free page hit counter

Polemik Toleransi Islam Puritanisme Versus Pluralisme

Pengantar

Joshua Cohen dan lan Lague

 

Sejak peristiwa 11 September, diskusi mengenai Islam di Barat menjadi semacam pergulatan karikatural. Sejumlah pengamat menampilkan ekstremisme Islam sebagai produk dari "benturan peradaban" yang mempertentangkan antara despotisme Timur dan individualisme Barat. Pengamat lainnya melihat ekstremisme semacam itu sebagai "pukulan balik" terhadap kebijakan luar negeri Amerika pada saat Perang Dingin. Perhatian terhadap agama Islam umumnya berupa pernyataan simplistis mengenai "esensi" Islam: Osama bin Laden dianggap menghadirkan pesan Nabi sesungguhnya atau dinyatakan telah merusak "agama kedamaian".

Sebagaimana dinyatakan Khaled Abou El Fadl, perdebatan ini lebih dimotivasi oleh kekhawatiran Barat—"Berbahaya atau tidakkah para Muslim itu?"—daripada oleh upaya yang serius untuk memahami Islam serta ruang toleransi dan nilai-nilai moral dalam konsep Islam tentang kehidupan manusia yang lebih layak. Dalam esai utamanya pada buku ini, Abou El Fadl membuka suatu perdebatan. Abou El Fadl, seorang pengajar di UCLA, ahli Hukum Islam, dan kritikus terhadap puritanisme Islam, berupaya untuk memperoleh kembali "kepercayaan moral" Islam dengan mengungkapkan kembali prinsip-prinsip universal Al-Quran dari konteks sejarah dan sosial ketika wahyu tersebut diturunkan. Dia menafsirkan ayat-ayat Al-Quran mengenai perlakuan terhadap perempuan dan non-Muslim dipandang dari sudut ayat-ayat yang menganjurkan kasih, kebaikan, dan keadilan, serta yang menekankan pada pluralitas komunitas kemanusiaan.

Perhatian Abou El Fadl dengan persoalan-persoalan teologis ini diperkaya dengan perspektif sejarah yang luas. Dia menyatakan bahwa kelompok-kelompok yang tidak toleran secara tradisional telah dipinggirkan oleh peradaban Islam. Namun Islam, ungkapnya, kini menghadapi krisis otoritas keagamaan. Hal ini disebabkan oleh eksploitasi politis terhadap simbol-simbol Islam serta kemandekan kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat Muslim. Krisis tersebut mendorong bangkitnya kelompok-kelompok puritan yang menafsirkan Al-Quran secara literal dan ahistoris. Abou El Fadl mengakui bahwa Al-Quran sendiri, seperti manuskrip keagamaan kuno lainnya, tidak dapat terhindar dari penafsiran semacam itu: penafsiran adalah suatu tindakan yang membuat pembaca harus mengambil tanggung jawab moral. Pada akhirnya, teks keagamaan memberikan banyak "kemungkinan makna, bukan bersifat pasti", sehingga "teks tersebut secara moral akan memperkaya pembaca, tetapi hanya jika pembaca secara moral akan memperkaya teks".

Kendati mayoritas penanggap setuju dengan kritik Abou El Fadl terhadap puritanisme Islam, mereka tidak setuju dengan konsepsi umum perdebatan ini dan tidak sepakat dengan penjelasan-penjelasan tertentu. Sejumlah penanggap berpendapat bahwa model Islam Abou El Fadl hanya akan menarik bagi orang-orang Barat dan mahasiswa di "sekolah agama liberal" serta bahwa dialog keagamaan di Dunia Muslim tidak akan berguna kecuali jika disertai dengan reformasi politik dan sosial yang mendasar. Penanggap lainnya berpendapat bahwa perdebatan teologis tidak relevan dan bahwa titik perhatian seharusnya diberikan pada sabotase Barat terhadap reformasi tersebut. Kelompok penanggap lainnya mengkritik kebijakan-kebijakan yang sama tersebut sebagai bagian dari program sekularisasi Barat yang eksploitatif, dan berpendapat bahwa tuntutan terhadap "toleransi" Islam telah mengkhianati perintah Al-Quran kepada kaum Muslim untuk melawan para penindas mereka.

Ketidaksepakatan ini menunjukkan bahwa perdebatan mengenai toleransi dalam Islam tidak dapat terpisah dari perdebatan mengenai distribusi kekuasaan politik dan sumber daya ekonomi. Namun, mereka juga menggarisbawahi tantangan terus-menerus yang ditampilkan oleh moralitas keagamaan dalam abad pluralistik bagaimana kita mempertahankan kekayaan dan intensitas keyakinan yang diberikan sudut pandang keagamaan sembari berpartisipasi dalam hal yang disebut Abou El Fadl dengan "bersama dalam kebajikan" yang melintasi batas-batas perbedaan kepercayaan? []

 

Daftar Isi :


    Bagi artikel ini

    Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
    info@inspirasi.co