free page hit counter

Batman, Robin dan Pantulan Aktivisme Kepenyairan

(Review Cinta Terlarang Batman dan Robin)

Oleh : Rendy Pahrun Wadipalapa

Kalau begitu kita harus berpisah, Sayang –
Bagaikan sembilu rasanya janji
Untuk tidak bertemu lagi.
–Cinta Terlarang Batman dan Robin, Denny Januar Ali

Syahdan, demikian Bambang menutup dialognya yang nyeri, kepada Amir, yang dikasihinya. Tatkala ucap pisah yang romantis itu tiba diujung bibir, tergambarlah “cinta terlarang” yang diremukkan oleh keadaan. Perpisahan itu adalah perpisahan yang terpaksa.

Tautan cinta keduanya, Bambang yang seberani Batman dan Amir yang seperagu Robin, pada akhirnya dikisahkan diantara himpitan dua tembok besar. Tembok pertama bernama agama; sementara yang kedua disebut wasiat keluarga. Terhadap yang pertama, cinta dilihat sebagai bagian yang tunduk atas doktrin; sementara yang kedua melihat cinta seyogyanya mendahulukan kepatutan serta penghormatan yang tinggi kepada yang dituakan. Implikasi pelanggaran kepada yang pertama berupa sanksi dan persekusi suci; sementara pelanggaran terhadap yang kedua akan mengakibatkan isolasi. Menolak yang pertama akan membawa risiko kesesatan, dan menolak yang kedua menandakan kedurhakaan. Baik yang pertama maupun yang kedua sama-sama menyediakan ruang kontemplasi yang pengap, perenungan yang panjang, sekaligus menguras kewarasan berpikir.

Mengambil sudut pandang Amir, yang dirundung cinta tak tertahan pada Bambang, sesungguhnya pembaca akan mendapatkan uraian-uraian kegelisahan yang terpantul dalam diri penyairnya, Denny Januar Ali. Tak pelak, konflik batiniah atas kedua “tembok” itu telah membuat puisi-esai Denny yang berjudul Cinta Terlarang Batman dan Robin sebagai karya dengan bangunan nuansa psikologis yang kuat.

Dilema lain yang terpantul dalam sajak ini adalah konflik antara topeng normalitas dan abnormalitas; juga polemik antara ketertutupan dan keterbukaan. Jika dilema normal-abnormal adalah dilema mengenai bagaimana suatu pilihan dipersepsi secara sosial, maka dilema ketertutupan-keterbukaan adalah soal bagaimana pilihan itu dijalani. Dilema yang pertama muncul dari rasa kecewa almarhumah ibu serta istri atas sikap Amir, sementara dilema yang kedua tampak dari perasaan Amir yang memilih menutup rapat orientasi seksualnya.

Dalam sekali lihat, pembaca akan segera menangkap kesan jika seluruh isi dan semangat puisi-esai ini bertolak dari olahan pengalaman maupun refleksi atas kenyataan yang dihadapi penyairnya. Alasan agama (yang anti homoseksual) dan wasiat keluarga (yang menghendaki pernikahan “normal”) menjadi polemik yang mengaduk-aduk perasaan, sekaligus membingkai konflik dalam suatu nuansa yang tidak lagi asing dan mudah ditemui, tetapi tetap saja begitu sukarnya dicarikan jalan keluar. Trikotomi orientasi seksual, norma doktrinal agama, hingga resepsi masyarakat sosial, adalah jejalin ketegangan yang tak perlu diperpanjang uraiannya disini lantaran sudah begitu mudahnya kita menghubungkan ketiganya, namun tetap penting untuk kembali diangkat karena tingkat sensitifitas persoalannya, bobot masalahnya, serta dilema solusinya.

Dari sana Denny kembali mencoba menyelami situasi batiniah beserta unsur-unsurnya yang berhamburan dalam diri seorang homoseks: kebingungan, kerisauan dan ketakutan. Kesadaran bahwa mencintai Bambang merupakan perkara besar yang akan menghantam mimpi keluarga, agama, dan orang-orang dekat, rasanya mewakili gundah-gulana dalam pikiran Amir yang homoseks.

Bagian menarik lainnya yang harus diperhatikan adalah diambilnya atribut-atribut Islam. Misalnya, setting pondok pesantren dipilih sebagai locus delicti tumbuhnya perasaan sejoli Bambang dan Amir—atau dalam tamsil Denny, Batman dan Robin. Menjadi tak terhindarkan lagi andai dikatakan disini jika romantika pesantren telah memperumit paradoks dari hubungan dua sejoli:

Eros telah menyatukan keduanya
Di pesantren.
Siapakah yang mesti disalahkan?
Semua terjadi begitu saja, tanpa rencana.

Konteks pesantren berbicara lebih luas dari sekedar pemantik paradoks. Lebih jauh, pesantren dirujuk lantaran disana tersimpan tradisi samar-samar tentang mairil, tentang orientasi homoseksual sesama santri yang telah banyak ditulis sebagai bagian dari karya para sarjana antropologi maupun sosiologi.

Jika pesantren diambil secara sengaja sebagai konteks, maka ayat kitab suci—sebagai atribut Islam—dikutip sebagai penajam paradoks dalam konteks. Kutipan atas ayat-ayat Qur’an tidak dinukil Denny guna mencari tafsir lain yang lebih netral atas hukum homoseksual; melainkan dimanfaatkan sebagai pemberat tekanan psikologis bagi sosok Amir. Atribut-atribut inilah yang akan mengantarkan pembaca pada menu utamanya: kerisauan luar biasa sekaligus tuntutan dalam menyelesaikan “ketegangan dogmatik”.

Dimasukkannya pesantren sebagai salah satu konteks dalam sajak ini, serta dikutipnya ayat maupun kisah-kisah dalam kitab suci, bertujuan tiada lain untuk memperlihatkan tajamnya paradoks yang dihadapi oleh tokoh-tokohnya.

Aktivisme via Puisi-esai?

Sambil menempatkan Amir sebagai tokoh utama yang ringkih perasaannya dan rapuh pendiriannya, Denny mencoba menghadirkan sensasi kebingungan yang dialami oleh seorang homoseks. Pergoalakan psikis, kegundahan batiniah dan derita secara fisik ditampilkan sedemikian rupa lebih banyak secara denotatif dan apa adanya, ketimbang konotatif yang penuh aforisma yang barangkali dianggap oleh penyairnya tak terlalu perlu untuk sebuah tema yang mengangkat diskriminasi sosial. Pemanfaatan unsur denotasi dalam kata memperlihatkan sikap kepenyairan yang menghendaki keterusterangan dan menghindari bunga-bunga kata.

Selain dominasi teknik denotasi dalam pengungkapan maksud, Denny juga menyodorkan suatu cara baru dalam upayanya menerobos sedimentasi kesusastraan melalui mode baru yang mengawinkan puisi dan esai. Terlepas dari berhasil tidaknya upaya tersebut, tapi bentuk baru dalam wujud puisi-esai ini memungkinkan upaya emansipasi secara sengaja, advokasi melalui kata, ataupun pemihakan atas kaum yang ter- dan/atau di-marjinalkan secara lebih panjang, terperinci, serta deskriptif. Melalui mode puisi-esai ini pula, frekwensi denotatif lebih bisa ditoleransi, disamping pula keluasan, panjang, maupun kedalaman tulisan yang juga dapat dimaksimalkan. Ringkasnya, sulit bagi pembaca untuk tidak merasakan nuansa aktivisme yang dibawa Denny melalui metode baru yang ia tawarkan.

Sajak Cinta Terlarang Batman dan Robin memberikan konfirmasi atas ciri denotatif dari mode puisi-esai yang dipraktikkan Denny. Sajak itu memuat uraian homoseksualitas tanpa harus merasa bertata-krama secara malu-malu. Penggunaan nomenklatur “sayang” dalam tiap-tiap metafor dialog Bambang-Amir, misalnya, sulit dilihat kecuali dari sudut pandang yang menafikan “rasa sungkan”. Tanpa mengganti atau memperhalus kata agar terlihat lebih “sopan”, ungkapan-ungkapan terus terang dari perasaan batin homoseks dipilih bukan saja agar terlihat natural, tetapi lebih-lebih karena hanya dari keterusterangan itulah sebuah aktivisme dapat dimulai.

Pun, dalam semangat yang sama, keberanian itu juga muncul dari diangkatnya ayat-ayat kitab suci untuk kemudian memperlawankannya dengan keteguhan batin Amir sebagai homoseks. Persis, dititik itu lagi-lagi pembaca akan merasakan aktivisme Denny meruap keluar. Pertarungan batin homoseks diselesaikan hanya melalui keberanian untuk mendaku, sebagaimana wanita dan kulit hitam mewariskan semangat keberanian untuk bersetara. Perjuangan adalah tahap yang harus diselesaikan terlebih dahulu, meng-atas-i dogma agama, wasiat Ibu,  atau istri yang berontak.

Sebagai suatu sajak utuh, puisi-esai yang penuh keterus-terangan ini menandai ciri sastra yang lebih dekat pada ciri “Batman”: tegas, kokoh, dan tanpa kata berkelok-kelok atau bertele-tele. Namun demikian, sikap kepenyairan masih perlu diuji, terutama dengan melihat kiprah penyair di dunia konkret sehubungan dengan apa yang telah ia tulis. Upaya terakhir ini ditempuh supaya sikap kepenyairan dapat dibandingkan sejajar dengan ciri sastra yang dipilih, sekaligus untuk menghindar dari tudingan sebagai “Robin”: kepenyairan yang peragu dan tak stabil.

Tentu sajak ini tak dapat dibandingkan dengan sajak-sajak James Kirkup di Inggris atau Harold Norse di Amerika Serikat yang sedari awal mengkhususkan diri pada isu-isu homoseksual dan advokasinya. Tetapi, pada akhirnya, dari segi kepenyairan jugalah kita patut bertanya, apakah dalam perjalanan yang masih panjang dan dinamis Denny JA akan memilih jalan kepenyairan sebagai Batman yang tegas-kokoh, atau sebagai Robin yang gampang goyah dan alpa.
***


Bagi artikel ini


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co