free page hit counter

Suwarsono : Cinta Terlarang dari Cikeusik

Cinta  Terlarang dari  Cikeusik
Oleh Suwarsono

Isu diskriminasi dan kekerasan, seperti kekerasan fisik, psikologis, seksual, dan kekerasan social (atas nama) agama, masih menjadi tema yang aktual dan menarik untuk diangkat ke dunia sastra dalam berbagai bentuk, seperti puisi, cerpen, dan novel. Di  berbagai surat kabar, banyak dimuat cerpen yang bertema isu-isu tersebut.

Membaca puisi esai Atas Nama Cinta (ANC) karya Denny JA pada puisi kedua Romi dan Yuli dari Cikeusik (RYC) saya jadi teringat lagu, yang kemudian difilmkan  Cinta Terlarang (CT) yang dibintangi the Virgin.  Puisi esai ini juga setema dengan novel yang ditulis Bagin Cinta Bersemi di Seberang Tembok (CBST). Ketiganya juga mengandung isu deskriminasi. Jika pada CBST isu deskriminasinya lebih pada masalah ras atau suku bangsa, maka pada ANC isu deskriminasinya pada masalah agama, dan Pada Cinta Terlarang mengangkat isu diskriminasi sosial kaya-miskin. Persamaannya kedua tokoh pada CT, RYC dan CBST adalah kendala atau rintangan ketika dua sejoli yang saling mencintai itu hendak menikah karena perlakuan diskriminatif.

Pada CBST Yusuf  merasa dendam dan benci terhadap orang cina karena pasukan Poh An Tui yang bergabung dengan pasukan belanda pernah menyiksa ayahnya. Namun nasib berkehendak lain. Setelah perang usai, yusuf menjalin hubungan cinta dengan Ko Lian Mien, seorang gadis Cina. Rintangan datang dari keluarga yusuf yang tidak suka gadis Cina itu. Tekad mereka membangun sebuah keluarga terwujud dengan perjuangan yang penuh keuletan dan keyakinan.

Pada RYC Romi dan Yuli berada di dua pihak yang berbeda keyakinan. Romi di pihak Ahmadiyah, dan Yuli di pihak Islam garis keras. Ahmadiyah dan Islam tidak akan pernah bertemu, bahkan bermusuhan.

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan suci. Dalam budaya Jawa berlaku norma 3B, yaitu bebet, bibit, bobot bagi kedua mempelai dari sudut pandang masing-masing keluarga. Perhitungan yang njlimet masih berlaku untuk hari H pernikahan yang memperhitungkan weton kedua mempelai. Oleh karena itu, pernikahan adalah penyatuan kedua mempelai dan keluarganya sehingga restu dari kedua belah pihak orang tua mutlak dibutuhkan. Jika tidak ada restu rasanya impossible keduanya ke pelaminan.

Perbedaan CBST dan RYC adalah ending-nya. CBST berakhir happy ending sedangkan RYC unhappy ending karena campur tangan penulis yang keburu ‘mematikan’ tokoh Yuli. Tapi perbedaan ending ini tentu saja terjadi karena RYC adalah puisi esai yang benar-benar ditulis berdasarkan fakta yang benar-benar terjadi atau bahasa kerennya true story dan didukung catatan-catatan kaki yang menegaskan fakta itu. Sedangkan  CBST adalah fiksi yang mungkin saja hanya refleksi realitas sosial yang dibumbui imajinasi. Sebuah fakta yang fiktif. Tetapi keduanya membenarkan pandangan sosiologi sastra bahwa sastra adalah cerminan realitas sosial pada zaman sesaat, atau sesudah karya sastra itu diciptakan.

Dalam pengantar dan epilog buku puisi ini dikatakan puisi esai adalah suatu cara penulisan baru. Puisi esai mungkin menbentuk genre baru. Tampaknya tidak. Puisi semacam ini dapat dengan mudah kita temui pada puisi-puisi karya WS Rendra, misalnya Khotbah, dan puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo, misalnya Sajak untuk Aida.
Mari kita bandingkan gaya Denny dengan WS Rendra pada kutipan berikut.

Ayah  Romi kaget, dikatakannya
Kita semua sedang berduka, Nak.
Kita tahu sikap mereka
Kita merasakan horor yang mereka taburkan
Mereka itu bla…bla…bla
Sedangkan kita tra…la…la…tra…li…li…

dengan kutipan puisi WS Rendra berikut ini.

Khotbah

Cinta itu di toko Arab
Cinta di belakang halaman gereja
Cinta itu persatuan dan tra-la-la
Tra-la-la. La la la. Tra-la-la.

Ada persamaan puisi esai ini dengan puisi-puisi WS Rendra, yaitu model penceritaan yang naratif dan beralur. Puisi semacam ini ditinjau dari segi isinya termasuk ballada. Sedangkan dari segi bentuk puisi ini bisa termasuk puisi liris. Sedangkan persamaan dengan puisi-puisi Subagio adalah penomoran puisi karena puisi yang panjang.

Jika bait-bait puisi esai ini disambung dan digabungkan tampaknya akan membentuk sebuah paragraf narasi yang enak dibaca. Ya mungkin itulah disebut esai. So, tak ada sesuatu yang baru di sana. Biasa saja.

Puisi esai ini mengalir lancar dengan diksi yang sederhana dan tidak begitu konotatif sebagaimana puisi-puisi konvensional yang selalu ‘bermain’ kata. Cara seperti ini di satu sisi memudahkan pembaca memahami isi puisi. Pembaca juga dipermudah dengan gaya naratif puisi yang beralur. Nikmatnya membaca puisi adalah sulitnya memahami makna diksi dan efek-efek diksi yang dipilih penulis puisi. Semakin sulit sebuah puisi dipahami, maka disitulah keindahan dan kenikmatan yang diperoleh pembacanya. Puisi yang yang secara semantis mudah dipahami biasanya tidak terlalu meninggalkan kesan bagi pembacanya.

Yang hebat dari buku puisi esai ANC ini adalah tercantumnya dua maestro puisi Indonesia, yaitu Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Colzoum Bachri sebagai penulis epilog buku ini. Kedua maestro tersebut memberi apresiasi dan kritik terhadap puisi esai ini.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa pemberian kata pengantar dan sejenisnya oleh tokoh terkenal seperti akademisi, pejabat, sastrawan terkenal pada sebuah buku baru bertujuan untuk meyakinkan pembaca bahwa buku itu buku ‘bermutu’ yang patut dibaca dan dibeli. Lantas sejajarkah puisi esai ANC karya Denny ini dengan puisi-puisi Sapardi dan Sutardji? mungkin belum, kalau tidak dikatakan tidak. Kepenyairan Sapardi dan Sutardji sudah teruji dan diakui banyak kalangan, sedangkan Denny dalam dunia kepenyairan belum terkenal. Mungkin benar kata orang bahwa tidak semua orang ahli semuanya.

Tetapi, bagaimana pun ANC ditilik dari isinya tetaplah puisi yang patut mendapat apresiasi. Berbagai isu deskriminasi memang melanda negeri ini dan ANC ini berhasil merekam dan mendokumentasikan peristiwa besar yang pernah terjadi di negara ini,  yaitu reformasi (baca: Kerusuhan Mei), peristiwa Cikeusik, dan masalah TKW dengan bahasa sastra, bukan bahasa umum. Tentu saja ini berkonsekwensi pada terbatasnya pembacanya karena bagaimana pun buku sastra hanya dibaca kalangan tertentu seperti akademisi, mahasiswa, pegiat/komunitas sastra, dan lain-lainnya yang notabene jumlahnya terbatas. Masyarkat awam tentu lebih memilih koran atau menonton tayangan TV untuk melihat dan memahami isu deskriminasi ini daripada membaca buku puisi esai ini.


Bagi artikel ini


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co