free page hit counter

Islam Liberal: Definisi dan Sikap

ISLAM LIBERAL: DEFINISI DAN SIKAP

Sejak didirikan pada 8 Maret 2001, kelompok diskusi (Milis) Islam Liberal (islamliberal@yahoogroups.com) telah mendiskusikan berbagai hal mengenai Islam, negara, dan isu-isu kemasyarakatan. Kelompok diskusi ini diikuti oleh lebih dari 200 anggota, termasuk para penulis, intelektual, dan pengamat politik seperti Taufik Adnan Amal, Rizal Mallarangeng, Denny JA, Eep Saifulloh Fatah, Hadimulyo, Ulil Abshar-Abdalla, Saiful Mujani, Hamid Basyaib, dan Ade Armando. Dimoderatori oleh Luthfi Assyaukanie, diskusi berikut mengangkat isu seputar definisi dan sikap Islam Liberal yang merupakan salah satu tema awal yang muncul dalam Milis tersebut.

Peserta Diskusi: AE Priyono, Luthfi Assyaukanie, Saiful Mujani, Putut Widjanarko, Taufik Adnan Amal, Zainal Abidin. 

Luthfi Assyaukanie: 

Tampaknya diskusi kita semakin memanas. Agar lebih fokus, saya kira, kita harus mulai menentukan tema-tema yang akan kita diskusikan. Saya kira pembagian Saiful yang katanya sembarangan itu sudah benar dan tema-tema yang diusulkan Hamid juga sangat bagus untuk dipertimbangkan. Secara garis besar, tema-tema Islam Liberal itu adalah sebagai berikut: 

Pertama, dalam kelompok Teologis ada tiga tema besar: 

  • Tentang Islam (definisi, signifikansi, peran, tokoh, pengaruh, dll).
  • Tentang Alquran (wahyu, sejarah, perkembangan, pengaruh, perbandingan dengan kitab suci lain, literatur, dll).
  • Tentang Doktrin-doktrin Islam (shalat, zakat, haji, perbuatan baik, dll).


Kedua, dalam kelompok Sosiologis juga ada tiga tema utama: 

  • Sistem Hukum
  • Sistem Ekonomi
  • Sistem Budaya
  • Konsep Negara dalam Islam
  • Sistem Politik (syura, demokrasi, teokrasi, dll)


Nah, anggap saja tema-tema itu usulan mentah yang masih terbuka untuk penambahan dan pengurangan. Untuk itu, saya persilahkan Anda semua memberikan masukan lagi. 

Saiful Mujani: 

Saya ingin mengomentari Sukidi dulu. 

Mungkin kita harus membaca Farid Esack dalam konteks perjuangan melawan apartheid. Jargon “pembebasan” menjadi relevan dalam konteks ini. Ketika kita memulai demokrasi, jargonnya barangkali bukan pembebasan dalam pengertian itu, tapi pembebasan dari prilaku intolerant dan distrust sesama warga. Bagaimanapun demokrasi punya arah yang berbeda dari revolusi sosial: demokrasi tidak berpretensi untuk membalikkan masyarakat menurut utopia class-less society. 

Bahkan demokrasi sering diidentikkan dengan kehadiran kelas kapitalis yang kuat. Setengah orang percaya bahwa demokrasi tanpa kelas ini tidak mungkin. Dalam konteks Islam liberal untuk demokrasi, yang dibutuhkan adalah pemikiran, sikap, dan praktek toleran dan partisipasi lintas kelas dan lintas pengelompokkan primordial. Demokrasi bukan proyek orang radikal, orang kiri, tapi orang-orang moderat, atau barangkali orang-orang konservatif dalam pengertian tertentu. Memilih demokrasi bagi saya adalah melupakan agenda revolusi sosial. 

Putut Widjanarko: 

Saya baca lagi sekilas pengantar Kurzman dalam Liberal Islam-nya. Berikut beberapa catatan saya: 

Kurzman menjelaskan ada tiga “tradition”—yang meskipun bisa dibedakan tetapi tidak selalu mutually exclisive, bisa overlap, saling berkait, dan bahkan masing-masing tidak internally homogen. Tradisi pertama adalah, menurutnya, customary Islam—Islam yang dikarakterisasi dengan adanya kombinasi praktik setempat-lokal. Tradisi kedua, yang menjadi alternatif paling umum terhadap customary Islam, adalah Islam revivalis—sering juga disebut Islamis, fundamentalis, atau (sic!) Wahabis. 

Banyak analisis, katanya, berhenti pada dua jenis Islam ini saja, dan mengabaikan tradisi ketiga yaitu Liberal Islam. Bersama Islam revivalis, Liberal Islam sama-sama mendefinisikan dirinya kontras terhadap customary Islam. Yet, Kurzman wrote, Libreal Islam calls upon the past in the name of modernity, while revivalist (perhatikan bedanya—pw) might be said to call upon modernity in the name of the past. 

Ada beberapa versi Liberal Islam (nanti akan disebutkan), tapi hal utama adalah kritiknya terhadap baik customary Islam maupun revivalis apa yang sering diistilahkan oleh Liberal Islam sebagai “backwwardness” yanng mengakibatkan Islam tidak menikmati buah modernitas. 

Sebelum abad ke-19, perbedaan revivalis dan liberalis (sebut saja begitu—pw) belum jelas. Tapi setelah itu batasnya mulai jelas, baik pada tataran intelektual maupun institusional. Pada tataran intelektual, liberalis mencoba memisahkan ijtihad dengan taklid, akal dengan otoritas. Tokoh utamanya, tentu saja, al-Afghani, Ahmad Khan, dan ‘Abduh. Pada tataran institusional, terdapat tiga arus besar. Pertama, pembaruan institusi pendidikan di banyak negara (di Indonesia oleh KH Ahmad Dahlan dan Ahmad Soorkati). Institusi kedua adalah jurnalisme—yaitu maraknya berkala (periodicals) di banyak negara yang tentu saja topnya adalah al-Urwatsul Wutsqa (Abduh), al-Manar (Rasyid Ridha). Di Indonesia ada al-Munir al-Manar (Abdullah Ahmad). Institusi ketiga adalah jaringan intelektual internasional, utamanya berpusat pada Abduh di Mesir. Ahmad Dahlan, Ahmad Khatib, belajar di sana—seperti banyak intelektual dari Afrika, Anak Benua dll. Pusat kedua adalah di Istanbul, yang kemudian juga menyebrkan intelektual ke beberapa negara, hingga sampai Rusia. 

Lalu Kurzman memilihkan beberapa karya dari kaum liberalis dalam tema-tema wacana liberal, yaitu: a. Against Theocracy (a.l. Taleghani dan Al-Asmawi) ; b. Democracy (a.l. Natsir, Mehdi Bazargan, Ghannouchi); c. Rights for Women (a.l. Benazir Bhutto, Fatima Mernisi, Amina Wadud-Muhsin); d. Rights of non-Muslim (a.l. Chandra Muzaffar, Talbi), e. Freedom of Thought (Syariati, Qardawi, Arkoun, Soroush, An-Naim), dan f. Progress (Iqbal, Cak Nur, Mahmud Thaha, Fazlur Raman, Shabbir Akhtar). Mudah-mudahan memberi perspektif. 

AE Priyono:

Sebelum secara lebih serius nanti saya bikin komentar dan respon terhadap berbagai gagasan “Islam Liberal” yang selama ini hanya berada di bawah tanah itu, saya menyambut gembira dan menaruh harapan pada forum ini. Ya ... menaruh harapan adalah sebuah istilah yang di dalamnya juga terkandung makna “menyimpan keraguan.” Saya menaruh harapan agar forum ini bisa melanjutkan perdebatan-perdebatan lama yang sering sangat romantis itu, tetapi juga menyimpan keraguan karena bisa jadi forum ini hanya akan menjadi semacam diskursus elitis -- persis seperti yang dialami forum-forum “liberal” lainnya. 

Bagi saya, sekarang ini agama apapun, ideologi apapun, aliran pemikiran apapun, mazhab politik apapun, sedang menghadapi kenyataan yang sangat keras di Indonesia. Kenyataan yang keras-berdarah-yang-menyangkut-hidup-mati-sebagian-besar-orang, di tengah-tengah kebangkrutan kehidupan kolektif, seharusnya melahirkan sejenis kesadaran yang juga “keras” -- yang menuntut “lebih banyak amal daripada iman,” “aksi daripada sekadar refleksi.” 

Apakah Islam Liberal punya apresiasi pada jenis kesadaran yang berorientasi aksi itu? 

Kritik-diri sebenarnya sudah cukup banyak memberi kita ancang-ancang untuk reorientasi pada tumbuhnya sejenis kesadaran agama yang sama sekali baru. Toh religious-appeal yang selama ini diletakkan pada dataran etis sudah lama menjadi ampang dan kehilangan elan-vital. Hanya terkadang saja ia menyala lagi pada tingkat personal dan spiritual. Tapi apa makna percikan rohaniah agama jika ia hanya berada pada kesadaran subjektif? Bukankah itu hanya sejenis kepalsuan, sesuatu yang hanya maya, di hadapan kenyataan kehidupan sehari-hari masyarakat kita yang sedang meluncur ke titik nadir ini? 

Saya menginginkan “Islam Liberal” menyediakan refleksi empiris untuk dibangunnya sebuah corak moralitas sekular yang lebih dekat dan lebih punya apresiasi pada realitas. Karena sebenarnya di situlah agama mempunyai peranannya yang otentik. 

Zainal Abidin: 

Saya punya tiga pertanyaan; satu menanggapi Hamid, satu Denny, satu umum. 

Pertama, sejak hari pertama forum ini dimulai, saya menyimpan pertanyaan soal istilah “Islam Liberal” ini: apa dasar kategorisasi ini? apa yang membedakannya dari kategori2 “Islam X” lain? (Di halaman pertama makalahnya Luthfi menyebut sekian banyak “Islam X”--dan juga membandingkannya dengan “Kristen X”.) Belum sempat bertanya, ketika kembali ke dunia maya kemarin sore, saya menemukan sekian banyak posting soal istilah. Yang paling eksplisit adalah Hamid (dan disetujui Luthfi), yang menyebut kata sifat “progresif, pluralis, dinamis, modern, dan tentu saja demokratis” untuk mencirikan IL, sebagai perimbangan untuk yang “konservatif dan fundamentalis”. Seperti dikhawatirkan Hamid sendiri, saya kira ini masih terlalu longgar. It doesn't single out the 'liberal Islam'--setidaknya nama2 yang disebut di makalah Luthfi. 

Saya tak tahu bagaimana persisnya Kurzman mencirikan grup ini, tapi melihat nama2 yang muncul di bukunya, tampaknya dia juga terlalu longgar. Mernissi duduk bersanding dengan Qardawi, juga Arkoun; dari Indonesia ada Nurcholish ada juga Natsir; ada pula Iqbal dan Shabir Akhtar. Saya jadi bingung: apa common denominator orang2 yang sepintas tampak amat berbeda itu. “Liberal Islam calls upon the past in the name of modernity” --menurut ringkasan Putut-- masih kurang spesifik. Atau tidak? Apa memang kategori ini amat longgar? 

Ketika baru baca makalah Luthfi, saya berpikir para Islam Liberal itu dibedakan dari sikapnya terhadap tradisi, misalnya, atau dari metode tafsir mereka, atau dari segi agenda. Bandingkan dengan, misalnya, Fazlur Rahman yang punya pembagian revivalis, modernis, lalu dia memposisikan dirinya sebagai neo-modernis. Fazlur Rahman sendiri saya kira punya metode yang (cukup) spesifik soal bagaimana kita memperlakukan Alquran dan tradisi, juga punya agenda2 (cukup) jelas. Bisakah kita bandingkan “neo-modernisme” dengan “islam liberal” ala Kurzman (yang memasukkan Rahman dalam kategori ini) Kategori Kurzman tampaknya berpusat pada agenda (against theocracy, democracy, rights of non-muslims, dsb)--kalau begitu, apa dasar seleksi agenda itu? Mengapa sebuah agenda menjadikan suatu pemikran “liberal”, yang lain tidak? 

Atau, mungkin saya keliru sama sekali? Bahwa kategori ini punya maksud lain--tapi apa itu? Karena sebutan “progresif, dinamis, kritis, demokratis” biasanya berkonotasi positif, jangan-jangan ini cuma buat “keren-kerenan” menyebut diri sendiri--plus, saya kesulitan membayangkan org yang menolak disebut dengan kata2 keren itu. Sebaliknya, kata “konservatif dan fundamentalis”, rasanya lebih sering dipakai dengan nada pejoratif. Jadi, pertanyaan saya mungkin bisa dirumuskan kembali spt ini: apakah dasar yang baik untuk menyebut sebuah kelompok/pemikiran sebagai “liberal”, atau “progresif, dinamis, dsb”? Agenda, metode, atau yang lain? (Bisa jadi pertanyan2 ini karena kenaifan saya saja, yang tak cukup punya ilmu kategorisasi: apa yang mesti diperhatikan ketika kita menciptakan sebuah kategori? bagaimana cara mengkrtitik kategori? dsb). 

Kedua, ada satu hal penting yang mungkin berhubungan dengan poin di atas, mungkin juga tidak. Berdasarkan hasil cut and paste yang semoga tak menghilangkan konteks, Denny menulis begini: “yang akan kita perjuangkan bukan interpretasi Islam yang lain, tapi interpretasi Islam yang liberal”, yaitu, di posting lain: “interpretasi Islam yang mendukung atau paralel dengan civic culture (pro-pluralisme, equal opportunity, moderasi, trust, tolerance, memiliki sense of community yang nasional).” Kalau begitu, tolok ukurnya adalah “civic culture” itu--ini mungkin bagian yang disebut sebagai kultur liberal itu. 

Pertanyaan saya, di mana Islamnya? apa fungsi Islam dalam islam liberal--kasarnya: kesannya kok islamnya plastis, bisa dibelokkan ke arah preferensi penafsir? Kalau dalam penulisan sejarah kecenderungan presentisme sering dikritik karena menggunakan tolok ukur masa ini untuk memahami masa lalu, saya lihat kecenderungan semacam itu di tulisan Denny dalam bentuk lain: kita yakin dulu dengan ideal-ideal civic culture, lalu kita baca Islam (lebih tepatnya, mungkin: Alquran) dalam konteks ideal2 itu. Tapi kalau manusia Islam liberal berdebat dengan manusia islam non-liberal (yang pasti juga punya bacaan lain terhadap Islam/Alquran), apa tolok ukurnya? Apa argumen untuk menyatakan tafsirku lebih tepat/bagus dibanding tafsirmu. Apakah, ultimately, mungkin, argumen yang bisa diberikan adalah kebagusan2 civic culture itu? Itu sebabnya saya bertanya: Lalu, apa fungsi Islamnya? Kalau al-Quran berbicara bahwa Islam adalah rahmat untuk alam semesta, di mana letak rahmatnya? Dalam penafsiran yang menjadikannya sejalan dengan civic culture itu? Kok rasanya janggal ya: “penafsiran yang menjadikannya sejalan dengan ...”? 

Untuk kejernihan, perlu saya tekankan bahwa saya tak mempertanyakan keunggulan civic culture; tapi ini soal metode penafsiran. Dalam konteks inilah di atas saya tulis bahwa neo-modernisme Rahman dalam hal ini jauh lebih jelas dari “Islam liberal”, yang makna istilahnya masih kita perdebatkan. (Saya tak ingin membandingkan/mempertentangkan substansi gagasan keduanya; ini pernyataan dalam konteks kejelasan kategorisasi). Kemungkinan saya salah memahami tulisan Denny, tapi semoga dengan ini kemungkinan salahpaham bisa diluruskan. 

Ketiga, barusan di mobil saya dengar lagu Whitney Houston dari soundtrack Bodyanguard: Jesus loves me/ Yes, I know/ For the bible tells me so.... Lalu saya berpikir: kalau paralel dengan islam liberal ada kristen liberal, apakah Whitney (yang gaya hidupnya konon “relatif liberal”) bisa dianggap “Kristen Liberal”? 

Saiful Mujani:

Karena keterbatasan pengetahuan saya, saya merasa selama ini (setidaknya 20 tahun terakhir) diskusi kita tentang Islam, termasuk islam liberal ini, belum banyak mengalami kemajuan, termasuk untuk pertanyaan-pertanyaan dasar seperti yang dikemukakan Zen (Zainal Abidin). Diskusi memang tidak boleh selesai, tapi merasa tidak mengalami kemajuan adalah perasaan yang menggaggu. Perasaan bosan kemudian muncul, dan mencari kompensasi, melewatkan umur yang tersisa dengan urusan-urusan remeh temeh barangkali sehingga pertanyaan-pertanyaan besar terlupakan atau dilupakan. 

Neo-modernisme Rahman, ya kembali mengingkatkan diskusi kita 15 tahun lalu. Kategori atau konsep ini jelas? Ya, cukup jelas kalau dibanding “Islam liberal” barangkali. Rahman telah merumuskan dasar-dasar metodologi neo-modernisme: yakni “bolak-balik” antara modernitas, tradisi, dan Alquran. Tapi yang cukup jelas ini pun masih menyisakan pertanyaan besar yang bagi saya merupakan salah satu sumber penting dari munculnya ketidak-jelasan-ketidak-jelasan baru seperti dengan istilah “Islam liberal” itu. Atau memang, barangkali akan ada yang berpendapat, bahwa ketidakjelasan itu merupakan bagian dari kita. Dan karena itu tidak bisa dihindarkan. Oke, tapi saya tetap punya hasrat terhadap kejelasan walapun tetap, barangkali, tidak akan mencapainya. 

Ketidakjelasan dari Rahman yang saya maksud tetap berkisar pada masalah apakah kita harus membaca tradisi dari pengalaman modern, atau sebaliknya. Rahman mencoba mencari “jalan tengah” dengan metodenya itu, dan hasilnya tertuang barangkali dalam Major Themes of the Qur'an. Tentang ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa pada dasarnya Rahman “mengumpulkan” tradisi dan ayat-ayat Alquran dan membacanya dengan semangat modernitas. Kesimpulan ini bisa salah. 

Ingin saya katakan bahwa dalam hal ini Rahman tidak salah, tapi jangan bilang bahwa neo-modernisme Islam adalah kritik terhadap modernisme dan telah melahirkan kategori yang lebih baik secara metodologis dan substantif. Untuk strategi dakwah dan berretorika, untuk mobilisasi massa, atau bahkan untuk jualan di lingkungan massa yang punya attachment kuat terhadap ayat-ayat, hadith-hadith, dan pemikiran-pemikiran para ulama klasik, metode Rahman barangkali sangat membantu. 

Jadi, kalau meneruskan pertanyaan Zen, apa Islam-nya di situ? Ya, bahasa, kalau bukan bahasa memangnya apa lagi? Tidak ada “realitas” di luar bahasa! Tapi sebagai seorang modernis/neo-modernis Rahman tentu percaya yang dikerjakannya bukan hanya masalah bahasa. Lebih dari itu. Apa itu? Ya agenda-agenda modernitas: kemanusiaan, kebebasan, bla-bla ... Islam liberal pada tingkat teologis/filosofis barangkali sangat beragam dan tidak ada elemen-elemen yang baru: 

1. Skeptis terhadap dunia di luar dunia material. Tuhan yang personal, yang berjenis kelamin, yang berkeinginan mengganjar dan menyiksa, bla-bla ... diragukan keberadaannya. Apakah itu Tuhan, dan apakah ia ada, selain materi, adalah pertanyaan-pertanyaan diluar kapasitas manusia untuk menjawabnya .... Karena itu lebih baik membisu ... skeptik atau agnostik .... Dari sini, wahyu dari Tuhan bagi manusia secara langsung diragukan. 

2. Apa artinya “Islam” dalam “Islam liberal” kalau punya pandangan filosofs semacam ini? “Islam liberal” dalam pengertian dasar seperti ini adalah skeptisisme atau agnostisime yang hidup dalam masyarakat Islam. Seorang leberal Islam ini adalah seorang agnostik atau skeptik tapi ingin tetap diakui sebagai bagian dari komunitas di mana ia hidup, yakni komunitas Islam ... Islam menjadi penting sebagai label untuk menyiasati social punishment, bahakan untuk menciptakan integrasi sosial karena pada dasarnya siapapun, termasuk yang skeptis bahkan yang ateis sekalipun, engga sanggup hidup kesepian sendirian ... Salat, puasa, ngaji, haji, dll., dilakukan bukan untuk Tuhan, tapi untuk masyarakat, untuk integrasi sosial ... Jadi, Islam lebih menyangkut bahasa dan kenyataan sosial ... Saya ingin katakan secara teologis/filosofis, Islam liberal dapat mengakomodasi isan-insan skeptik ini. 

3. Tapi skeptisisme dicoba dipecahkan dengan cara lain, yakni mistisisme atau tasawuf. Hasilnya adalah pengalaman spiritual yang personal sifatnya dengan Yang Ada, atau Tuhan. Karena pengalaman ini pribadi, di mana orang lain tidak mengalaminya, maka mistisisme bisa menjadi landasan bagi Islam liberal, yakni menjadikan urusan agama sebagai urusan pribadi saja. Tapi pengalaman mistik ini bisa menggoda kita jath ke dalam bentuk agama sebagai kekuatan politik: ketika pengalaman spiritual diwartakan kepada orang lain, dan orang lain ini percaya, dan dari sini komunitas Islam yang berpatokkan pada pengalaman keagamaan personal ini bisa tumbuh. Pengikut yang tidak punya pengalaman mistik membesar melalui proses kompleks. 

Dari sini, berislam bukan saja berarti berkomuniti tapi juga bisa berpolitik. Fundamentalisme bisa tumbuh dari sini. Seorang mistis yang berisam liberal tidak akan punya pengikut karena akan mencegah dan tidak akan mewartakan kepada orang lain pengalaman mistiknya itu. 

Luthfi Assyaukanie: 

Definisi memang penting, seperti yang pernah dikatakan Ibn Sina: “Tanpa definisi, kita tak akan pernah bisa sampai kepada konsep.” Karena itu, definisi, menurut filsuf Iran itu, sama pentingnya dengan silogisme (baca; logika berpikir yang benar) bagi setiap proposisi yang kita buat. Tapi, pandangan Ibn Sina itu bukan tanpa penolakan. Ibn Taymiyyah adalah orang yang paling gigih menolak definisi sebagai satu-satunya cara untuk sampai ke pengetahuan tentang konsep. Baginya, ada banyak konsep atau istilah yang kita pahami, sepakati, dan rasakan bersama, tanpa harus melewati definisi-definisi yang ketat. 

Tentu saja, saya tidak ingin mengatakan bahwa definisi tidak penting. Tapi, saya ingin menggunakan penolakan Ibn Taymiyyah terhadap definisi itu, untuk menyelamatkan istilah “Islam Liberal” dan segala cognate-nya yang saya pergunakan dalam forum ini. Seperti yang pernah saya singgung, Anda bisa menggunakan istilah apa saja yang bisa mewakili makna dan maksud Islam Liberal. Kenapa? Karena untuk menghindari problem definisi yang sangat menjengkelkan itu. Saya melihat ada substansi persoalan yang lebih penting dari sekadar definisi. 

Kalau kawan-kawan mencermati makalah saya, saya sebetulnya tidak terpaku kepada istilah. Penggunaan istilah itu, seperti dikatakan Fyzee, hanyalah nomenklatur untuk memudahkan kita semua, merujuk sebuah fenomena Islam yang berkembang sejak era kebangkitan --abad ke-19-- (kendati akar-akarnya sebetulnya telah dimulai jauh sebelum itu). Istilah Islam Liberal mungkin sama dengan istilah “kiri” dalam wacana pemikiran Barat modern. Kata Anthony Giddens, istilah itu sulit diuraikan, tapi juga sulit untuk ditolak, karena hingga kini, masih ada saja yang menggunakannya. Karena itu pula, dalam makalah itu, saya menggunakan istilah “kiri” buat murid-muridnya Muhammad Abduh yang progresif, pluralis, dan --too some extent-- sekular. Dan secara paralel, saya menganggap yang “kiri” itu sebagai yang “liberal” dan yang “kanan” sebagai yang “konservatif” (dalam pemahaman keagamaan) dan yang “fundamentalis” (dalam sikap politik). 

Tadinya, saya mau taken for granted saja agar kecemasan yang seperti Saiful perlihatkan --kita selalu berkutat pada level kulit dan tidak pernah ke substansi-- tidak terjadi. Tapi, hal itu ternyata sulit dilakukan (atau ini karena kelemahan saya semata untuk menjelaskan konsep ini kepada orang-orang yang sangat concern dengan definisi). Karena itu pula, agaknya, ajakan saya untuk lebih maju sedikit, mendiskusikan tema-tema Islam Liberal, kurang mendapat tanggapan. 

Zainal Abidin:

Kalau saya menuntut kejelasan soal istilah, itu semata2 dalam fungsinya untuk memaksa menjernihkan pemikiran kita; konvensional saja; tak perlu kita bersiteguh pada definisi; definition is negotiable. Sampai di sini, filosof analitik yang paling alergi dengan definisi pun akan menerimanya. Saya berbagi concern dengan mereka bahwa kecerobohan berbicara sering menjadikan no-problem menjadi metaphysical problem yang insoluble. (Sekali lagi, ini tak perlu berimplikasi pada keyakinan bahwa ada sesuatu yang disebut “meaning” yang fixed, or something like that; that's a different subject.) Definisi sekadar berarti kesepakatan awal sebagai titik berangkat pembicaraan kita. 

Saya juga tak sepakat kalau pembicaraan soal apa yang kita maksudkan dengan “Islam liberal” hanya menyangkut kulit, sebagaimana dibuktikan oleh respon Saiful yang amat bagus. Saya hanya ingin kita tak terlalu cepat take for granted asumsi2 kita, dan membayangkan bahwa kita share itu semua. Respon Saiful saya kira menohok amat tajam ke salah satu akar penting islam liberal. Karena itu saya ingin menjawab kebaikan dan kelugasan Saiful dengan respons yang serius juga, setelah ini. Sambil agak malu-malu menyebut nama Wittgenstein, saya ingin sedikit

mengutip pandangannya yang inspiring buat saya. Katanya, amat banyak persoalan yang tampak insoluble karena akarnya ada pada sesuatu yang taken for granted (yang tampak common sense saja), ada pada level sebelum sesuatu itu menjadi teori, dan lalu menjadi problem. Karena itu yang perlu dilakukan bukanlah solve the problem, tapi dissolve it. Itulah yang ingin saya lakukan dg pertanyaan-pertanyaan saya sebelum ini: bukan untuk dissolve istilah islam liberal, tapi mencari akarnya dulu. 

Soal Rahman, Saya punya kritik yang persis sama terhadap Rahman. Salah satu cermin bagus ketakjelasan dalam kejelasannya adalah ketika dia mencoba mempertahankan posisi “objectivity school of hermeneutics” dia dari kritik Gadamer. (Kalau nggak salah di pengantar Islam and Modernity). Yang saya pujikan dari dia, kalau saya masih ingat pandangannya dengan cukup akurat, dia mengakui bahwa kritik Gadamer bisa menggoyang dia, tapi seakan-akan dia bilang, ... Objektifitas adalah ideal yang mungkin tak tercapai, tapi kita mesti berjalan terus, bahkan mungkin sekalipun dengan resiko bahwa perjalanan kita menjauh dari the truth, yang kita tak tahu persis. Setidaknya Rahman punya titik berangkat yang amat bagus: punya metode dan mengakui keterbatasannya. Kalau saja dia punya murid-murid cemerlang yang mau meneruskan jalan yang sudah dia rintis, jalan yang pasti panjang dan berkelok-kelok, saya yakin akan ada kemajuan cukup berarti. Sayangnya, sejauh yang saya tahu, tak ada murid-murid itu. 

Tentang sikap agnostik, menurut saya, sikap agnostik adalah sikap yang “secara ilmiah” (maksudnya sejauh menyangkut evidence yang ada) paling dapat dipertanggungjawabkan, karena burden of proof yang dipikulnya tak terlalu berat--dan pada gilirannya ini memang karena muatan klaimnya paling sedikit. Karena itu jugalah, seharusnya, sekali lagi menurut saya, this should be the last resort (as if there is such a thing in an intellectual journey!). Maksud saya, inilah poin yang pasti tak kontroversial: pekerjaan intelektual adalah pekerjaan yang tak pernah selesai, dengan reward yang tak selalu jelas, sehingga kemungkinan capek di tengah jalan amat besar. Buat saya, mau menjadi agnostis atau tidak, ujung-ujungnya tetap sama: tak pernah selesai. 

Believer ataupun agnostis saya kira bukan “status” yang statis; bukan terminal intelektual akhir. Sebagaimana seorang believer, tugas seorang agnostik berikutnya adalah konsisten--dan ini yang paling sulit. Maksud saya, konsisten dengan agnostisismenya; menghindari klaim-klaim yang terlalu bermuatan tinggi. 

Satu contoh bagus untuk agnostik konsisten, menurut saya, adalah Camus—yang dengan agnostisismenya tak tergoda untuk bikin klaim2 besar, dan dengan begitu sekalipun dia menunjukkan masih bisa hidup dengan optimisme tinggi, dan dengan intellectual integrity. Kekaguman saya terhadap dia, sejak karya pertamanya yang saya baca, “Sampar”, hingga kini tak berkurang. 

Soal intellectual integrity berhubungan dg point saya selanjutnya, tentang fungsi Islam yang amat minimal sekali, yaitu untuk menghindari social punishment. Saya tak mengingkari bahwa social punishment bisa amat berat (ingat kaus Nasr Hamid Abu Zaid!). Tapi, tak salahkan kalau saya katakan dengan lugas (dan semoga tak terkesan kasar), bahwa fungsi Islam di sini menjadi hanya sebagai lip service? Dan jika keislaman itu lalu digunakan sekadar sebagai sarana social acceptance, tidakkah ini juga jadi manipulatif? Why Islam at all? Tidakkah kita bisa hidup survive, dengan amat terhormat, dengan intellectual integrity, tanpa Islam sekali pun? Jangankan cuma survive, seorang ulama berjenggot dan berjubah seperti Muthahhari bahkan berani “menjamin” seseorang yang skeptis masuk surga --hypothetically tentunya-- asalkan kejujuran intelektualnya terjaga. 

Kalau sekadar mengakomodasi insan skeptik, saya kira semestinya tak ada problem besar. Satu-satunya jenis manusia yang tak dapat diterima Islam, dalam pemahaman saya, hanyalah yang “kafir”--dan ini tentu tak sekadar berarti non-muslim, tapi menurut etimologinya (kafara=to cover) berarti menutupi/mengingkari sesuatu yang sebenarnya sudah diketahui. Dan mustahil bagi seorang agnostis/skeptik untuk menjadi “kafir” karena justru yang bisa ditutupi itu virtually tak ada. Dengan pemahaman seperti ini, sebetulnya mengkafirkan orang di depan publik adalah contradictio in terminis--karena kategori ini adalah kategori batiniah, fully private. Tanpa pengetahuan pasti tentang sejarahnya, saya nyaris yakin istilah takfir/pengkafiran muncul dlm sejarah Islam sepenuhnya karena alasan politis. 

Kesimpulannya, menurut saya: “kafir” bukanlah kategori legal, tapi lebih merupakan kategori etis/moral. Jadi, jangankan skeptis/agnostis, “kafir” pun effectively tak akan membawa pada excommunication, alias kesepian, sebagai social punishment. Saya bahkan membayangkan seorang seperti al-Ghazali (yang dalam bayangan kita mungkin hampir pasti tak dapat digolongkan Islamlib, dan yang di beberapa komunitas karyanya dihapal di luar kepala sebagai semacam jimat) ketika pada umurn 40 tahun meninggalkan kota dan hidup menyendiri, bahwa dia mengalami kegelisahan dan kesumpekan yang luar biasa yang menyebabkannya skeptis pada Islam yang dikenalnya. So, it's really not something new. Menarik untuk mengkaitkan ini dengan analisis Saiful soal mistisisme. 

Lalu, kalau kembali ke persoalan IsLib sebagai kategori, lepas dari kesetujuan/ketaksetujuan terhadap pemahaman tentang Islam yang amat minimal ini, saya tak yakin orang-orang yang digolongkan dalam Islamlib (gampangannya, ambil saja dari kategori Kurzman) menganut pemahaman seperti ini. Misalnya saja, Iqbal, juga Rahman yang mengkritiknya, atau bahkan Qardhawi, saya tak yakin ada di sini. Soroush sekalipun--yang dengannya saya pernah ngobrol dua kali, sekali di Kuala Lumpur, sekali di Teheran --sejauh pengamatan saya tak menunjukkan indikasi pemahaman spt ini. 

Taufik Adnan Amal:

Saya sepakat dengan Luthfi, istilah “Islam liberal” tidak perlu didefinisikan. Kalau dibatasi, tentunya tidak liberal lagi. Jadi, maknanya biar berkembang secara liberal di kepala peserta diskusi. Istilah “Islam Liberal” yang diperkenalkan Fyzee – lihat karyanya, A Modern Approach to Islam (London: Asia Pub. House, 1963)-- terkait dengan upayanya “to understand it (Islam) for today, not as it was in the past, nor as it may be in the future” (p.110). Fyzee mengajukan skema penafsiran Islam liberal sebagai berikut: 

(i) Study of History of Religions 

(ii) Comparative Religion of the Semitic Races 

(iii) Study of Semitic languages and philology 

(iv) Separation of Law and Religion 

(v) Re-examination of shari'a and kalam 

(vi) Reinterpretation of cosmology and scientificfacts (pp.95 ff., berikut penjelasannya). 

Secara metodologis, gagasan Fyzee di atas dirumuskan secara lebih sistematis oleh Fazlur Rahman dalam metode tafsirnya (Saiful akan curiga dengan preposisi ini), sekalipun -- dari sisi gagasan -- Fyzee terlihat lebih kaya, karena memasukkan kajian-kajian terhadap sejarah agama-agama, perbandingan agama-agama Semit, dan bahasa-bahasa Semit serta filologinya. Agenda Fyzee, tentu saja, masih relevan dan mesti dikembangkan, ditambah dengan agenda-agenda yang dirumuskan Luthfi serta peserta diskusi lainnya. Tetapi, saya agak alergi dengan pendekatan-pendekatan terhadap Alquran yang selama ini memperlakukan mushaf yang ada di tangan kita sekarang sebagai satu-satunya mushaf (textus receptus), atau --meminjam istilah
Arkoun-- sebagai Korpus Resmi Tertutup. Islam liberal hendaknya bisa mempertanyakan premis semacam itu. 

Saiful Mujani:

Saya tambahkan sedikit supaya tidak salah faham. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa orang dalam Islam liberal yang skeptik atau agnostik sebagai orang yang tidak punya integritas intelektual. Kalaupun Anda benar, maka bagi saya integritas intelektual bukan hal yang utama dalam berislam liberal. Yang utama adalah “kelangsungan hidup.” Jadi lebih dasar dan lebih nyata. Orang tidak mungkin bisa hidup tanpa komunitas dengan kompleksitas norma-norma yang berjalan di dalamnya di samping mengikuti kaidah-kaidah fisik, termasuk nafsu-nafsu manusiawi. 

Misalnya, saya yang lahir dengan nama “saiful” dari keluarga santri tidak mungkin bisa survive secara optimal sesuai dengan bakat dan kemampuan saya bila saya mengingkari latar belakang saya ini ketika saya kembali ke dalam komunitas saya (santri, atau Islam). Walaupun misalnya saya seorang agnostik, ragu apa artinya salat, puasa, dll., saya akan berusaha melakukannya ketika saya berada dalam komunitas itu demi survival. Ketika saya misalnya berada dalam komunitas lain (katakanlah di Amerika) signifikansi salat dan puasa secara sosial dan bahkan politik tidak ada, sehingga tidak melaksanakannya juga tidak apa-apa. 

Lain halnya kalau saya kembali ke kampung saya di Banten, apalagi kalau masuk partai politik Islam. Masuk partai politik sekuler pun, demi political survival, saya akan menjalankannya sebisa saya supaya terlihat baik oleh massa pendukung yang mayoritas taat beragama itu. Kelangsungan hidup bagi rata-rata jamaah Islam liberal ini, saya kira, bukan sekedar bisa makan, tapi juga karir intelektual, akademik, politik, dll. 

Jadi, Islam liberal itu adalah Islam boong-boongan? Munafik? Saya tidak tahu. Kalau mau disebut munafik, maka yang tidak munafik itu siapa? Kalau ukurannya intellectual integrity, maka saya berislam bukan karena intellectual integrity itu tapi karena percaya saja: Saya tidak tahu apakah Tuhan yang personal yang memberi wahyu kepada nabi itu ada atau tidak. Saya juga tidak tahu apakah surga dan neraka yang kita “tahu” lewat kisah-kisah yang kita serap dari kecil itu ada atau tidak. Tapi saya percaya pada semua itu. Jadi, bukan “tahu” tapi “percaya.” Maka kalau intellectual integrity ukurannya, barangkali saya sebagai seorang Muslim adalah seorang yang munafik. 

Berislam liberal bagi saya barangkali bukan saja menyangkut survival tapi juga masalah social intellegence, yakni kemampuan melakukan penyesuaian sesuai dengan lingkungan sosialnya. Kalau Nirwan mengatakan bahwa Islam itu rahmat bagi semua, maka menempelnya Islam dalam “Islam liberal” sehingga membuat orang yang berada di dalamnya survive dalam komunitas Islam (apakah itu sebagai intelektual, akademisi, politisi, dll.) menunjukkan makna dari ungkapan itu. 

Zainal Abidin:

“The suffocating form of Islam” adalah istilah yang dipakai seorang wartawan dalam pemberitaan tentang Taliban beberapa waktu lalu. Sebuah istilah yang betul-betul tajam (menurut kamus, salah satu arti kata “suffocating” adalah “stuffy”, menghimpit!). Membaca komentar Saiful tentang keislaman sebagai sarana survival, saya langsung teringat istilah ini. Saya berpikir, survival dalam bentuk, istilah Saiful, “Islam bo'ongan” jelas akan jadi urusan utama dan pertama dalam komunitas dengan “a suffocating form of Islam.” Sebuah komunitas yang menghimpit, sumpek dan bikin sumpek, atas nama Islam. Bisa jadi kesan yang saya tangkap salah; istilah ini mungkin terlalu dramatis untuk itu. 

Bagaimana pun, setelah sekian banyak episode menyedihkan yang melibatkan Islam di Indonesia sekali pun, saya tetap merasa komunitas kita “relatif liberal”, atau, minimal, mengakomodasi Islam liberal seperti yang dideskripsikan Saiful. Membandingkan dengan Afganistan Taliban mungkin terlalu jauh; tapi kita bisa membandingkan dengan Malaysia, yang sembilan biji Sultannya hari-hari ini masih bisa berkumpul dan memutuskan apakah sebuah partai berhak memakai nama Islam. (Beritanya saya attach di bawah.) Saya kira atmosfir kita masih lebih lega dan tak memaksa lahirnya Islam bo'ongan. 

Hamid meng-encourage kita untuk berbicara soal pengalaman pribadi, dan Saiful sudah memulai. Untuk saya sendiri, yang tak terlalu bangga dengan penghayatan keislaman saya (bukan karena soal apakah penghayatan itu benar atau salah, tapi lebih karena faktor cognitive dissonance), saya tak pernah merasa hak moral saya untuk berbicara tentang Islam (yang amat jarang saya lakukan) atau hidup sesuai dengan Islam yang saya pahami, berkurang karena penghayatan itu, sejauh saya merasa jujur terhadap diri sendiri. Kalau saya menggunakan istilah intellectual integrity, sebetulnya itu frase untuk menyebut kejujuran terhadap diri sendiri dalam konteks partisipan forum ini, yang saya yakin sebagian besar, kalau tak semuanya, adalah orang2 berpendidikan cukup--so it's about life too, not just some dry academic stuff. 

Hak saya untuk hidup dengan Islam menurut pemahaman saya tak berkurang karena, seperti saya tulis di email sebelumnya, saya sepakat dengan Muthahhari (ulama berjenggot dan berjubah itu) bahwa what ultimately counts is sincerity. Agnostik, skeptik, believer 1, believer 2, believer X, dsb adalah istilah2 temporer untuk terminal2 dalam dinamisme perjalanan kita. Selama tak puas berhenti pada satu terminal, dan selama saya bisa mempertahankan keikhlasan--plus, tentunya, tak menutup diri--saya merasa punya hak keislaman yang sama dengan Muslim manapun--termasuk dengan para kyai atau ayatullah—seperti apapun kelirunya pemahaman saya menurut Muslim lain. Dengan itu, saya pribadi, saya akan menolak keras kalau Islam saya disebut Islam bo'ongan, seperti apapun “bo'ongan”-nya Islam saya menurut orang lain. It goes without saying: kalau penghayatan itu sampai membawa konsekuensi ke ruang publik, jelas kita mesti tunduk pada hukum. Di sinilah soal apakah bentuk Islam komunitas kita suffocating atau tidak jadi relevan; dan seperti saya tulis di atas, saya percaya atmosfir komunitas kita masih cukup melegakan--thanks partly to perjuangan Nurcholis dkk sejak 30 tahunan yang lalu. 

Tolok ukur terpenting bukanlah pemahaman “konservatif”, fundamentalis”, atau “ortodoks” dari mayoritas, tapi ya integritas itu (keikhlasan/kejujuran). Hamid mungkin tak setuju dengan yang batiniah seperti itu; tapi saya kira kalau kita bicara soal agama, ultimately ini adalah persoalan pribadi; yang publik adalah limpahannya. 

Untuk kesekian kalinya saya ulangi: saya sadar bahwa sikap seperti ini bisa diambil hanya dalam komunitas yang tak memiliki “perwakilan” sebuah penafsiran resmi atas agama yang mengikat secara hukum; yang tak “suffocating”. Dan komunitas kita, saya yakin, masih menawarkan atmosfir yang memungkinkan kita bernafas dengan lega. Dalam hal-hal tertentu kita perlu strategi khusus menyembunyikan sesuatu yang privat, saya kira itu persoalan biasa dalam hidup sehari-hari; tak cuma menyangkut keislaman, dan tak perlu dibawa sampai ke tingkat teologi/metafisika. 

Selanjutnya, saya juga baru paham kenapa Luthfi bersikeras tak perlu menjelaskan istilah Islam liberal ini. Email Taufik soal ini, meskipun amat singkat, membuka mata saya. Sebelum ini saya, yang bacaannya tentang pemikiran Islam kontemporer amat minim, berpikir ini adalah semacam technical term. Ternyata tidak. Tapi lebih merupakan istilah generik untuk menyatakan kumpulan respons Muslim terhadap modernitas (dan mungkin sekarang posmodernitas) yang memiliki karakteristik tertentu. Rupanya ketika Hamid menulis “progresif, dinamis, kritis,” dsb, itu merujuk ke kumpulan respon ini. Kalau begitu, ada satu frase lain yang mungkin lebih tepat: “terbuka pada arus pemikiran dari luar Islam.” “Luar” bisa berarti agama2 lain, filsafat2 baru yang berkembang di luar komunitas Islam, perkembangan sains, perkembangan sistem2 sosial, dsb. 

Kalau saya boleh menambahkan sedikit kesimpulan saya: Islam liberal tak niscaya menuntut skeptisisme/agnotisisme, tapi bersedia mengakomodasinya. Mengambil contoh Muthahhari lagi, yang berani menjamin surga untuk skeptik yang ikhlas (see my previous email): salah satu agenda dia sebelum revolusi iran adalah mengcounter paham Marxisme yang merebak di kalangan anak muda Iran masa itu. Tapi dia meng-counter bukan dengan fatwa; dia bahkan pernah menyarankan pesantrennya untuk mengundang seorang Marxis tulen dari luar untuk berbicara di sana, agar murid2nya tahu Marxisme dari tangan pertama, bukan dari orang yang sudah siap dengan kritik2nya. Sayangnya, orang seliberal mullah yang satu ini justru akhirnya mati ditembak orang2 yang menganggap dirinya “Islam kiri.” Ironis. 

Saiful Mujani:

Maaf kalau saya kurang berhasil dalam bertutur. Dalam e-mail terakhir saya, saya tidak bertutur tentang keberagamaan pribadi saya, saya hanya membuat perumpamanaan-perumpamaan, mungkin salah memilih kata ya. Saya juga ingin meluruskan kalau ada kesan bahwa Islam liberal harus agnostik/skeptik. Saya hanya bertutur bahwa di kalangan intelektual sikap agnostik ini kemungkinan ada, dan dalam umat mainstream ini biasa menjadi persoalan, tapi Islam liberal harus mengakomodasinya. Bukan hanya terhadap yang agnostik, terhadap yang a-teis pun saya kira Islam liberal harus mengakomodasi dan bahkan melindungi agar dia tetap mendapat hak yang sama sesama warga negara. Terhadap yang fundamentalis juga harus bersikap sama asal yang fundamentalis ini tidak merusak tatanan kesetaraan sesama warga. Anda mungkin benar bahwa Islam kita di tanah air tidak sesumpek di negara-negara yang anda sebutkan itu. Tapi jangan lengah, dan tidak ada jaminan intelektual untuk mempertahankan atau membuatnya lebih baik. 

Ada contoh kecil yang mungkin tidak signifikan untuk menggambarkan perlunya kesiagaan ini: Ketika FPI melakukan pengadilan jalanan dengan merusak sasaran-sasaran rajianya, saya bertanya pada seorang intelektual yang saya kira liberal, yang sering nongol di media massa, “kenapa anda tidak bersuara terhadap kelakukan ini?” Yang keluar dari mulutnya adalah ungkapan rasa takut terhadap gerakan macam ini. 

Bagi saya, Islam liberal membutuhkan semacam filsafat untuk membangun Islam yang inklusif dan toleran. Bagi saya masalah yang serius di dunia islam sekarang menyangkut masalah toleransi ini, dan masalah ini terletak sebagian dalam filsafat atau metafisika kita. []


Bagi artikel ini


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co