free page hit counter

Romi dan Yuli dari Cikeusik

Juleha namanya, asli Betawi.
Sejak remaja Yuli panggilannya –
Dan ia suka.

Di atas sajadah
Masih juga tersedu si Yuli.
Jam 3.00 dini hari
Ia lantunkan doa pedih
Lirih.

Ya, Tuhan gerakkan hatiku1
Berikan aku isyarat menuju cahaya
Kebimbangan ini menyiksaku.

Foto Romi di tangannya,
Kekasihnya;
Diingatnya Ayah
Yang membesarkannya –

Mengapa aku tak bisa memiliki keduanya?
Ah, yang seorang umat Ahmadiyah
Seorang lagi Muslim garis keras.

Pedas, keras ucapan ibunya
Setiap kali perempuan itu memperingatkannya,
Kita di Indonesia, tidak di Amerika.
Di sini agama di atas segala
Tak terkecuali cinta remaja.

Ditatapnya sekali lagi foto Romi
Pria penuh kasih dan sayang.
Paduan jiwaku, soul-mate,
Calon suamiku.

Masa silam pun melintas adegan demi adegan:

Ketika itu Yuli lagi patah hati
Menderita penyakit sulit disembuhkan
Karena itulah kekasih lamanya pergi
Menikah dengan gadis lain.

Di masa segalanya terasa kosong,
Di masa semuanya tercecap hambar,
Muncullah seorang pemuda
Romi namanya – membawa aroma berbeda;
Ditemaninya gadis itu ke dokter,
Ditemaninya mencoba resep herbal,
Ditemaninya berdoa
Mengharapkan keajaiban.

Tasbih pemberian Romi di ulang tahunnya
Tak pernah lepas dari tangannya:
Keduanya senantiasa berzikir bersama.

Selembar puisi menempel di dinding kamarnya
Kata dirangkai dalam larik,
Larik ditata dalam bait,
Menyihirnya setiap kali menjelang tidur.

Tak terdengar isak tangis Yuli
Yang dalam, yang berkepanjangan.
Dibayangkannya Romi,
Dibayangkannya dirinya sendiri
Terombang-ambing dalam bayang-bayang kenyataan
Yang kelam: harus pupus cinta karena beda paham agama.

Rokhmat nama aslinya, Romi panggilannya
Nama yang pas untuk orang kota, katanya,
Berasal dari keluarga kurang berada
Tinggal di salah sebuah kantong permukiman
Satu dari banyak pemukiman Jemaah Ahmadiyah.
Ancaman serius bagi akidah,
Kata sebagian orang.

Ia tak mau lagi mewarisi kemiskinan
Tak mau begitu saja menyerah
Dan berkat kecerdasannya ia peroleh beasiswa
Belajar ilmu bisnis ke mancanegara.

Ayahnya pengurus Ahmadiyah
Itu ia tak minta
Sejak kecil dididik oleh lingkungannya
Juga itu ia tak minta,
Demikianlah, ia pun menjadi seorang Ahmadi.

Dipelajarinya filsafat dan pengetahuan Barat
Ajaran Ahmadiyah mengalir dalam darahnya.
Namun, tidak fanatik ia!
Semua agama warisan dunia
Bisa diikuti siapa saja
Bisa diambil inti sarinya
Untuk kebaikan semua,
Begitu selalu katanya.

Saat pertama berjumpa Romi
Di taman kampus itu
Dalam sebuah pagelaran seni antaruniversitas
Yuli terdengar melafalkan sajak Kahlil Gibran,
Bila cinta tlah memanggilmu, ikutlah jalannya walau mungkin berliku
Dan bilamana sayapnya mendekapmu…

Ia lupa kata selanjutnya
Diulanginya lagi potongan kalimat Kahlil Gibran itu,
Dan bilamana sayapnya mendekapmu…

Tetap saja tak diingatnya lanjutan larik itu;
Saat itulah terdengar suara dari belakang
Menyambungnya,
Dan bilamana sayapnya mendekapmu, pasrah dan menyerahlah,
Walau pedang yang bersembunyi di sayap itu menghunusmu…

Laki-laki yang menyahut itu memperkenalkan diri,
Saya Romi.
Itulah awal mula segala
Yuli mahasiswi
Romi pengusaha franchise
Yang juga dosen muda dari universitas lain.

Keduanya bertemu lagi
Bertemu dan bertemu lagi
Di kampus
Di toko buku
Di bioskop
Di rumah makan
Di rumah masing-masing.

Sampai pada suatu hari
Yuli dan Romi tersadar:
Bunga tampak lebih indah sore itu
Padahal bunga yang sama,
Burung lebih lincah dari sedia kala
Padahal burung yang itu juga.

Ya, ya, bunga dan burung boleh saja sama
Tetapi hati yang telah berubah
Mampu menyulap apa pun yang kasat mata
Tampak lebih indah.

Di mana pun mereka senantiasa bersama
Tertawa-tawa, berbisik-bisik,
Tukar-menukar kata tentang ini dan itu,
Tentang Yang Di Sana dan yang di sini:
Demikianlah maka mereka pun dikenal
Sebagai Romeo dan Juleha, pasangan pecinta puisi.

Sampai jugalah hari itu:
Rencana pernikahan pun dirundingkan.
Dua keluarga berjumpa
Dua keluarga bulat mufakat
Tanggal, bulan, dan tahun pernikahan
Semua sepakat –
Tanpa bicara paham agama:
Undangan pernikahan segera disiapkan.

Tak ada hujan tak ada badai
Tak ada petir tak ada kilat
Mendadak pernikahan batal
Langit pun terkejut.

Penyebabnya peristiwa itu!
Tanggal 6 bulan Februari tahun 2011
Kampung Romi di Cikeusik dilanda huru-hara.
Ketika Jemaah Ahmadiyah sedang mengadakan pertemuan
Massa menyerang –
Dan nyawa empat orang2
Melayang!

Kebetulan Romi menyaksikan peristiwa itu
Di layar kaca
Ketika ia dan Yuli makan siang
Di sebuah restoran Jepang.Wajahnya tampak tegang
Itu teman-temanku, ujar Romi;
Yuli tersentak.
Maksudmu? Kamu pengikut Ahmadiyah?
Romi mengangguk, pelan.
Mengapa kamu tidak pernah cerita?
Romi terdiam.Yang sedang ditayangkan itu
Bukan sebuah drama
Bukan pula sinema
Tapi rekaman peristiwa di kampung sana.

Orang-orang berbekal kayu dan senjata tajam
Meneriakkan Allahu Akbar!
Mereka garang
Mereka menyerang
Dan beberapa nyawa melayang.

Yuli ikut sedih, dan hanya bisa berkata lirih,
Pulang sajalah kau, Romi, sekarang.
Cari kabar keadaan orang tuamu
Cari tahu nasib teman-temanmu.

Romi menahan air matanya, lalu dikatakannya,
Maafkan aku Yuli,
Aku tak pernah cerita itu;
Bagiku perbedaan paham agama
Tak perlu menjadi sengketa.

Romi pun bercerita,
Ahmadiyah itu bla…bla…bla…
Ra…ra…ra…
Ra…ri…ru….
Mereka dituding sesat karena bla…bla…bla…
Padahal ra…ra…ra…

Romi diam sejenak, lalu dilanjutkannya,

Mereka tidak mendudukkan
al-Tazkirah sebagai Kitab Suci
dan menganggapnya sebagai karya Ghulam Ahmad
Tiada lebih.

Mereka berkeyakinan sama dengan umumnya akidah Islam
Menjalankan ibadah sesuai lima rukun Islam
karena bla…bla…bla…
Ra…ra…ra…

Romi mengambil nafas panjang
Kembali berkicau,

Polemik Ahmadiyah sering terjadi sejak 1925
Dulu semua damai saja
Tapi orang sekarang pendek sumbunya
Tidak lagi sanggup menenggang perbedaan
Padahal bla…bla…bla…
Ra…ra…ra…

Romi menuturkan semua pengetahuannya,
Yuli menyimaknya
Dengan airmata
Yang terus mengalir di kedua pipinya.

Setelah agak reda
Yuli masuk ke inti perkara,
Ya Romi
Itu kan Ahmadiyah versimu
Versi ayahku jauh berbeda.
Kamu tahu, ayahku pengurus masjid
Yang punya paham anti-Ahmadiyah.

Yuli melanjutkan, sambil menyeka air matanya,

Menurut ayahku, Ahmadiyah itu
Ta…ta…ta…
Bla…bla…bla…
Karena mereka
La…la…la…
Bla…bla…bla…

Mereka berdua larut dalam diam
Hati mereka berpelukan
Tapi pikiran mereka bersilangan.
Melihat wajah Yuli yang memucat
Romi kuatir penyakit lamanya kambuh.

Sejak huru-hara Cikeusik itu
Yuli mulai berubah
Ia tampak senantiasa gelisah
Kalau ayah dan ibunya tahu
Siapa sebenarnya si Romi itu
Cinta mereka harus tamat
Harus kiamat mat-mat-mat-mat.

Hampir tiap malam
Orang berkumpul di rumah Yuli
Dan huru-hara Cikeusik yang kelam
Jadi pusat gunjingan, jadi inti.
Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Tak jarang teriakan itu terdengar
Di sela-sela kata-kata yang marah,
Di sela-sela sumpah-serapah.
Ayah Yuli aktivis Islam yang tegak
Di garis keras.

Yuli pun berusaha mencari jalan
Untuk melunakkan hati ayahnya,
Untuk mengendorkan kepalan tangannya;
Dicarinya pandangan lain
Dari kalangan pembela hak asasi,
Dari ulama moderat,
Dari tokoh agama yang bisa menjembatani.

Konon, sumber kekerasan adalah sebuah fatwa:
Ahmadiyah dinyatakan sesat tahun 2005.
Dan sejak itulah
Azab-sengsara menimpa para Ahmadi.

9 Juli 2005,
Perguruan al-Mubarok milik Ahmadiyah
di Parung, Bogor
Diserang massa.3

Sejak tahun 2006 hingga entah kapan
Di Mataram ratusan jemaah Ahmadiyah diserbu
Mereka dipaksa mengungsi.4

27 April 2008
Masjid Al-Furqon milik Ahmadiyah
Di Parakansalak, Sukabumi
Dibakar massa: para Ahmadi lari lintang-pukang
Tiga bangunan madrasah rata dengan tanah.5

Juni 2008
Terbit Surat Keputusan Bersama
Menteri Agama,
Menteri Dalam Negeri,
Dan Jaksa Agung.
Isinya:
Titah bagi jemaat Ahmadiyah
Untuk menghentikan semua kegiatan
Yang tidak sesuai
Dengan penafsiran Islam.

Tetapi para pembela hak-hak asasi manusia
Menilai Surat Keputusan Bersama tak adil,
Melanggar hak-hak asasi manusia,
Bertentangan dengan Undang-undang Dasar ‘45,
Dan tidak akan mengakhiri masalah.6

Yuli semakin bingung,
Semakin banyak yang ia dengar
Semakin beragam isinya
Semakin kabur semua baginya.

Satu-satunya hal yang pasti:
Ayah dan Ibu mengubah pikiran
Rencana pernikahan pasti dibatalkan.
Kecuali jika ada mukjizat.

Suatu malam
Yuli mengajak orang tuanya berbincang:
Disampaikannya cerita tentang Romi
Apa adanya: korban Cikeusik itu kerabatnya.

Orang tua Yuli bagai kena setrum
Bagai tersambar halilintar:
Dan dalam kegeraman mereka berkata,
Demi nama baik keluarga
Pernikahan harus dibatalkan!

Ayah Yuli berteriak mengatakan,
Ahmadiyah telah menyimpang dari Islam yang benar
Ajarannya sudah dinyatakan sesat
Dalam agama berlaku prinsip
Bla..bla..bla…
Ra…ra..ra…

Yuli mencoba menjawab,
Ahmadiyah itu Islam juga
Karena ta…ta…ta…
La…la…la…

Hari itu, Yuli dan ayahnya berdebat keras
Lirih Yuli berkata,

Ayah, aku hidup di zaman yang berbeda
Jangan paksakan pikiran Ayah padaku
Aku memang anak Ayah.
Tapi batinku dan pikiranku bukan punya Ayah.

Ini bukan pikiran Ayah, Yuli.
Ini perintah agama! sahut ayahnya.

Percakapan pun selesai, tak ada jalan lagi
Kecuali yang buntu.
Ayah dan Ibu sepakat bulat,
Agama Allah tak boleh kalah
Oleh cinta sesaat para remaja.

 

Di Cikeusik, Romi pun tertunduk
Di hadapan orang tua,
Berterus terang bahwa ayah Yuli
Adalah aktivis organisasi anti-Ahmadiyah.

Ayah Romi kaget, dikatakannya,
Kita semua sedang berduka, Nak,
Kita tahu sikap mereka
Kita merasakan horor yang mereka taburkan.
Mereka itu bla…bla…bla…
Sedangkan kita tra…la…la…tra…li…li…

Romi mencoba mencoba meluruskan,
Ayah, antara Ahmadiyah dan garis keras itu
Sebenarnya ra…ra…ra…
Ra…ri…ru…

Penjelasan Romi terbang terbawa angin;
Ayah memutuskan
Rencana pernikahan dibatalkan,
Stop! Hentikan semua hubungan!

Romi terus menentang
Ia merasa punya hak untuk berbeda
Ia tak ingin mewarisi permusuhan ayahnya,
Perselisihan Ahmadiyah dan garis keras tak menariknya.

Dikutipnya syair dari Kahlil Gibran,
Ayah, dengarkan ya Ayah,
‘Anak-anakmu bukanlah anakmu
Mereka anak-anak kehidupan.
Pada mereka engkau boleh berikan cintamu
Tapi jangan kau paksakan bentuk pikiranmu
Jangan membuat mereka menyerupaimu
Karena mereka tinggal di rumah esok.’

Ayah membentak Romi keras sekali,
Romi, sekarang kamu dengarkan Ayah.
Kedudukan agama itu di atas puisi!
Jangan kaubandingkan penyair dengan Nabi!

 

Walaupun orang tua tidak setuju
Romi dan Yuli tetap rajin bertemu
Tanpa orang tahu;
Romi tak letih-letihnya mencari jalan
Untuk menikahi Yuli.

Yuli, kita bukan anak durhaka
Kita tak hendak melawan orang tua
Tapi kita punya hak atas hidup kita sendiri.
Peradaban menjadi maju
Karena di semua zaman
Selalu ada anak-anak yang berani berbeda dengan orang tua,
Tegas Romi.
Yuli hanya menunduk diam.

Sebagai laki-laki
Romi tak harus dinikahkan orang tua,
Tetapi Yuli perempuan
Baginya izin orang tua diperlukan.
Itu adalah keharusan nikah yang sah menurut agama.

Romi, kau tahu pendirianku.
Aku pun tak suka dibatasi hanya karena aku perempuan.
Tapi tanpa izin orang tuaku, kita tak akan sah menikah.
Itu hukum agama, karena aku perempuan, jawab Yuli.

Kedua anak muda itu menatap kosong
Hanya jalan buntu yang terbayang.

Bagaimana jika kita kawin lari, ujar Romi
Mencoba meyakinkan Yuli.
Diceritakannya tabungan dan kesiapannya
Dan jika anak kita lahir nanti,
Agama apa pun sah ia ikuti.

Yuli, oh, Yuli, ujar Romi,
Tak usahlah kita menjadi korban,
Tak usahlah kita terbawa
Oleh huru-hara yang mereka cipta.
Mulut Yuli terkatup rapat
Tapi hatinya yang semakin pahit
Melengking, menjerit.

Tak pernah ada dalam pikirannya
Untuk melawan Ayah
Untuk melawan Ibu
Yang melahirkannya.
Oh Tuhan,
Tunjukkan keajaiban.

Romi, ikhlaskan saja aku –
Aku tak bisa menemui lagi.
Cinta tak harus bersatu
Mungkin ini pertanda kita harus berpisah.

Yuli berlari, menangis,
Menembus malam
Didera keputus-asaan.

Romi pun melompat bangkit,
Disambarnya tangan Yuli
Dan dengan keras dikatakannya,

Yuli, kita hanya akan pisah
Jika ada di antara kita berbuat salah.
Punya paham agama berbeda itu normal!
Itu bukan kriminal!
Teguhkan janjimu
Bajakan hatimu,
Cinta kita tak boleh lemah!

Yuli diam
Lalu pelan ia mengangguk
Tanda setuju.

Diyakinkannya lagi Yuli,
Ayo Yuli, sihir hatimu,
Katakan: ‘Cinta kalahkan segala.’
Ya Rom,’ balas Yuli pelan,
‘Cinta kalahkan segala!’
Ingat, Romi, jangan kira
Aku tak berupaya.

Air tumpah dari mata Yuli
Air menggenang di mata Romi –
Ya, sebagai lelaki, hampir tak pernah
Matanya basah.

Tekad sudah diikrarkan
Tetapi di lubuk hati paling dalam
Diam-diam Romi merasa
Saat berpisah akan datang jua.
Dan saat itu tak lama lagi
Pasti tiba.
Rasa itu begitu saja menyusup di hatinya.

Yuli berlari menerjang malam
Yang dirasanya semakin kelam,
Ia hujat dirinya sendiri,
Ya Allah, mengapa Kau sodorkan padaku
Pilihan ini,
Malapetaka ini?

Romi terpaku
Malam seperti batu
Menindihnya.

Di rumah, ayah dan ibu Yuli ikhtiar
Romi harus segera disingkirkan;
Yuli perlu jodoh yang baru
Pemuda Muslim dari keluarga baik-baik.

Mereka pun teringat akan Hartono,
Seorang pemuda santun, Pacar Yuli pertama,
Baru pulang sekolah dari Mesir tiga bulan lalu;
Kepada ibunya ia suka bertanya
Tentang kabar Yuli, pacarnya dulu.

Demikianlah maka kedua pasang orang tua
Merancang pertemuan anak-anak mereka:
Sekali
Dua kali
Dan ini kali ketiga.

Hati Yuli pernah merekah
Oleh kasih Hartono –
Tapi itu sudah lama lampau.
Hartono berniat menyambung kembali
Hubungan yang terputus
Semenjak ia pergi ke Mesir.

Tetapi hati Yuli sudah tertutup baginya
Tak kuasa lagi ia membukanya:
Romi tidak bersalah,
Dan janjinya, ‘Cinta kalahkan segala.

Jam menunjukkan pukul 6.00 pagi
Yuli berzikir sejak dini hari,
Tubuhnya semakin letih, melemah;
Semua tenaga ia tumpahkan,
Semua daya ia curahkan.
Ia pun pingsan.

Ketika ibunya membuka pintu kamar
Dilihatnya Yuli terkapar,
Ia pun menjerit – dan pingsan.
Seisi rumah ribut: kalang kabut
Bawa ke rumah sakit, segera!
Bawa ke rumah sakit sekarang juga!

Penyakit lama Yuli kambuh.
Kanker getah bening stadium dua,
Kata dokter, ia masih bisa disembuhkan
Asalkan pikirannya lebih tenang.
Ayah dan ibunya terdiam
Dan menangis berangkulan.

Ketika gadis itu siuman
Dengan lembut dipanggilnya ayah-ibunya,
Dan ditanyakannya,
Apakah Ayah dan Ibu mencintai saya penuh seluruh?
Tampaknya ajal tak lagi jauh, ujar Yuli.
Ayah dan Ibu menangis lagi,
Umur di tangan Tuhan, anakku, sahut Ayah.

Hartono, pria yang akan dijodohkan itu
Hadir pula di sana;
Mendengar percakapan itu
Buru-buru ia minta pamit.
Tentu ada rahasia
Yang ingin disampaikan Yuli, pikirnya.

Bisakah Ayah dan Ibu mengabulkan permintaanku?
Yuli meneruskan bicaranya,
Inilah satu-satunya suara
Yang berdengung dalam ruang-ruang hatiku –selalu.

Suara ayahnya terbata-bata,
Pasti akan kami kabulkan jika mampu.

Dengan pandangan yang lembut
Yuli pun berkata,
Aku ingin segera dinikahkan dengan Romi
Dialah jodohku!

Halilintar kembali menyambar-nyambar,
Angin topan kembali berputar-putar
Di jantung sepasang laki-bini itu.
Apa yang akan kukatakan nanti
Kepada pengurus masjid
Jika anakku yang semata wayang
Menikah dengan seorang musuh?
Serunya kepada diri sendiri.

Namun, ia pikir, jika mereka bersikeras
Yuli akan tak lagi punya semangat hidup.
Oh Tuhan, ujar Ibu,
Mengapa Kau-sodorkan kepada kami
Pilihan yang pelik ini?

 

Meski Yuli belum juga pulih
Keluarga memutuskan
Untuk berobat jalan saja.
Rumah sakit semakin mahal, ujar ibunya.
Maklum, mereka keluarga sederhana.

Sudah tiga hari berlalu
Ayah dan Ibu seperti bisu,
Hati mereka bagai dibelah:
Paham agama dan cinta putrinya.
Jangan-jangan itu benar permintaan terakhir,
Pikir mereka.

Hari-hari pun dipenuhi shalat istikharah
Meminta petunjuk Allah,
Ya Allah,
Kami pasrah.
Bukakan hati kami
Tunjukan jalan bagi kami.

Dalam pikiran yang carut-marut
Ayah Yuli sempat berpikir
Bagaimana jika Yuli dan Romi kawin lari?
Ini solusi mujarab, pikirnya,
Agar mereka terhindar dari kemarahan tetangga

Agar bisa bebas dari cemooh kelompok masjid
Agar bisa lepas dari rasa malu
Terhadap keluarga Hartono.

Namun ibu Yuli malah menangis.
Yuli anak satu-satunya
Dan ingin dilepaskannya masa lajang Yuli
Dengan tangannya sendiri –
Apalagi kesehatan Yuli semakin buruk,
Katanya kepada suami.

Hari demi hari merayap
Terasa pelan sekali
Tercecap pahit sekali.
Ya Allah, tunjukanlah jalan bagi kami.

Seminggu kemudian
Keputusan diambil, walau tidak bulat:
Mereka merestui hubungan Yuli dengan Romi.
Di dalam hati Ayah dan Ibu masih tak yakin
Apakah mereka bisa dibenarkan Allah.
Mereka dahulukan cinta anaknya di atas paham agama
Mereka hanya ikuti suara hati.

Mereka menyesali diri
Karena tak kuasa meneladani Nabi Ibrahim
Yang rela menyembelih anaknya demi agama
Walau Tuhan akhirnya menyelamatkan anak Ibrahim.

Sedangkan mereka
Memilih mengorbankan keyakinan agama
Demi nasib putrinya, semata wayang.
Betapa berat pengorbanan!

Akan segera disampaikan
Kabar baik itu
Kepada Yuli.
Ayah dan ibunya membayangkan
Betapa bahagia akan menyapu derita,
Betapa mukjizat ini
Akan menyembuhkan anaknya.

Namun, tak terdengar sahutan apa pun
Ketika kamar Yuli diketuk.
Dan ketika pintu dibuka paksa
Mereka menyaksikan akhir sebuah cerita:
Yuli sudah tergeletak
Tanpa nyawa,
Yuli sudah menghadap
Yang Mahakuasa.

Kisah duka sudah dituntaskan
Bagi manusia,
Layar Agung sudah diturunkan
Dari atas Sana.

Yuli sudah tiada
Sebelum sempat mendengar berita bahagia.

Ayah Yuli terjatuh lunglai
Ibunya menjerit histeris,
Nama Tuhan disebut bercampur air mata
Luka yang mahaperkasa bertahta.

***

  1. Dan tatkala Musa menghadap ke negeri Madyan ia berdoa, semoga Tuhanku membimbingku ke jalan yang benar. (Al-Qashash: 22)
  2. Untuk detail kronologi penyerangan jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, lihat http://www.ahmadiyya.or.id/index.php?option=com_content
    &view=article&id=95:pers-release-jemaat-ahmadiyah-ttg-peristiwa-cikeusik&catid=41:info&Itemid=61.
  3. Kampus Mubarak merupakan kantor Pengurus Besar Jamaah Ahmadiyah Indonesia yang beralamat di jalan Raya Parung No. 27 Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor. Mereka diserang oleh sekelompok massa yang menamakan dirinya Gerakan Umat Islam yang dipimpin oleh di antaranya Habib Abdurahman Assegaf dan M. Amin Djamaludin. Aksi penyerangan tersebut mengakibatkan rusaknya aset-asetnya Jamaah Ahmadiyah dan jatuhnya korban luka-luka pada beberapa orang anggotanya dan aksi itu berujung pada penutupan secara paksa Kampus Jamaah Ahmadiyah Indonesia tersebut oleh Musyawarah Pimpinan Daerah Kabupaten Bogor melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) atas desakan dari massa penyerang. Sumber: http://www.bantuanhukum.or.id/index.php/
    id/menukasuslbh/
    minoritas/penganut-agamakepercayaan/183-ahmadiah.
  4. Ketika para pengungsi Ahmadiyah ini hendak pulang kembali ke kampung mereka di Gegerung Lingsar pada 26 November 2010, mereka kembali diserang warga setempat. Warga merusak sedikitnya 22 rumah milik pengikut Ahmadiyah. Karena itu, para pengikut Ahmadiyah itu kembali mengungsi ke Asrama Transito. Ada lebih dari 180 pengikut Ahmadiyah di NTB. Sekitar 130 orang tinggal di Asrama Transito Mataram, dan sisanya di Lombok Tengah. Sumber: http://nasional.vivanews.com/news/read/
    220474-ntb-atasi-ahmadiyah-dengan-dakwah-lisan.
  5.  Untuk laporan yang lebih detail peristiwa penyerangan ini lihat, “Hangusnya Masjid di Lembah Sejuk”, http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/
    2008/05/05/LU/
    mbm.20080505.LU127087.id.html.
  6. SKB tiga menteri itu memang tidak berhasil menyelesaikan masalah. Konflik dan tindak kekerasan tetap terjadi. Penyerangan dan pembantaian anggota jemaat Ahmadiyah di Cikeusik pada 6 Februari 2011 merupakan puncak kekerasan menimpa jemaat Ahmadiyah Indonesia. Untuk data dan laporan lengkap kasus Cikeusik bisa dibaca dalam Laporan yang disusun oleh Tim Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) berjudul: Negara Tak Kunjung Terusik, www.kontras.org/data/laporan. Ironisnya, hakim yang mengadili kasus itu pada 28 Juli 2011 hanya menjatuhkan hukuman 3-6 bulan penjara saja kepada 12 terdakwa pelaku penyerangan (www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/
    2011/07/110728_cikeusikverdict.shtml).


Bagi artikel ini


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co