya di Ciputat. Bagi sebagian kita, pertanyan abad pertengahan ini barangkali dianggap tidak relevan, tapi bagi saya kalau teologi Islam itu diringkaskan masalahnya terletak di sini. 

Wasil Bin 'Ata dan teman-teman lebih dari 1000 tahun lalu sudah bilang bahwa tidak ada yang qadim selain Tuhan, dan karena itu Alquran adalah hadith (baru), kalau tak percaya ini maka ada dua qadim, dan kalau percaya ada dua qadim maka itu musyrik, dan kalau musyrik orang itu tak bisa diampuni, masuk neraka jahanam abadi. Kalau Alquran hadith, itu berarti tidak lepas dari konteks ruang dan waktu (sejarah), dan karena itu ia tidak bisa diberlakukan secara universal, dan segala celoteh tentang politik atas dasar Islam (Alquran) dan otoritas kegamaan dapat diperlukukan sebagai proses historis, proses manusiawi belaka. 

Sekali lagi, ini masalah kuno, tapi menurut saya masalah yang paling krusial dalam berislam. Bagaimana Islam liberal bersikap terhadap masalah itu? Ini pertanyaan elitis, tidak ada gunanya dan sangkut pautnya dengan membela atau mendukung Gus Dur? Biar aja ... Atau kalau mau rileks dikit, kelakukan bunuh-bunuhan dan kekerasan dengan nama Islam barangkali akarnya ada di situ. 

Hamid Basyaib:

Karena kejelasan istilah itu perlu, baik menyangkut makna, konotasi maupun lingkup isu yang dicakupnya, maka pertengkaran di seputar “hewan” apa gerangan “Islam Liberal” itu memang bagus dilakukan. Teman-teman yang sedang menyusun disertasi sering menyebut hal ini “definisi operasional”; supaya Pak Profesor tidak bisa menuduh bahwa sang kandidat memakai peristilahan secara arbitrer, inkonsisten, mau enaknya sendiri --sebagaimana kerap terjadi pada mereka yang disebut “budayawan” -- sehingga makna dan fenomena yang ingin dijelaskan malah makin kabur. Padahal inti kekuatan suatu pemikiran justeru terletak pada daya eksplanatorisnya itu. 

Dengan segenap bias saya sendiri, saya mengikuti Luthfi. Yaitu bahwa IslamLib (Islam Liberal) itu berwatak progresif, pluralis, dinamis, modern, dan tentu saja demokratis. Titik-tolaknya adalah premis sederhana: bahwa manusia, selama ia manusia, berkedudukan sama di mata Tuhan, dan karenanya tidak mungkin ada manusia tertentu yang menggenggam otoritas yang mustahil-salah (ma'shum, infallible), yang pendapatnya harus diturut dan mengikat dalam urusan agama dan isu-isu terkait atau masalah-masalah keduniaan yang dilandaskan pada aturan agama. Maka, misalnya, institusi fatwa yang dihidupkan oleh sejumlah ulama, yang biasanya ditahbiskan dan ditopang oleh kekuatan negara, tidaklah sah secara teologis, terutama jika ia berpretensi sebagai kekuatan hukum yang mengikat seorang Muslim atau warganegara. Paling jauh ia hanya bisa dibenarkan secara sosiologis, yang daya ikatnya voluntarily. 

Yang ingin diimbangi adalah dominasi fundamentalisme Islam (politik) dan konservatisme (religius) di pelbagai bidang kehidupan. Jadi “IslamLib” memang gejala internal Islam, karena kehadirannya adalah dalam konteks dominasi fundamentalisme-konservatisme itu; dan karena itu pula manifestasinya mungkin saja lebih dekat dengan pemikiran-gerakan dari khazanah agama dan budaya-budaya lain ketimbang dengan bentuk formal Islam lainnya. 

Dengan begitu, saya memandang IslamLib lebih sebagai gerakan budaya dan ide, yang bercakupan luas. Bahwa para pendukungnya memberi titik-tekan pada aspek-aspek tertentu sesuai minat dan profesinya, tentu itu halal belaka. Kalau Denny, seperti biasa, terobsesi dengan gerakan politik --dan membidikkan prinsip-prinsip IslamLib (tentu tanpa perlu menyebut-nyebut bendera!) pada institusi, interaksi dan mekanisme politik– boleh saja. Toh ini bukan partai politik, organisasi, apalagi sekte, yang punya imam-wakil-Tuhan dan seperangkat ritual yang jika dilanggar akan ada sanksi. 

Saya berharap, sebisa mungkin diskusi-diskusi berikutnya banyak diwarnai oleh persepsi atau interpretasi pribadi tentang ajaran Islam, bukan hanya analisis politik atau sosiologi. Hendaknya analisis dan pemaparan gejala hanya dimanfaatkan sebagai entry point untuk memaparkan pandangan-pandangan substantif para peserta sendiri. Saya yakin dengan pendekatan ini diskusi kita akan jauh lebih produktif. Kita akan segera saksikan seliberal apa kita sanggup mengeksplorasi relung-relung ajaran agama ini; sejauh apa kita mampu merentang konsekuensi2nya pada berbagai aspek kehidupan -- sebuah perjalanan yang mengasyikkan, meski bagi sebagian orang menakutkan. 

Denny JA:

Seperti yang dikatakan Hamid, memang saya pribadi akan lebih terfokus kepada hubungan Islam Liberal dan politik, walau secara pasif saya akan tetap menikmati discourse Islam Liberal di area lain. Lebih terfokus lagi hubungan Islam Liberal dengan konsolidasi demokrasi, mengingat hewan yang bernama demokrasi ini tengah mengamuk di Indonesia (tidak datang dengan senyuman tapi dengan kekerasan). 

Belakangan ini saya banyak membaca tentang timbul dan tenggelamnya demokrasi gelombang ketiga. Begitu banyak negara yang bertransisi ke demokrasi kini mengalami pembalikan atau penurunan kualitas (sehingga tak lagi dapat dikategorikan sebagai demokrasi). Demokrasi (yang didalamnya ada civil liberties), adalah prasyat bagi tumbuhnya discouse yang beragam. Jika tak ada demokrasi, mungkin diskusi kita di mailing list ini akan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. 

Para ahli lalu mencari variabel penjelas, apa yang dapat membuat sebuah negara akan selamat menuju demokrasi yang terkonsolidasi, dan apa yang membuatnya gagal dan kembali lagi ke negara yang otoriter. Ada empat variable yang acap kali dikemukakan. Satu variabel penting di antara yang empat itu dan yang relevan dengan kita adalah tersedianya kultur liberal di negara yang bersangkutan. 

Makin liberal kultur yang dominan di sebuah negara, semakin tinggi kemungkinan demokrasi terkonsolidasi di negara itu. Karena yang dominan di Indonesia adalah Islam, maka terjemahannya adalah dominan atau tidaknya kultur liberal di Islam, yang akan menentukan terkonsolidasi atau tidaknya demokrasi di Indonesia. 

Persoalannya, Islam selalu mungkin untuk ditafsirkan secara liberal ataupun anti liberal. Sebuah agama besar, ideologi dan kultur pada dasarnya adalah sebuah orkestra dan mosaik yang dapat dipahami secara berbeda-beda oleh penganutnya. 

Di Indonesia kini, penganut interpretasi liberal atas Islam masih sangat minoritas. Perjuangan panjang penganut liberal dalam Islam adalah bagaimana mememangkan wacana sehingga Islam liberal bukan saja dianggap puncak evolusi dari interpretasi Islam, tapi juga dianut oleh mayoritas. 

Seandainya tidak oleh mayoritas, tapi oleh minoritas yang memiliki pengaruh kepada komunitas. Ini sisi kebudayaan dari perjuangan politik, atau sisi politik dari kerja kebudayaan. 

Apa itu interpretasi liberal atas Islam dalam soal politik (demokrasi)? Islam liberal adalah interpretasi Islam yang mendukung atau paralel dengan civic culture (pro-pluralisme, equal opportunity, moderasi, trust, tolerance, memiliki sense of community yang nasional). 

Bagaimana agar interpretasi liberal ini tumbuh? Banyak pula variabel penjelas (seperti modernisasi, political socialization, interaksi kultur yang beragam), yang ujungnya adalah liberalisasi pemahaman. 

Nirwan Arsuka:

Saya tak dididik secara formal untuk mempelajari segala sesuatu tentang Islam. Tapi saya merasa, seperti juga banyak di antara kita di Indonesia, bahwa Islam adalah sesuatu yang terus hadir di tengah kita, di tengah harapan dan rasa sumpek kita. Di Indonesia, seperti juga di sejumlah bagian dunia, kita tidak bisa untuk tidak hidup bersama dengan Islam. 

Saya ingin menanggapi Celi dan Saiful. Mungkin menjadi Islam Liberal adalah menjadi bebas dari “Islam” itu sendiri. Islam yang kumaksud di sini adalah Islam yang dibayangkan oleh hampir semua kaum muslimin: suatu pengangan dan sistem nilai yang mengatasi sejarah yang diselipkan masuk ke dalam sejarah. Islam seperti ini bukan saja menampik, bahkan tidak sanggup membayangkan, bahwa Islam adalah produk sejarah. Justeru karena pengertian bahwa Islam adalah sesuatu yang mengatasi sejarah, maka Islam – atau lebih tepatnya ummat Islam – mendapatkan tenaga hidupnya, dan tampaknya juga tenaga merusak dan mebunuhnya. 

Memang ada yang sangat melegakan secara kognitif pada pengertian bahwa ada sebuah ajaran yang mahaagung yang diturunkan langsung oleh yang maha Pencipta. Pengertian seperti ini membuat orang bisa rujuk dengan dua bentuk Otherness yang terus menerus hadir (dan tak dapat disepelekan) dalam pengalaman manusia. Otherness yang pertama adalah yang “adi-manusiawi” yang menampakkan jejaknya pada daya-daya alam yang menakjubkan sekaligus merusak, yang “ditangkap” sebagai wahana bagi devosi, sebagai pemberi inspirasi dan penerang yang sekaligus memberi tujuan dan orientasi hidup batin & sosial. 

Devosi yang muncul akibat pertemuan dengan kekuatan adimanusiawi itu tampaknya menjadi akar dari kecenderungan kognitif kebudayaan untuk “mengintegrasikan diri” dengan kekuatan-kekuatan adimanusiawi itu. Mitos-mitos dan agama yang disusun manusia jelas punya fungsi luar biasa penting: itulah jalan kognitif bagi integrasi diri manusia ke dalam tatanan adimanusiwi. Manusia kemudian mempersepsikan diri sebagai anak-anak tuhan, putra-putri dewata; dengan pemimpin-pemimpin keramat dan pusaka-pusaka suci yang menjadi poros penghubung dengan yang Maha Tinggi. Di jaman kita, kecenderungan kognitif ini memperlihatkan buahnya pada klaim diri sebagai satu-satunya ummat terbaik yang diciptakan Tuhan, dengan kitab suci khusus yang sungguh-sungguh merupakan sabda-Nya atau dengan Wakil yang benar-benar darah daging-Nya sendiri: jalan menuju kerajaan-Nya. 

Tak sulit memang, demi rasa lega diri kita, untuk membuat Sang Pemimpin, Utusan atau Benda Keramat Mukjijat, naik pangkat bukan lagi sekedar sebagai poros penghubung, tetapi sebagai pengejawantah Tuhan di dunia, bahkan mungkin menjadi Tuhan itu sendiri. Yang jelas, Perasaan bahwa diri kita sudah masuk ke dalam susunan kosmik dan menjadi bagian langsung dari alam semesta, bahkan bagian langsung dari Penciptanya, memberi rasa tenteram di tempat yang terlindung. Ini juga membuat dunia yang tampak kacau balau (chaos) menjadi bisa tertata (kosmos). Tak aneh bahwa orang mudah terbujuk untuk menerima bahwa ajaran, kitab dan segala macam ikon religius adalah Tuhan itu sendiri. Karena ini lebih enak dan tidak merepotkan. 

Pemahaman bahwa diri adalah bagian dari tatanan adimanusiawi, pembawa kehendak Tuhan atau dewa-dewi, akan secara otomatis membawa kita memandang manusia lain, kaum lain (Otherness yang kedua) yang ditemui sepanjang upaya pembentukan dan pengembangan diri, sebagai bukan bagian dari tatanan adimanusiawi itu. Bukan itu saja: mereka yang lain ini bisa dipandang sebagai belum sepenuhnya manusia. Lebih keras lagi, mereka yang tampak lain ini dikategorikan sebagai bagian dari kekuatan anti-Tuhan yang dibenihkan dalam pengaruh-pengaruh demon. Agar tatanan kosmik dan kebenaran yang menghidupi diri kita bisa selamat dan terpelihara, manusia lain ini harus ditundukkan, ditobatkan, diselamatkan, disamakan dan diintegrasikan dalam tatanan diri kita. 

Persoalan terbesar dengan “Islam” (dan “semua agama Ibrahim”) adalah keyakinannya yang sangat kuat bahwa dirinya memang adalah bagian langsung dari Tuhan dan sangat yakin bahwa ia berbeda (paling istimewa) dari ummat yang lain. Semakin keras keyakinan itu, semakin kuat kecenderungan untuk menaklukkan dan menyamakan semua yang dianggap lain. Kecenderungan penyamaan (homogenisasi) ini bahkan diperintahkan, bukan? (Dalam praktek, kalau tak bisa disamakan, tidak bisa dijinakkan dan ditobatkan, bunuh saja, bantai kalau perlu. Kalaupun itu tidak atau belum bisa, lecehkan saja dulu, anggap tidak ada, atau menyingkir dulu menyusun kekuatan.) Menurut saya, apa yang disebut fundamentalisme adalah keyakinan bahwa diri dan nilai-nilai yang dianut memang bukanlah yang terbaik, tetapi satu-satunya yang baik karena yang lain pasti buruk. 

Islam (Ajaran agama apapun) yang seperti inilah yang harus dilawan oleh Islam liberal. Alangkah menyenangkan bahwa 1000 tahun yang silam, seperti ditunjuk Saiful, sudah ada sejumlah pemikir yang sangat kritis dan paham bagaimana manusia menyusun konstruksi kognitif untuk dirinya sendiri, dan dengan tegas membedakan Tuhan dari yang lainnya. Secara intelektual saya merasa dekat dengan mereka yang yakin bahwa memang hanya Tuhan yang mengatasi sejarah dan bahwa kitab-kitab suci dan doktrin-doktrin sakral adalah produk sejarah, upaya besar manusia untuk mengatur dunianya dan memberinya makna sesuai dengan situasi ruang dan waktunya. 

Saya sendiri cukup lama berpikir alangkah baiknya jika ummat menerima Alquran dan segenap warisan Islam sebagai salah satu khazanah kekayaan manusia, salah satu sumber inspirasi di antara yang lainnya. Ia tidak perlu, dan secara intelektual serta secara teologis tidak dapat disakralkan hingga disamakan dengan Tuhan. Ia adalah fiksi besar, kanon raksasa, yang terbuka untuk terus menerus ditafsirkan, sebagaimana orang kini terus menerus menafsirkan Shakespeare atau Homerus, misalnya. 

Menjadi Islam (Liberal) kemudian berarti menjadi manusia yang mengakui dan mempromosikan kesamaan kodrati seluruh manusia, yang program sosial politiknya diarahkan untuk menjawab pertanyaan ini: bagaimana ummat manusia, dengan segala perbedaan yang diperolehnya dalam sejarah, dapat berbagi hidup bersama di sebuah planet dengan ruang dan sumber-sumbernya yang terbatas. Barangkali kelak ketika orang menyebut Islam, mereka tak cuma merujuk pada khazanah intelektual yang luar biasa kaya, tapi juga pada semangat perbaikan dunia untuk semua manusia tanpa sedikitpun terpikir untuk menyingkirkan manusia lainnya. Bukankah Islam itu adalah rahmatan lil alamin? []


Bagi artikel ini


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co