free page hit counter

Wawancara saya dengan saya - Jim Supangkat

Tanya: Apakah Anda bisa mengurai­kan nilai-nilai seni rupa Indonesia?

Jawab: Tidak!

 

T :   Wah. jawaban Anda rasanya ter­lalu singkat, padahal saya yakin Anda bisa menjawabnya lebih panjang. Apa Anda bisa menjelaskan jawaban singkat Anda itu?

J :    Ya, sebab saya belum melihat nilai yang sungguh-sungguh berarti dalam seni rupa kita yang bisa diuraikan.

T :   Anda mengatakan "belum" seolah-olah seni rupa bagi kita semacam mainan baru. Saya kira. Anda boleh ti­dak gembira melihat perkembangan seni rupa yang disebut moderen, yang sering Anda caci-maki, tapi Anda melupakan kegiatan-kegiatan seni rupa lainnya, di Bali misalnya, apakah sung­guh-sungguh tak ada nilai yang bisa diuraikan?

J:     Saya kira di situ letak ke-takmengertian Anda, Anda menga­caukan istilah "seni rupa". Secara res­minya, seni rupa adalah seni rupa yang Anda katakan moderen itu. Sebab seni rupa itu adalah satu-satunya yang ber­akar pada batasan seni rupa.

T :   Apa sebetulnya batasan seni rupa yang Anda maksudkan?

J :    Kita cuma punya satu batasan seni rupa, itu pun batasan bahasa. Apa boleh buat yang ada cuma itu. Anda bisa melihat itu dalam Kamus Umum Baha­sa Indonesia buatan Purwadarminta, di mana di situ dicantumkan: Seni rupa adalah seni lukis dan seni pahat (mak­sudnya seni patung). Dan batasan ini masih dipakai di hampir semua aka­demi seni rupa, terlihat dalam caranya membagi jurusan dan penghargaan­nya terhadap media-media pembagiannya.

T :   Rasanya masih sukar diterima mengapa cuma seni rupa moderen yang bisa dimasukkan ke situ. Saya belum melihat tanda-tanda penjelasan Anda menuju ke situ.

J :    Kalau saya katakan seni lukis. Anda pasti bisa menerimanya bukan? Mana ada seni lukis dalam kesenian lama atau kesenian tradisional kita. Dan di lain bagian, adalah caranya mengelom­pokkan seni lukis dan seni patung, ini menunjukkan prinsip estetika tertentu.

T :   Wah, Anda bisa dikatakan berpikir terlampau "akademis".

J :    Saya kira tidak. Saya hanya mau menghargai sesuatu yang sudah diakui bersama, katakanlah semacam "atur­an main" dan ini tidak berarti saya setuju, apalagi menganut batasan yang sudah diakui itu.

T :   Tapi, apakah Anda tidak bisa mene­rima batasan: Seni rupa adalah gejala kesenian yang melibatkan masalah ru­pa? Batasan ini kan bisa dibuahkan berdasarkan logika saja.

J :    Wah, Anda jangan menganggap bahwa logika begitu saja bisa membuahkan kesimpulan yang sama pada kepala setiap orang, logika bukan me­sin macam komputer. Tapi OK saya anggap Anda bersikap kritis, dan memang seharusnya kita menggugat batasan seni rupa yang su­dah diakui dengan postulasi yang Anda sebutkan tadi. Tapi ingat, itu berarti "meruntuhkan" dulu batasan yang su­dah sama diakui, dan membangun batasan lain. Tidak begitu saja melon­tarkan pendapat.

T :   Huh, Anda terlalu mendramakan masalah batasan itu, seolah-olah dibutuhkan "revolusi" untuk problema yang barangkali sederhana saja. Seolah-olah semua orang harus ber­pikiran sama tentang sesuatu batasan.

J :    Memang masalah batasan adalah masalah bersama, ia akan berhubung­an langsung dengan imaji kita tentang sesuatu. Tanpa itu, tanpa aturan main, kita tak akan mampu membangun sua-tu pikiran yang berarti, barangkali berkomunikasi saja sulit. Ini tidak ber­arti orang kemudian harus mempunyai pendapat yang sama tentang sesuatu hal, tetapi orang harus mempunyai imaji yang sama tentang sesuatu per­soalan yang dibicarakan. Sesuatu ba­tasan bisa saja diperdebatkan lewat dua pendapat yang berbeda, tapi jelas tak akan dapat disimpulkan apa-apa kalau yang satu ke kiri yang lain ke kanan.

T :   Bagaimana contohnya dalam seni rupa?

J :    Dalam seni rupa patut kita sesal­kan, setelah sekian lama berkembang tak seorang pun pemikir atau kritikus yang mencoba memasalahkan batas­annya. Dan sebagai gantinya orang menuliskan istilah seni rupa seenak pe­rutnya saja, dan menganggap orang lain mengerti tafsiran yang dibuatnya. Anda melihat sendiri hampir semua tulisan maupun pembicaraan seni rupa buntutnya cuma bikin pusing kepala saja, sebab dasarnya tak ada yang bi­sa dipegang.

T :   Jadi Anda tetap merasa dibutuh­kan "revolusi" (ha..., ha, ha).

J :    Wah, itu istilah Anda. Tapi, ya yang saya maksudkan dengan meruntuhkan batasan lama, bukan semacam pe­rang-perangan, tetapi lebih merupa­kan proses berpikir kritis. Anda taukah, seni rupa adalah kesenian yang paling dicap "Barat". Serangan ini pada pen­dapat saya "intuitif" karena itu tepat, dan jawabannya terletak pada batasan yang masih diakui sampai sekarang. Nah, kalau kita mau menolak "cap" le­dekan itu, caranya bukan dengan de­bat kusir, tapi melihat batasan yang kita pegang, dan menimbang cocok atau tidak. Kalau tak cocok apalagi kalau bukan membuangnya. Dan kalau batasan itu tertanam dengan kukuh, apalagi kalau bukan meruntuhkannya.

T :   Anda membuka masalah baru, soal pengaruh Barat, yang saya rasa cukup menarik untuk dibicarakan. Dan ini sekaligus membuka kesempatan bagi saya untuk menanyakan rasa tak jelas yang membayangi saya. Dari awal saya sudah merasakan Anda menganggap pengelompokan seni lukis dan seni patung, yang Anda ka­takan seni rupa, sebagai sesuatu yang sangat penting, seolah-olah dalam pengelompokan itu sudah tersirat Sua­tu batasan. Lalu kini Anda menam­bahkannya dengan "Barat". Rasanya batasan itu terasanya semakin berat saja. Barangkali, waktu Purwadarminta menuliskan batasan itu, ia sama sekali tidak berpikir sampai sebegitu rumitnya.           

       Nah, apa Anda bisa menjelaskannya.

J   :  Sederhana saja, karena Purwadar-minta menerjemahkannya dari "Fine-Art".

T : Kalau cuma itu, saya masih melihat peluang, bahwa gejala yang Anda dramatiskan sejak tadi cuma gejala pena­maan saja. Seperti misalnya orang Ing­gris menamakan sebuah tempat du­duk "chair" kita menamakannya "kursi" fenomenanya sendiri kan sama. Suatu penamaan belum tentu datang lewat penerjemahan. Kursi kan kita dapat dengan menamakan gejalanya, siapa bilang bahwa kursi kita terje­mahkan dari chair.

J :    Anda betul, tapi fenomena kursi ti­dak sederajat dengan fenomena seni rupa yang sedang kita bicarakan.

T :   Kalau begitu saya menuntut ar­gumentasi Anda, mengapa istilah seni rupa Anda katakan asalnya dari Barat, bukan dari Inggris saja umpamanya, lalu mengapa seni rupa asalnya dari menerjemahkan dan bukan dari pena­maan sesuatu gejala.

J :    Wah, itu uraian panjang.

T:    Silakan.

J :    Ini bukan argumentasi, sebab saya tidak mau berdebat dengan Anda, jadi uraian saja.

Apa pun yang mau kita cari dari kebu­dayaan Barat, kebanyakan kita akan sampai pada kebudayaan Yunani kuno yang masuk lewat jaman Renesan dan ini menjadi semacam akarnya.

Di masa Yunani dikenal sebuah is­tilah, yaitu "Techne" yang dalam bahasa Latinnya dikenal sebagai "Ars". Ke­dua istilah ini apabila dijabarkan kira-kira berarti: ketrampilan dan kecakap­an yang berguna. Di bawah konsepsi ini dikenal istilah-istilah "mousike-techne" (Yunani) dan "artes liberales" (Latin). Kata "mousike" dalam bahasa Yunani mempunyai hubungan dengan kegiatan-kegiatan yang dilindungi oleh dewa-dewa tertentu, Mousike-techne ini dianggap sebagai bahan pendidik­an bagi orang-orang-bebas, maksud­nya bukan budak. Bentuk-bentuk yang diajarkan pada masa itu adalah sejenis musikologi dan sastra. Ini disejajarkan dengan ilmu lain seperti geometri dan astronomi. Plato menempatkan ke­giatan ini sebagai kebutuhan tak lang­sung. Kebutuhan hidup menurut Plato terbagi dua, yaitu : Pertama yang uta­ma ialah kebutuhan akan makan, tem­pat tinggal dan pakaian. Yang kedua, adalah kebutuhan tak langsung, yang dianggap lebih tinggi, yaitu kebutuhan untuk berpikir, kesenangan, keten-traman dan kemewahan. Di sini ter-makna pengertian, pencarian dasar-da­sar kemanusiaan dan kebutuhan-ke­butuhan akan kesenangan-kesenang-an sensual.

Techne, seperti mudah diduga men­dasari kata "teknik" yang berarti kepandaian membuat dan menghasilkan sesuatu yang berguna. Hingga kini ia tak banyak berubah, berarti ketrampil­an. Techne ini dibedakan benar dari Mousike-techne, dan "episteme" yang berarti ilmu pengetahuan, Techne dili­batkan pada masalah kerja, sedang mousike-techne dan episteme dianggap sebagai kegiatan mental dan pen-ciptaan. Dari caranya membuat istilah terasa kegiatan ini sedikit banyak un­tuk menunjukkan semacam status ke­bebasan, kearistokratan dan segala macam bentuk borjuis, elitis lainnya.

Pengaruh batasan ini masih dirasa­kan terus sampai abad pertengahan pra-Renesan, di mana kerja dibagi menjadi dua, yang dalam bahasa Inggrisnya disebut sebagai "Liberal-Arts" dan "Mechanical-Arts". Mematung dan melukis muncul pada masa ini, tetapi masih dianggap kerja kasar dan dimasukkan ke dalam mechanical-arts. Nyata, karena tak tercantum dalam batasan Liberal-arts, yang men­cakup: gramatika, retorika, musikolo­gi, astronomi dan geometri, matemati­ka.

Baru pada abad ke-16, pada jaman Renesan di Italia, timbullah perubahan-perubahan yang mentransformir pemikiran-pemikiran Yunani ke konsepsi-konsepsi yang berpengaruh hing­ga kini. Art, di masa ini dianggap se­bagai sesuatu yang perlu diwujudkan, sesuatu yang beku dan dapat terus-menerus memberikan kepuasan men­tal. Dengan begitu "tukang-tukang" seperti pematung dan oelukis dibutuh­kan untuk mewujudkannya. Di bawah proteksi para bangsawan dan orang-orang kaya, para tukang ini kemudian belajar: sejarah, sastra, geometri dan perspektif. Di situlah gengsi tukang-tu­kang itu naik, dan jadilah mereka "seni­man", atau lebih khusus "seni rupa­wan". Ini berkelanjutan dengan ber­dirinya sekolah seni rupa yang per­tama: Akademia Del Disegno, yang dianggap setingkat dengan sekolah-sekolah lain yang tergolong dalam Liberal-Arts. Pelajaran-pelajaran yang diberikan berorientasi pada Seni Lukis, Seni Patung dan Arsitektur yang dike­nal dengan nama: "Le Belle Arti Del Disegno" atau seni disain yang indah. Sekolah-sekolah macam begini kemudian tumbuh di sejumlah daerah lain di daratan Eropa, dengan tetap berorien­tasi ke Italia. Di Perancis dikenal seba­gai "Beaux-Arts" dan di Inggris dike­nal dengan "Polite-Arts" "Gentle-Arts" dan "Fine-Arts". Yang pada dasarnya ingin menyatakan sesuatu kegiatan yang "tinggi" tidak hanya kwalitasnya, tapi lengkap dengan cap aritokrat dan elitisme lainnya.

Nah, waktu bahasa Indonesia "di­buat" agaknya Purwadarminta melihat ke sini, dan tidak melihat ke lingkung­annya. Padahal gejala kesenian dan urusan cipta-mencipta di Indonesia pa­da masa itu sudah terang ada. Yah, barangkali karena pertimbangan politis, dengan mengambil batasan Barat, ter­hindarlah sesuatu istilah dari masalah kedaerahan dan kesukuan. Atau, bisa jadi juga karena problematik seni ma­sa itu sangat dangkal.

Memang mungkin bukan Purwadar­minta yang mula-mula menggunakan istilah "seni" dan "seni rupa", tapi dalam kenyataannya dialah satu-satu­nya yang menulis, karena kebetulan ia membuat kamus.

Celakanya lagi, dalam melihat gejala "Fine-Arts" pembuat istilah tidak sung­guh-sungguh mengerti sejarah per­kembangan istilah itu, apalagi dasar-dasar pemikirannya. Kalau kita menelusuri kekacauan itu, akan bisa kita lihat sebagai berikut: Besar kemungkinan, dalam mencoba menerjemahkan istilah ini, cuma kata "Fine" yang diambil, dan untuk itu diambillah sebuah kata yang pada da­sarnya tak punya sangkut paut dengan imaji itu, yaitu kata "seni". Kata "seni" berasal dari bahasa Mela­yu Lama yang berarti "halus" yang se­nantiasa dimaksudkan dengan "air se­ni" yang berarti air kencing. Dalam bahasa Jawa Lama, istilah ini pun dike­nal dengan susunan vokal yang agak berbeda yaitu "sene" dengan penger­tian yang sama, yaitu air kencing. Baru dalam bahasa Melayu Baru, dike­nal konotasi "halus" yang lepas dari ar­ti kencing, lewat ungkapan Pujangga Ar-Rangiri, yaitu "seni-seni" yang mengandung arti: yang halus, yang ke­cil, yang rumit.

Jadi, pada pendapat saya, pener­jemahan itu sama sekali tak menda­sar, sifatnya permukaan saja, Fine = halus = seni.

Padahal, kalau saja para penerjemah di masa itu mau melihat lebih luas, dan mencari lebih banyak, seharusnya me­reka bisa menemukan istilah "Ka-goenan" yang tercantum dalam Ka­mus Jawa Tinggi "Baoesastra Jawa", yang mempunyai konotasi arti yang sa­ngat dekat dengan Liberal-Arts. Dalam kamus itu Kagoenan tercatat ber­asal dari kata dasar "goena" yang ber­arti: Watak, keahlian, kelebihan, peng­hasil atau pencipta, faedah atau guna. Kagoenan sendiri mempunyai tiga ar­ti: 1. Kapinteran (kepandaian) 2. Djedjasan ingkang adipeni (pekerjaan yang berfaedah dan berguna dalam ar­ti umum) 3. Woedaring pambudi nga-nakake kaendahan — gegambaran, ki­dung, ngoekir-oekir (mencurahkan bu­di dan rasa yang menghasilkan keindahan — gambaran, lagu dan ukiran).

Kalau kita perhatikan kembali de­finisi artes-liberales dan mousike-tech-ne, rasanya bisa disimpulkan bahwa kagoenan adalah penerjemahan dari si­tu. (Walaupun hipotetik, saya kira bisa dikatakan ada intervensi Belanda pada kultur kraton Jawa, yang boleh dikata mempunyai perkembangan cukup la­ma, bila dihitung sejak jatuhnya Sul­tan Agung.) Kendati terjemahan, ka­goenan tidak kehilangan bobot, bisa terlihat disitu dasar pemikiran, lebih dari itu ia tidak kehilangan nilai Jawa­nya.

Kalau saja Liberal-Arts atau Fine-Arts diterjemahkan dengan kagoenan di masa lalu, imaji kita tentang "seni" barangkali tidak sekacau sekarang.

Tapi yang kita punyai justru istilah "seni".

"Seni" dalam kamus Purwadarminta dituliskan: 1. Kecakapan membuat (menciptakan) sesuatu yang elok-elok atau indah-indah. 2. Sesuatu karya yang dibuat (diciptakan) dengan ke­cakapan yang luar biasa (seperti san­jak, lukisan, ukir-ukiran). Pertama-ta­ma, pada batasan ini kita kehilangan bobot, bila dibandingkan dengan ka­goenan, kita kehilangan: budi, rasa dan guna. Lalu, kita kehilangan jejak pula untuk membangun imaji, karena sukar bagi kita untuk menduga kata itu, apakah sejenis kepekaan atau hasil da­ri kepekaan itu.

Kekacauan ini kemudian masih di­tambah lagi, kata "seni" kemudian dikaitkan dengan bermacam-macam predikat, seni Bali, seni murni, seni ukir, seni tradisional dan sebagainya yang kita tahu sampai kini semakin banyak saja. Arti dan imajinya jangan ta­nya, setengah mampus kalau mau di­cari.

Salah satu dari pembentukan ini adalah "seni rupa" yang diberi batasan sederhana: seni lukis dan seni pahat, tan­pa seni bangunan.

Dari batasan ini, tak bisa disangkal bahwa Purwadarminta, atau entah siapa yang mulai menggunakan istilah se­ni, berangkat dari imaji "Fine-Arts" dan tidak dari lingkungannya. Kalau kita mau meninjau dengan tajam, Purwa­darminta bahkan sudah mulai dari is­tilah "seni". Dari dua batasan yang diberikannya pada kata "seni" cuma ada satu kata yang janggal, seperti di­selipkan, yaitu kata "sanjak", selebih­nya: elok, indah, lukisan dan ukir-ukir­an, menunjukkan imaji Fine-Arts, yang kemudian dilengkapinya pada seni ru­pa: seni lukis dan seni pahat. Jadi kalau kita mau percaya pada tinjauan kita, berdasarkan batasannya, bisa disim­pulkan bahwa: seni = seni rupa, yang pada dasarnya adalah Fine-Arts. Dan dengan begitu semua istilah seni yang lain, berikut pembentukannya, harus­nya dikatakan tidak berlaku, atau is­tilah-istilah yang tak akan mungkin bi­sa membangun imaji.

Jadi, Anda bisa perbandingkan sen­diri bagaimana kita di masa lalu telah salah menangkap imaji cipta-mencipta yang disebut kesenian dari orang-orang Barat, yang sekaligus berarti ki­ta mengingkari imaji cipta-mencipta yang sebenarnya telah kita miliki. Dan celakanya salah kaprah itu hingga kini tidak juga dipertanyakan, entah terku­bur, entah dibenarkan, entah karena kita tak pernah merasa perlu memiliki imaji sebelum berpikir atau bertindak.

 

T : Uah, uraian Anda maut, dan kalau begitu memang dibutuhkan revolusi bila kita mau membayangkan sebuah seni rupa Indonesia yang bermutu.

J :    Ah, Anda jangan terburu-buru me­nyimpulkan, itu kan baru pendapat saya.

T :   O.K. saya kembali pada pertanya­an-pertanyaan saya. Kini sayalah yang melihat drama di kepala saya. Saya melihat seluruh instalasi kesenian kita bergaung dengan nada kucar-kacir. Ba­gaimana mungkin.

J :    Maksud Anda karena akar kata "se-ni"nya saya sinyalir salah,... begitu?

T :   Ya, itu maksud saya. J : Toh tidak. Seperti sudah saya kata­kan semula, seni rupalah yang paling dihantam cap "Barat" dan diserbu ma­cam-macam masalah karena mem­bingungkan. Bentuk-bentuk kesenian lain agaknya tak begitu parah. Ambil saja umpamanya, tari, musik, drama dan sastra. Imaji kita tentang ini cukup jelas, mau dilihat dari bentuk lama atau baru, sekalipun ada perbedaan sampai ke dasar antara bentuk lama dan baru, misalnya puisi kongkret dan gurindam, atau perbedaan dasar estetik dua ben­tuk seperti musik klasik dan karawitan. Jadi tentang ini kita tidak terlalu ter­gantung pada sesuatu batasan, apala­gi istilah-istilah yang tercantum dalam kamus Purwadarminta. Seorang pena­ri misalnya tak akan terlampau memu­singkan apakah "seni tari", dan apa hu­bungannya dengan seni. Kalau toh ia menggunakan istilah-istilah itu, ba­rangkali sekedar karena ia bicara baha­sa Indonesia.

T : . Jadi khusus seni rupa yang keba-rat-baratan, atau pokoknya SOS.

J :    Ya, tapi Anda jangan salah, Barat ti­dak Barat bukan masalah utamanya. Adaptasi buat saya bisa saja terjadi, asal saja kemudian mengandung pengolahan. Seperti Anda lihat pada is­tilah kagoenan, seperti sudah saya katakan, batasan itu kendati terjemahan tidak kehilangan nilai Jawanya. Saya yakin, definisi ini membuahkan cukup banyak karya di kraton-kraton Jawa Tengah, kita toh tidak sampai pada ke­simpulan, manifestasi keseniannya mengalami penurunan nilai. Dan dalam kasus Kamus Purwadarminta, yang ki­ta sesalkan adalah pertimbangannya, yang seolah-olah mengerti saja tidak. Apalagi adaptasi.

T : . Tapi, saya toh melihat bisul di bawah kulit dalam masalah Barat ini pada Anda, barangkali implisit. Kalau Anda mengkira-kira, apakah Anda bisa menunjuk sebuah sebab, mengapa seni rupa jadi begitu sulit untuk diterjemahkan.

J :... Barangkali karena warna elitisnya. Kalau Anda perhatikan perkembangan imaji artes-liberales, mousike-techne sampai Fine-Arts bahkan sampai dengan Art atau Visual-Arts di Jaman sekarang, warna elitis ini bukan saja di­pertahankan tapi bahkan ditekankan pada prinsip-prinsipnya. Nah, imaji elitis ini, baik dalam arti kepekaan mau­pun hasil-hasil karyanya, sulit dibayangkan karena tak mudah bagi kita untuk menemukannya dalam realita kehidupan kita. Dan kalau loncatan ini terjadi, transformasinya mestinya bukan urusan sepele.

T :   Kalau begitu, kasihan juga Purwa­darminta, bukankah bidangnya sebenarnya Bahasa, mana mungkin ia berpikir sampai ke situ.

J :    Anda benar, walaupun in-absentio, saya menyatakan permintaan maaf saya.

T :   Lalu, kalau kita meneruskan pem­bicaraan kita dengan menyorot perkembangan seni rupa masa kini. Mestinya ada yang dijadikan dasar untuk terus berjalan, semu ataupun tidak, Kita tak bisa mengingkari fakta, bah­wa dia hidup hingga kini. Jelas bukan, ada sejumlah akademi seni rupa, sar­jana seni rupa bahkan profesor, ada sejumlah besar seni rupawan, Bahkan sudah diselenggarakan orang pame­ran ulang tahun keseratus yang dibuka oleh presiden.

Bagaimana menurut pendapat Anda?

J :    Sebetulnya Anda kembali pada per­tanyaan Anda yang pertama bukan? Walaupun tak sepenuhnya Anda sa­dari pada awalnya. Kali ini saya tidak akan menjawabnya dengan "tidak" ka­rena kali ini Anda tidak menanyakan alternatif (ya atau tidak) walaupun nada jawaban saya akan tetap sama.

Kalau kita tak punya dasar berpijak, pa­dahal nafsu kita besar untuk mengem­bangkan sesuatu, kita bisa meminjam penumpu orang lain. Kalau imaji kita tentang seni rupa tidak jelas, tak apa, bukankah sudah kita sahkan dari awal­nya seni rupa = art, maka kita dapat memikirkan seni rupa dengan jalan memikirkan "What is Art".

Kesempat­an kita untuk itu besar. Pemikiran mau­pun sejarah seni rupa = art di Eropa Barat dan Amerika tak terhitung ba­nyaknya, lebih bermutu laginya. Lagi­an ada batasan yang bilang seni adalah universal. Jadi sejarah seni rupa In­donesia adalah sejarah seni rupa dunia, pokoknya bagian dari situlah, tanpa perlu dipertimbangkan apakah kita dihitung atau tidak, tak apa, kalau kita sudah punya banyak seni rupawan kali­ber internasional, kita akan dihitung dengan sendirinya. Untuk itu kita perlu partisipasi dan senantiasa mengikuti perkembangan, kalau dunia menun­jukkan adanya Modern-Art, kita harus pula mencanangkan seni rupa mo­dern.

Tapi awas, begitu ada tanda-tan­da Contemporaries, kita mesti buru-bu­ru memanifestasikan seni rupa kon­temporer, soal apakah Modern-Art di­tentang habis-habisan oleh kritisi dari kelompok Contemporaries itu tak jadi soal, urusan merekalah. Pada kita, seni rupawan yang kemarin moderen, kalau hari ini masih hidup, pakai saja nama kontemporer, ya toh, what-is-in-a-name.

Dan kita harus mengikuti prin­sip Avant-Garde, sebab abad ini adalah abad Avant-Garde, bersikap sebagai ilmiawan menyuruk ke dunia seni rupa sampai ke hal yang sesubtil-subtilnya, menghasilkan karya newer-newer-art.

Seniman berada satu langkah di depan masyarakat, jadi kalau masyarakat su­dah mengerti sesuatu gaya berkarya, walaupun dengan susah payah, kita tak boleh cepat kasihan demi seni rupa ki­ta menuju ke yang lebih rumit lagi. Kita harus mempertahankan imaji, bahwa seniman sulit dimengerti. Dan untuk memperkuat imaji ini kita harus menja­di Eksistensialis: The-whole-life-is-just-one-question, who-am-I? Dan ingat, seorang Eksistensialis biasanya introvert dan eksentrik, kita harus per­hatikan itu, sedikit dibuat-buat bukan dosa.

Untuk hidup seratus tahun, kita ha­rus pintar, harus bisa memanfaatkan pemikiran orang lain, imbalannya toh tak seberapa, cuma harga diri dan nilai pribadi. Apa sih kepribadian, nih dalam celana.

Maaf, saya sebenarnya tidak menja­wab pertanyaan Anda. Tapi, yah, Anda mengerti bukan? Dan Anda mengerti juga mengapa saya segan mencari nilai-nilai dalam seni rupa yang ber­kembang macam begitu dan menja­wab dengan "tidak" pertanyaan per­tama Anda.

T :   Ya, saya mengerti. Tapi maaf kalau saya menilai bicaraan Anda barusan terlalu sinis. Masalahnya, saya kurang menangkap keadaan sebenarnya dari kiasan-kiasan itu. Apa Anda tak kebe­ratan mengulangnya lagi, tapi dengan menunjukkan sesuatu kejadian umpa­manya.

J :    Uah, semacam fakta begitu?

T :   Ya, kira-kira begitu.

J :    Apakah Anda pernah mendengar ada sejarah seni rupa Indonesia diberikan sebagai pelajaran di akademi seni rupa. Tidak bukan? Ya karena "setelah seratus tahun" belum juga dicoba un­tuk dituliskan.

Dan lagi, hampir semua konsepsi da­sar berkarya dalam seni rupa kita bisa ditemukan pada buku History Of Art atau sejenis itu, hanya satu dua yang kebetulan tidak. Saya sebenarnya bisa menunjukkan pada Anda betapa mirip­nya konsepsi seseorang seniman be­sar kita dengan sebuah konsepsi yang saya temukan di buku, dari mulai mem­bagi bidang, menarik garis, torehan, warna dan meletakkan noktah. Itu bu­kan adaptasi lagi kan namanya. Tapi, yah, sama dengan sikap awalnya, kita minder untuk punya kemungkinan sen­diri. Melihat begitu banyaknya kon­sepsi dan kemungkinan, kita jadi "kon­sumtif".

T :   Menghadapi keadaan macam be­gitu, apakah Anda pesimis?

J :    O, tidak, tidak sama sekali, saya ingin senantiasa berpikir positif.

T :   Lalu, apa tanda-tanda yang mem­buat Anda tidak pesimis?

J :    Bila segala macam yang saya ang­gap negatif sekarang menjadi berguna dan positif. Suatu kali itu pasti akan terjadi.

T :   Bila....?

J : Bila garis seni rupa Indonesia sudah tergaris. Kita dapat belajar dari situ. Mempelajari bagaimana sejumlah pio­nir seni rupa kita berjuang dengan gigih tanpa kepala dan rasa malu me­nyambung garis sejarah. Lalu dari situ kita menentukan sikap. Bagaima­napun itu nilai positif bukan?

T : Sejarah seni rupa yang Anda mak­sudkan memang belum ada, tapi Anda mempunyai kesadaran akan kepen­tingan itu, lalu sudahkah Anda menentukan sikap?

J :    Barangkali sudah, tapi karena saya terlampau terlibat dalam kekhaosan yang saya utarakan, dan saya merupa­kan bagian daripadanya, maka sikap saya barangkali sudah Anda ketahui, sekedar reaktif.

T :   O, itu yang Anda maksudkan de­ngan Seni Rupa Baru, yang anti spesialisasi, anti pengkotak-kotakan.

J :    Kurang lebih, ya.

T:    Ah, kini saya mengerti mengapa An­da berulang kali menyebutkan Seni Rupa Baru adalah seni rupa yang tak mengenal pembagian-pembagian menjadi seni lukis, seni patung, seni gambar dan sebagainya. Tapi ada satu hal, kalau Anda cuma reaktif, Anda se­benarnya belum membayangkan sesuatu yang baru, Anda masih terikat pada sebuah masa lalu. Apakah ini suatu kemajuan.

J :    Yah, seni rupa kita memang belum bergeser sedikit pun. Jadi Anda akan mendapat jawaban yang sama bila Anda menanyakan nilai-nilai. Tapi seperti sudah saya katakan, bila kita ter­tanam dengan kukuh dalam sesuatu batasan yang menurut timbang kita ti­dak cocok, bukankah kita mulai dengan meruntuhkannya.

T :   Ah, ya, saya jadi ingat istilah re­volusi saya.

       Tapi, sudahkah Anda perhitungkan ada yang bangun dari situ.

J :    Sudah!

T :   Apa?

J :    Suatu kali, akan muncul seni rupa yang lebih hidup dan berfungsi, ia akan muncul di dunia Internasional, bukan karena kwalitas universal, tapi karena perannya sebagai bagian dari Kultur In­donesia dalam suatu susunan, bukan seperti semangat bulutangkis yang melahirkan rasa "super-power", tapi seperti seorang Jawa meyakini, bah­wa kerisnya adalah dia.

T : Waaah kapan itu akan terwujud.

J :    Kapan-kapan saja, itu tak jadi soal, barangkali kelak, ketika jasad saya yang dikubur telah sempurna menjadi tanah.

T :   Anda optimis?

J :    Bukan cuma optimis. Di tahun 1975, ketika pertama kali saya memamerkan sikap reaktif saya, saya sudah melihat bayangan itu dalam kepala saya....

Kembali ke awal


Bagi artikel ini

Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co