free page hit counter

Minah Menembus Prosa, Mendobrak Puisi

Aku sudah tiada
Tetapi masih teringat malam
Sebelum kepala
Dipisahkan dari tubuhku
(Minah Tetap Dipancung – Puisi Esai Denny JA)

Sudah jelas memang, Minah kini telah tiada.  Minah –seperti juga Ruyati dan Yanti Riyanti- tidak cukup kuat mendobrak jalinan besi sel penjara tempatnya menunggu ajal.  Kesaksiannya  mengenai pembelaan (harga) diri -sehingga terpaksa membunuh- juga tak berhasil mendobrak ikatan hukum yang berlaku di Arab Saudi. Nyawa bayar nyawa, begitu Denny JA menggambarkan kondisi Minah.

Membaca Minah, adalah membaca bangsa, memahami problema sosial, menyusuri hukum syariah agama, dan menelaah kesenjangan budaya. Lebih dari sensasi yang didapat ketika membuka buku teks pelajaran sosiologi konvensional, puisi esai ini dengan gamblang mengungkap fenomena sosial. Substansi puisi esai Minah menjadi salah satu contoh dari kajian sosiologi – yang menurut  ahli sosiologi Rusia Pitirim Sorokin mempelajari tentang hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial, seperti  hubungan antara tingkat ekonomi dengan perilaku sosial, hubungan antara pendidikan dengan kebudayaan, hubungan antara pendidikan dengan ekonomi, hubungan antara agama dengan kehidupan sosial, dan lain sebagainya.

Bukannya tak sengaja lantas mengkaji Puisi Esai Minah dari sudut pandang keilmuwan sosiologi. Mungkin karena metafora dalam puisi-puisi sosial sejenis tak bisa disandingkan begitu saja dengan Minah Tetap Dipancung, tanpa mendalami unsur intrinsik artistik dari puisi esai ini. Bisa jadi karena “dunia” Minah begitu prosais sehingga takkan cukup tahan menerima ketatnya aturan puisi.

Minah, sebagai simbol sosok TKI yang dihukum pancung di Saudi,  sudah pasti adalah komoditas berita. Kisah Minah adalah kasus yang takkan mungkin sampai pada publik jika terlalu sarat metafor. Lalu haruskah minah menyerah pada gamblangnya prosa?

Dalam isu-isu yang begitu sensitif dan urgent (bagi kepentingan kelompok tertentu), berkali-kali pemikiran Nietzsche yang puitis juga dengan paksa dicoba menjadi prosa. Dalam hal Nietzsche, Hitlerlah tokoh yang membuang kebulatan puitis “kehendak untuk berkuasa” Nietzsche menjadi kepingan prosa: “upaya untuk menguasai”. Hal ini diungkapkan sastrawan Indonesia, Agus R. Sarjono dalam Peluncuran Puisi Friedrich Nietzsche.

Bisa jadi, pemaksaan prosa sengaja dilakukan agar keutuhan puisi yang filosofis tersebut hanya menjadi rangkaian kata dengan pemaknaan yang dangkal dan terarah menuju muara doktrinasi. Tujuan Hitler tentulah  terkait dengan ambisinya terkait kekuasaan yang absolut.

Mungkin Hitler tidak sepuitis Denny JA -yang nampaknya tidak menyerah dan beralih ke prosa untuk menyampaikan pesan krusial. Melalui kreativitasnya, puisi tidak lantas menjadi hambatan dalam mengemukakan permasalahan mendasar Minah. Syairnya memang lugas dan tidak banyak memuat simbol, namun ia memuat irama, rima, serta penyusunan larik dan gubahan bahasa tertata sehingga mampu menyampaikan pesan dan makna khusus yang sengaja tidak disiratkan dalam puisi tersebut.

Bagi Denny, Minah terlalu penting. Minah yang sudah mati “tergilas” kepahitan tak mungkin lagi ditahan dalam jeruji metafora dan lirisisme peranakan romantisme. Tidak mungkin pula dijebloskan kembali ke dalam liang prosa yang klise, layaknya berita-berita.  Minah harus hidup dan berteriak dalam sajak.  Minah harus tinggal di sudut hati banyak orang dan bukan hanya untuk menggetarkannya, melainkan menggelisahkan dan merunut lebih jauh menuju muara sebab muncul dan musnahnya Minah.

Sebagaimana sebuah karysa sastra, Denny JA merangkai kata dengan kepekaan hati dan meniupkan ruh pada tiap bait puisinya dengan kemampuan artistiknya. Puisi esai Denny adalah buah pemikiran akademisnya yang kemudian dikemukakan dengan gaya pemikiran yang puitis. Ia seolah menentang gaya penulisan sistematis yang seringkali mencirikan diri akademisi, makanya kemudian menjajal kepiawaian sebagai seorang sastrawan.  Dalam Minah Tetap Dipancung, Denny JA mencoba berinovasi dan mengukir jejak eksistensinya dengan menawarkan sesuatu yang baru, meski hal ini artinya ia harus bergelut antara konsensi dan mendobrak tradisi –antara memberitakan kasus Minah, mengupas substansinya, dan mengukir estetika penyampaiannya.

Dalam konteks perkembangan puisi modern, Denny mencoba membedakan diri, meski tetap menggunakan pola persajakan untuk mendapatkan efek puitis atau nilai seni, misalnya rima yang berfungsi sebagai perlambangan rasa (klanksymboliek),  sehingga menambah keindahan puisi dan memberi nilai sensasi tertentu.  Membaca Minah Tetap Dipancung, yang terdengar adalah serangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang,  sebagai dasar timbulnya units of meaning -yang menurut pengamat sastra Rene Wellek menimbulkan makna yang dapat dipahami pembacanya;

Ya, sudahlah, uangku telah raib entah ke mana –
Tapi aku bangga karena mereka
Menyebutku pahlawan devisa
Berjasa bagi negara.
(Minah Tetap Dipancung – Puisi Esai Denny JA)

Minah jauh dari cengkeraman metafor liris yang monoton. Denny  JA berusaha menjadi naratif dengan mempertahankan runut kata yang mengandung unsur visual. Memberontak dari pakem, dan menghadirkan konten yang begitu berat. Yang pada kelanjutannya akan membawa pembaca puisi esai ini terlibat begitu jauh ke dalam “dunia” Minah. Siap mendiskusikannya dari berbagai aspek. Singkat kata, puisi esai bisa jadi ideal  bagi karya sastra dengan substansi yang mengundang dialog ilmiah, dimana riset dan fakta akan banyak terlibat di dalamnya. Minah Tetap Dipancung, misalnya,  adalah sebuah kajian sosiologis yang holistik.  Bait demi bait puisi esai ini terus menyeret pembacanya dalam potongan adegan yang sebelumnya juga pernah menyesaki ruang imajinasi publik – misalnya seusai menyimak laporan media mengenai penyiksaan dan pembunuhan terhadap Kikim Komalasari. TKI asal Babakan Hummat, Desa Mekarwangi, Haurwangi, Kabupaten Cianjur,  ini tewas dibunuh majikannya di Kota Abha, Arab Saudi pada 5 November 2010.

Pertanyaan dalam benak pun menyeruak; apakah Kikim mempertanyakan garis nasibnya seperti juga  Minah. Tentunya Kikim yang melewati hari-hari menahan sakit siksaan fisik (dan sudah pasti psikologis) bukan lagi hanya sekadar rindu anak, suami, ayah, ibu, dan adik-adik, tapi juga rindu akan keadilan, dan mungkin juga pembalasan.  Apakah Kikim sudah begitu “melek” hukum setempat sehingga memilih mati terbunuh daripada membunuh. Atau ia hanya begitu “buta” sehingga tak pernah tahu bahwa ia bukan budak dan berhak membela (harga) diri? Lalu apakah hukum setempat? Hukum Islam yang bagaimanakah yang dipraktekkan di Saudi?

Qisas, begitu istilah hukum pancung -yang telah memisahkan ruh Minah dari raganya- lebih dikenal. Seorang teman, kebetulan seorang diplomat, sekali pernah menceritakan proses Qisas dan prosedurnya secara syariah ataupun dibawah pengawasan pemerintahan. Dalam situs ekonomisyariat.com, dijelaskan bahwa Qisas adalah pelaku kejahatan dibalas seperti perbuatannya. Apabila membunuh,maka ia dibunuh. Singkat kata, sang rekan yang cukup berilmu (dalam hal agama dan perlindungan TKI) kemudian menyimpulkan lirih -setengah berbisik; “Kejam atau tidak, bagi mereka yang percaya dan menjalankan syariah Islam, sejatinya, nyawa bayar nyawa adalah bentuk pengampunan dosa seorang muslim di dunia sebelum menghadap Allah SWT. ”

Pertanyaan mendasar yang tadinya menyeruak pun terbenam. Namun selang beberapa menit, keriuhan timbul lagi. Kali ini berkembang  menjadi bahan perbincangan alot di kalangan kawan sejawat yang kembali digelisahi  Minah, Kikim, Ruyati, dan TKI lainnya yang meregang nyawa ditangan majikan –di kamar mandi, di kamar tidur yang sempit, di pembuangan sampah, di gurun-gurun pasir yang hampa- atau di tangan algojo eksekusi pancung Arab Saudi.  Obrolannya sama, hanya pertanyaannya ditarik dari sudut yang lain, perkara sosial; Mengapa perempuan-perempuan Indonesia yang masih cukup bahagia di bumi pertiwi ini (walau kurang makan karena terlalu miskin) sampai harus diMinah-kan? …

Itulah awal tekadku bekerja ke Arab Saudi.
Kuyakinkan Suami ijinkan aku pergi,
Hidup perlu biaya.
(Minah Tetap Dipancung – Puisi Esai Denny JA)

Siapakah gerangan yang meMinah-kan? Berjuta latar belakang sosiologis lantas mengemuka; mulai dari jatah mafia TKI oleh pelaku yang berasal berbagai institusi terkait hingga latar belakang akar pendidikan, sosial, dan kondisi ekonomi yang begitu menjerat -sehingga memaksa seseorang kerap memilih antara hidup melarat atau mati mencari rezeki.

Hingga Minah dipancung, hingga Denny JA terasuki perasaan dan pikiran Minah, hingga puisi esai ini usai dibaca dan diperdebatkan, tak ada yang bisa benar-benar menjawab, kenapa sampai harus menjadi Minah? …

Hanya doa teruntai
dalam hati yang mendadak sepi
semoga Minah –sebagaimana  teman-teman TKI yang telah mendahului pergi
diganjar kebahagiaan sejati yang abadi …

(Sjifa Amori)


Bagi artikel ini


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co