free page hit counter

Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta

PENGANTAR

 

Menurut beberapa buku katalog naskah (lihat Seri Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara jilid l-5Ayang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indone­sia, Ekadjati dkk., 1988, Pigeaud, 1967-1970, Chambert-Loir & Oman Fathurahman, 1999), di beberapa tempat penyimpanan naskah di dalam negeri dan luar negeri diketahui terdapat koleksi sejumlah naskah yang berasal dari Cirebon, seperti Museum Sonobudoyo di Yogyakarta, Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia di Jakarta, Museum Sri Baduga di Bandung, Keraton Kasepuhan, Kacrebonan, dan Kaprabonan di Cirebon, dan Perpustakaan Universitas Leiden di negeri Belanda. Bahkan naskah Kunjarakarna yang berasal dari abad ke-I 4 Masehi, terbuat dari daun nipah, ditulis dengan tinta, dan menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuna diperkirakan berasal dari Cirebon.

Di samping itu, kalangan masyarakat Cirebon sendiri banyak yang menyimpan naskah di rumahnya sebagai koleksi pribadi hingga dewasa ini. Di wilayah Priangan pun didapatkan naskah-naskah yang berasal dari Cirebon atau naskah-naskah salinan dari naskah-naskah Cirebon (Ekadjati, 1978). Informasi tersebut kiranya seiring dengan dan memperkuat keterangan Pangeran Wangsakerta beserta timnya pada naskah Pustaka Rajya-rajya I Bhumi Nusantara parwa 5 sargah 5 bahwa di keraton Kasepuhan Cirebon disimpan sekitar 1700 naskah (salinan) yang antara lain digunakan sebagai sumber bagi penulisan lima seri karangan mereka.

Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa pada zamannya Cirebon menjadi salahsatu skriptorium (tempat memproduksi dan menyimpan naskah) penting di Pulau Jawa. Dalam pada itu, Pangeran Wangsakerta sendiri memang tokoh historis sebagaimana namanya tercatat pada dokumen perjanjian antara Cirebon dengan Kumpeni Belanda tertanggal 7 Januari 1681.

Selain itu, menurut penilaian pejabat Kumpeni yang terdapat pada catatan harian mereka (Dagh Register) bahwa Pangeran Wangsakerta adalah seorang anggota keluarga keraton Cirebon yang berhati lembut, cerdas, dan berkemampuan untuk memimpin pemerintahan (Ekadjati dkk., 1991:178-192).

Tatkala dengan bersemangat melakukan perburuan naskah di wilayah Cirebon, tentu Drs. Atja tidak mengira bahwa di kemudian hari hasil temuannya itu akan menjadi sumber heboh besar di kalangan para ahli dan masyarakat pada umumnya. Perburuan naskah dimaksud dimulai sejak ia mendapat tugas untuk mempersiapkan pendirian sebuah museum di ibukota Propinsi Jawa Barat.

Dalam hal ini, ia berkonsentrasi mencari dan mengumpulkan benda budaya untuk koleksi museum yang akan didirikannya dan kemudian dipimpinnya. Sementara itu, sebagai filolog (lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1962) dengan penuh harap tentu ia mencari dan mengumpulkan naskah bukan hanya sebagai benda budaya untuk koleksi museum, melainkan juga sebagai objek untuk studinya kelak.

Atas dasar informasi dari gurunya, Prof. Dr. Ng. Poerbatjaraka, pada awal tahun 1960-an serta bantuan Kepala Seksi Kebudayaan Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten dan Kotamadya Cirebon, seorang pedagang barang antik di Cirebon (Moch. Asikin), dan sesepuh lingkungan keraton Cirebon Pangeran Sulaeman Sulendraning-rat, sejak awal tahun 1970 secara berangsur-angsur Drs. Arja mendapatkan sejumlah naskah dari Cirebon.

Diawali dengan diperolehnya naskah Carita Purwaka Caruban Nagari dari daerah Indramayu pada tahun 1970 (Atja, 1972; 1986: 7), selanjutnya satu demi satu masuklah naskah-naskah Pangeran Wangsakerta ke dalam koleksi Museum Negeri Jawa Barat (sekarang Museum Sri Baduga).

Sesungguhnya masyarakat mulai mengetahui keberadaan naskah Pangeran Wangsakerta dan mengenal kandungan isinya dimulai sejak awal tahun 1980-an, yaitu sejak Dr. Ayatrohaedi, Drs. Saleh Danasasmita, dan Yoseph Iskandar memperkenalkannya melalui media massa dalam bentuk reportase dan artikel karangan. (Kumpulan artikel Dr. Ayatrohaedi tentang naskah-naskah ini diterbitkan dalam buku tersendiri dengan judul Sundakala).

Pada tahun 1986 Drs. Saleh Danasasmita memperkenalkan Pangeran Wangsakerta sebagai sejarawan beserta hasil karya tulisnya dalam forum Seminar Kebudayaan Sunda yang diselenggarakan oleh Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi). Makalahnya dimasukkan ke dalam buku ini dan ditempatkan sebagai pembuka polemik.

Pada masa itu masyarakat menerima informasi tersebut biasa-biasa saja, kecuali sebagian kalangan masyarakat Sunda yang menerimanya dengan diiringi perasaan penuh harap bahwa isi naskah-naskah itu akan menjadikan sejarah Sunda dan sejarah Indonesia pada umumnya lebih jelas dan lebih lengkap gambarannya.

Pernah terjadi dua rangkaian peristiwa yang menghebohkan bertalian dengan naskah-naskah Pangeran Wangsakerta itu. Pertama, rangkaian peristiwa yang terjadi sejak akhir tahun 1988 sampai dengan akhir tahun 1989. Kedua, rangkaian peristiwa yang terjadi tahun 2002.

Rangkaian peristiwa pertama dimulai dari forum Diskusi Panel Naskah Sumber Sejarah Kerajaan Tarumanagara yang diselenggarakan oleh Universitas Tarumanagara di Jakarta pada tanggal 16 September 1988. Pada forum ini beberapa orang arkeolog senior dari Fakultas Sastra Uni­versitas Indonesia (Drs. Boechari, Prof. Dr. R. Soekmono, Prof. Dr. R.P Soejono, Dr. Edi Sedyawati) membantah makalah yang diajukan oleh Drs. Atja dan Dr. Ayatrohedi serta menilai bahwa naskah-naskah Pangeran Wangsakerta itu palsu dan bukan disusun oleh Pangeran Wangsakerta beserta timnya pada akhir abad ke-I 7, melainkan disusun pada awal tahun 1960-an (sesudah terbit buku Prasasti Indonesia II (1956) yang berasal dari disertasi J.G. de Casparis) oleh orang yang telah mempelajari dengan baik sejarah kuna Indonesia (secara informal Drs. Atja dan Dr. Ayatrohaedi menjadi tersangka, tetapi kemudian berubah sangkaan tersebut kepada T.D. Sudjana dan Salana, orang Cirebon yang menguasai bahasa Jawa dan pejabat (Kepala Seksi Kebudayaan dan Penilik Kebudayaan) Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaa'n Kotamadya dan Kabupaten Cirebon). Karena itu, kandungan isi naskah-naskah itu tak dapat diguna­kan sebagai sumber sejarah. Semua makalah, pembahasan, tanggapan, dan rumusan dalam Panel Diskusi ini dimuat dalam buku ini.

Heboh tersebut dilanjutkan (Oktober 1988 sampai Januari 1989) dengan polemik pada media massa, dalam hal ini pada Majalah Tempo, Harian Suara Pembaharuan, Majalah berbahasa Sunda Mangle, dan Harian Pikiran Rakyat). Di sini informasi dan tafsiran tentang naskah-naskah Pangeran Wangsakerta mengemuka dalam bentuk reportase, artikel, dan surat pembaca. Semua polemik ini dimuatkan di dalam buku ini, dengan catatan artikel karya Edi S. Ekadjati yang dimuat pada Harian Pikiran Rakyat tanggal 10 Januari 1989 tidak diikutsertakan atas dasar per­timbangan agar tidak terjadi banyak pengulangan karena pada dasarnya isinya sama dengan yang tertera pada karangan lainnya.

Di samping itu, diselenggarakan lagi dua kali pertemuan ilmiah, yaitu (1) Seminar Metode Penelitian Filologi di lingkungan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (Bandung) pada tanggal 5 Desember 1988 dan (2) Gotrasawala Pengkajian Naskah-naskah Kuna Jawa Barat di Univer­sitas Pasundan (Bandung) pada tanggal 23 Desember 1989. Makalah yang diajukan pada pertemuan ilmiah pertama (dua makalah) dimuat dalam buku ini ("Tepatkah Metode Epigrafi Diterapkan dalam Penelitian Manuskrip?" dan "Tiap-tiap Disiplin Ilmu Mempunyai Metodologi Masing-masing"), yaitu makalah yang disusun oleh Drs. Atja dan Dr. Edi S. Ekadjati yang keduanya staf pengajar di fakultas bersangkutan.

Namun, tidak semua makalah yang diajukan dalam pertemuan ilmiah kedua dimasukkan ke dalam buku ini, karena hanya makalah-makalah yang membahas tentang naskah-naskah Pangeran Wangsakerta saja yang dimuat di sini sesuai dengan tujuan penerbitan buku ini. Makalah yang diajukan oleh Drs. Uka Tjandrasasmita dan Dr. Hasan Muarif Ambary tergolong yang tidak masuk dalam buku ini, karena membicarakan tentang keseluruhan naskah Jawa Barat dan tidak membahas naskah Pangeran Wangsakerta. Selain itu, dimasukkan pula teks lagu Tembang Cianjuran yang dipertunjukkan pada waktu luang seminar oleh Panglawungan Tembang Sunda Pamager Asih Bandung, karena isi dan jiwanya mencerminkan harapan dan jeritan batin orang Sunda terhadap naskah-naskah Pangeran Wangsakerta.

Rangkaian peristiwa kedua yang terjadi tahun 2002 berupa polemik pada media massa Harian Pikiran Rakyat. Polemik dimaksud muncul sehubungan dengan adanya kegiatan (semiloka) penelusuran Hari Jadi Jawa Barat. Pada satu pihak Hari Jadi Jawa Barat itu dipandang ber­dasarkan konsep geografi dan budaya, bahwa Jawa Barat itu terbentuk sebagai hasil perjalanan panjang sejarahnya yang di dalamnya terkandung kehidupan budaya yang dibentuk oleh masyarakat yang menghuni suatu wilayah sebagai wadah kehidupan kumpulan manusia yang oleh mereka sendiri disebut Tatar Sunda. Pada pihak lain, Jawa Barat dipandang dari sudut konsep wilayah administrasi pemerintahan, dalam hal ini tingkat propinsi, sebagaimana adanya sekarang.

Dengan demikian, Hari Jadi Jawa Barat, katanya, hendaknya lahir pada waktu bentuk administrasi pemerintahan propinsi ditetapkan. Jadi, namanya Hari Jadi Propinsi Jawa Barat bukan Hari Jadi Jawa Barat. Tidak kon­sistennya, yang diusulkan bukan yang pertama kali ditetapkan (1 Januari 1926), melainkan yang untuk kedua kalinya ditetapkan (18 Agustus 1945), dengan alasan kriteria konsep nasionalisme. Karena perbedaan konsep yang digunakan, maka dua pandangan itu tidak bertemu, bahkan meluas kepada perbedaan sumber yang digunakan.

Karena naskah Pangeran Wangsakerta hanya mengungkapkan sejarah sampai akhir abad ke-17, maka tentu tak akan membicarakan periode abad-abad sesudahnya, termasuk abad ke-20 yang tercakup di dalamnya tahun 1926 dan 1945. Untuk menolak pandangan berdasarkan konsep geografi dan budaya yang tentu menggunakan sumber-sumber lama karena Hari Jadi Jawa Barat (bukan Hari Jadi Propinsi Jawa Barat) merujuk ke waktu lebih lampau, sampailah kepada penolakan naskah Pangeran Wangsakerta digunakan sebagai sumber sejarah baik sumber primer maupun sumber sekunder, walaupun yang bersangkutan belum pernah mempelajari naskah tersebut. Itulah pintu terbukanya polemik tentang naskah Pangeran Wangsakerta.

Dalam hubungan ini ada satu reportase dan empat artikel dalam polemik dimuatkan dalam buku ini, yaitu (1) reportase sebagai hasil wawancara wartawan dengan Dr. Hj. Nina H. Lubis, M.S. yang dimuat Pikiran Rakyat tanggal 20 Januari 2002 ("Naskah 'Wangsakerta' dan Hari Jadi Jawa Barat", (2) artikel Edi S. Ekadjati yang menanggapi reportase tersebut dan termuat pada Pikiran Rakyat tanggal 19 Februari 2002 ("Sekitar Naskah Pangeran Wangsakerta", (3) artikel Nina H. Lubis sebagai jawaban atas artikel di atas yang dimuat Pikiran Rakyat tanggal 6 & 7 Maret 2002 ("Naskah Pangeran Wangsakerta Sebagai Sumber Sejarah?", (4) artikel A. Burcon Garnama yang turut menanggapi polemik ini dan dimuat pada Pikiran Rakyat tanggal 29 April 2002 ("Menanggapi Polemik Naskah Wangsakerta)", dan (5) artikel Edi S. Ekadjati yang sekali lagi menanggapi pandangan Nina H. Lubis dan juga menanggapi pandangan A. Burcon Garnama yang dimuat Pikiran Rakyat tanggal 27 Mei 2002 ("Sekali Lagi Sekitar Naskah Wangsakerta"). Dengan artikel tersebut terakhir, polemik ini ditutup oleh Redaksi Harian Pikiran Rakyat.

Di antara rangkaian peristiwa pertama (1988-1989) dengan rangkaian peristiwa kedua (2002), Edi S. Ekadjati mengajukan sebuah makalah pada Musyawarah Kerja Jurusan Sejarah se-Indonesia yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 11-14 Maret 1990 berjudul Pustaka Rajya-rajya I Bhumi Nusantara: Sebuah Historiografi Tradisional. Makalah ini kemudian diterbitkan sebagai sebuah artikel yang dimuat pada jurnal ilmiah Pemberitaan Universitas Negeri Padjadjaran nomor 1, Vol. 8, Juli 1990. Artikel ini pun dimasukkan pula dalam buku ini.

Akhirnya, buku ini ditutup dengan artikel Ayatrohaedi yang berjudul "Pangeran Wangsakerta dan Karyanya" dan dimuat pada Pikiran Rakyat tanggal 14 & 21 Nopember 2002. Dengan demikian, buku kumpulan polemik ini dibuka oleh bahasan tentang Pangeran Wangsakerta sebagai sejarawan dan ditutup oleh bahasan tentang karya-karya Pangeran Wangsakerta itu sendiri. Sebelum artikel penutup, dimuatkan pula artikel Dr. Agus Aris Munandar yang berjudul "Naskah-naskah Pangeran Wangsakerta Sebagai Sumber Data Kajian Tentang Masa Silam" (dalam Sang Tohaan, Seri Kajian Arkeologi. AkaDemiA, 2004), sebuah kajian dari perspektif arkeologi.

Penerbitan buku ini dimaksudkan untuk menghimpun semua pandangan, tafsiran, dan pendapat tentang naskah Pangeran Wangsakerta ditinjau dari berbagai sudut dan kepentingan. Soalnya, naskah Pangeran Wangsakerta itu benar-benar ada, kini disimpan di Museum Sri Baduga (Bandung), teksnya tergolong tulisan sejarah (historiografi), dan isinya berupa penuturan sejak zaman prasejarah hingga sejarah Indonesia abad ke-17.

Ada dua macam pandangan terhadap naskah Pangeran Wangsa­kerta itu. Pertama, pandangan yang menilai positif terhadap naskah-naskah itu, bahwa besar harapan kandungan isi naskah-naskah itu dapat memberi sumbangan terhadap kelengkapan sejarah Indonesia. Karena itu, naskah-naskah itu perlu diteliti lebih lanjut sampai tuntas. Kedua, pandangan yang menilai negatif terhadap naskah-naskah itu, bahwa kandungan isi naskah-naskah itu tidak bernilai sejarah sehingga tidak dapat digunakan sebagai sumber penulisan sejarah Indonesia. Bahkan ada yang mengatakan bahwa sampai kapan pun naskah-naskah Pangeran Wangsakerta tidak perlu diteliti lagi.

Dalam polemik ini kedua pandangan tersebut tidak atau belum mencapai titik temu. Hal itu merupakan sesuatu yang biasa dalam sebuah polemik ilmu pengetahuan.

Sesungguhnya polemik mengenai naskah-naskah Pangeran Wangsakerta ini belum selesai secara tuntas. Begitu pula penelitian dan kajian atas naskah-naskah ini belum tuntas, baik secara filologis maupun secara historis. Diharapkan, setelah penelitian dan kajian atas naskah-naskah ini dilanjutkan, diskusi dan polemik mengenai naskah-naskah ini akan dilanjutkan pula.

Dengan demikian, diharapkan kata putus atas nasib naskah-naskah ini kiranya akan terwujud. Ada tiga kemungkinan kata putus dimaksud, (1) bahwa naskah-naskah Pangeran Wangsakerta itu benar-benar palsu dan bukan karangan Pangeran Wangsakerta pada akhir abad ke-17 sehingga tidak dapat digunakan sebagai sumber sejarah Indonesia periode abad ke-17 ke belakang, atau, (2) bahwa naskah-naskah itu benar teksnya disusun oleh Pangeran Wangsakerta pada abad ke-17 sehingga dapat digunakan sebagai sumber sejarah dan memperkaya gambaran sejarah Indonesia sejak awal hingga abad ke-17, atau (3) bahwa naskah-naskah Pangeran Wangsakerta terus tergantung masalahnya, tidak ditemukan jalan penyelesaiannya. Manakah di antara tiga kemung­kinan tersebut yang akan menjadi kenyataan dan kebenaran, sejarahlah kelak yang akan menentukannya. []

 

Daftar Isi :


    Bagi artikel ini

    Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
    info@inspirasi.co