free page hit counter

Saidiman Ahmad: Puisi Esai dan Suara Kaum Terlarang

Orang-orang berteriak bagai kesurupan. Melempar dan membakar. Api menjalar dari rumah ke rumah. Gemuruh amarah semakin terdengar jelas. Fang Yin gelisah. Pintu pagar rumah mulai dijebol. Orang-orang berlarian masuk. Beringas. Seorang pekerja rumah tangga mencoba menghadang. Tapi tak kuasa menahan terjangan. Ia terkapar. Fang Yin lari ke dalam kamar. Mencoba mencari mukjizat. Ia diperkosa. Hartanya dijarah.

Demikianlah salah satu kisah yang diangkat oleh Denny JA dalam buku terbarunya, Atas Nama Cinta (2012). Buku ini berisi lima cerita yang dirangkai dalam bentuk puisi panjang. Tema yang coba diusung adalah diskriminasi terhadap kelompok minoritas. Lima puisi ini bercerita tentang tragedi 1998, tragedi Ahmadiyah, kasus TKW, LGBT, dan cinta beda agama. Selain puisi Denny, buku ini juga memuat epilog panjang dari Sapardi Djoko Damono, Sutardji Colzoum Bachri, dan Ignas Kleden.

***

Dalam beberapa titik, kisah-kisah yang diangkat oleh buku ini bisa membuat dada sesak dan nafas seolah berhenti. Perasaan semacam itu muncul karena yang diangkat adalah kisah-kisah yang benar-benar hidup dan acapkali muncul dalam berita.

Simaklah kisah Minah mengadu nasib ke Arab Saudi. Kepada suaminya ia berjanji akan membeli sepetak sawah. Mereka membayangkan alangkah indahnya bercocok tanam di atas tanah sendiri. Kepada anaknya, ia berjanji akan pulang membawa uang untuk membayar biaya sekolah.

Malang betul nasib Minah. Ia terjerat di dalam keluarga dengan seorang lelaki bejat. Lelaki itu memperkosanya berkali-kali. Sampai pada suatu titik Minah tak tahan lagi dan ia membunuh lelaki itu. Minah ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Pembelaannya tak digubris. Bahkan permintaan untuk bertemu dengan anaknya yang mulai masuk usia sekolah pun tak terpenuhi. Ia seorang diri. Ia dipancung di tanah yang ia muliakan.

Denny mencoba mengangkat sisi paling manusiawi dari semua tragedi. 10 Juni lalu, film Romi dan Juli dari Cikeusik diputar di Taman Ismail Marzuki. Film itu diangkat dari salah satu kisah di buku ini. Ribuan orang hadir. Massa yang didominasi anak-anak muda fans band Superman is Dead (SID) itu menonton dengan khusuk hingga akhir. Tepuk tangan panjang mereka di akhir film menunjukkan bahwa mereka memahami kisah itu. Mereka tahu bahwa kisah itu sangat dekat dengan realitas. Boleh jadi mereka pernah mengalaminya.

Denny mencoba mendekati kehidupan nyata sehari-hari, ketimbang tenggelam ke dalam analisa permukaan. Pada kasus 1998, publik sejauh ini lebih banyak disuguhi fakta permukaan dari tragedi kerusuhan, penjarahan, dan pemerkosaan terhadap warga keturunan Cina. Pada kasus Ahmadiyah, yang muncul dalam perbincangan publik adalah diskriminasi berupa larangan beribadah, pembakaran rumah, sekolah, dan mesjid, pengungsian jemaat Ahmadiyah di Lombok dan pembunuhan di Cikeusik.

Dalam kasus-kasus minoritas agama, yang muncul ke permukaan adalah debat teologis. Publik disuguhkan perbedaan pandangan keagamaan. Seolah-olah yang terjadi hanyalah perbedaan pandangan dua kelompok yang kemudian saling mengisolasi. Semua prasangka ini sesungguhnya terjadi pada level konseptual. Yang terjadi di level kehidupan sehari-hari jauh lebih kompleks. Sebab warga Ahmadiyah dan minoritas lain juga hidup dan bergaul.  Ketika sekelompok ahli agama dan pemerintah melakukan propaganda anti-suatu kelompok, maka secara langsung terjadi keretakan sosial. Di sana ada saudara yang harus berpisah, ada relasi bisnis yang harus memutus hubungan, ada anak-anak yang terisolasi dari teman-temannya, ada para remaja yang patah hati, ada cinta yang retak, dan seterusnya.

***

Potret realitas kehidupan sehari-hari yang menjadi korban utama dari diskriminasi sosial itulah yang hendak dipaparkan oleh Denny JA.  Dalam setiap peristiwa kekerasan yang menimpa kelompok minoritas suara korban hampir selalu tenggelam. Yang muncul ke permukaan adalah suara-suara pelaku. Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) melakukan monitoring terhadap media-media terkait cara pemberitaan kasus-kasus kekerasan sepanjang 2011 hingga kini. Temuan utamanya adalah bahwa suara pelaku hampir selalu dominan dalam pemberitaan. Hampir semua berita kekerasan selalu ditutup dengan argumen para pelaku kekerasan.  Media juga secara massif lebih banyak mengambil narasumber dari sisi pelaku dan pendukungnya. Ini menyedihkan karena kelompok minoritas seperti menjadi korban ganda: korban kekerasan dan korban stigmatisasi media. Media masih jauh dari perannya sebagai pemberi suara bagi yang tidak mampu bersuara. Yang terjadi justru media lebih banyak menjadi corong pelaku kekerasan.

Perilaku media terhadap peristiwa kekerasan semacam ini barangkali tidak terlalu mengejutkan. Secara teknis, para wartawan memang akan sangat mudah menggali informasi dari pelaku ketimbang korban. Kelompok minoritas tidak punya kemewahan posisi untuk mengutarakan pandangan kepada orang lain. Stigma sebagai kelompok sesat dan terlarang memaksa mereka untuk menutup diri. Sementara pada saat yang sama, kelompok pelaku kekerasan butuh legitimasi media untuk menutupi kejahatan. Dalam sebuah peristiwa para pelaku hampir selalu jauh lebih siap menghadapi wartawan ketimbang para korban. Awak media yang dituntut bekerja cepat “terpaksa” mengambil informasi dari pihak pelaku yang memang lebih siap. Akibatnya jelas, perspektif pelakulah yang muncul. Sementara korban akan terus dipojokkan. Tak heran kalau banyak peristiwa kekerasan di mana korban dijadikan tersangka dan pelaku melenggang bebas.

***

Denny JA menyebut karya ini sebagai puisi esai. Di sampul buku tertera keterangan “Gendre Baru Sastra Indonesia.” Buku ini mungkin bukan sepenuhnya pembaruan dalam penulisan puisi. Ia lebih dekat dengan pembaruan penulisan esai. Puisi dalam bentuk balada dengan kisah panjang sudah dimulai sejumlah penyair. Rendra salah satunya. Perjalanan Ibu Aminah adalah salah satu puisi panjang Rendra. Dalam “Sajak Sebatang Lisong,” dengan tegas Rendra menyebut puisinya sebagai “pamplet masa darurat.” Puisi pamplet dimaksudkan sebagai respon langsung terhadap realitas sosial yang timpang dan diskriminatif.

Di ranah esai atau prosa, apa yang dilakukan Denny JA ini juga tidak benar-benar baru. Esai-esai yang ditulis oleh penyair seperti Goenawan Mohamad dan Nirwan Dewanto, prosais seperti Linda Cristanty, esais seperti Ignas Kleden, bahkan ekonom seperti Chatib Basri memasukkan unsur-unsur pengungkapan puitik dalam tulisan-tulisan mereka. Komunitas Pantau, misalnya, bahkan memprakarsai suatu bentuk jurnalisme sastrawi. Jurnalisme sastrawi atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai narrative journalism diperkenalkan ke Indonesia oleh Andreas Harsono dan kawan-kawan. Jenis jurnalisme sastrawi yang pada mulanya muncul pada tulisan-tulisan majalah Tempo ini kemudian bisa ditemukan di hampir semua media cetak, belakangan juga media elektronik.

Namun begitu, lima puisi yang ditulis oleh Denny ini nampak jauh lebih dalam dari sekedar jurnalisme sastrawi. Karya-karya ini adalah fiksi tetapi dimaksudkan untuk menggali pengalaman batin yang diderita para tokoh cerita. Esai konvensional hanya mungkin menggambarkan suatu peristiwa pada kulit luarnya. Sementara puisi justru lebih dalam masuk dan mengutarakan pengalaman dan pergolakan batin secara langsung dari kacamata korban. Melalui catatan kaki yang disematkan di sana sini di semua puisi, pembaca disuguhkan fakta sekaligus konteks dari kekerasan dan diskriminasi yang sungguh benar terjadi.

Percobaan semacam ini patut didukung. Terutama karena realitas diskriminasi yang masih begitu besar. Diskriminasi yang nampak telanjang tapi tak mampu diungkap dalam model penulisan esai konvensional.


Bagi artikel ini


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co