free page hit counter

[ARTIKEL] Tentang Cinta oleh BERTHOLD DAMSHÄUSER

Tentang Cinta

BERTHOLD DAMSHÄUSER

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan me-miliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati. Ia mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan, sedangkan nubuat akan berakhir, pengetahuan akan berhenti. Demikianlah, tinggal tiga hal ini, yaitu iman, pengharap-an dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih (Perjanjian Baru, 1 Korintus13)

Menuliskan sesuatu tentang cinta bukan perkara besar. Tak terlalu perlu memeras otak, referensinya demikian banyak, dan untuk mencari sumber-sumber menarik cuma perlu sedikit berlayar di lautan digital. Setelah pelayaran beberapa jam, saya pun sudah sanggup membekali diri dengan uraian cukup menyeluruh tentang  “cinta”, klasifikasinya, objek-objeknya, dan lain-lain. Saya juga dapat memetik berbagai kata mutiara para pujangga dan filsuf, kaum yang sejak dulu paling gemar mengurus tema cinta. Temuan-temuan itu cukup menarik, dan menyebabkan saya —yang tadinya sudah menganggap diri sebagai ahli cinta yang berkualitas— jadi merenungkan cinta berhari-hari lamanya. Dalam tulisan pendek ini akan saya paparkan hal-hal pokok yang saya temukan, sekaligus mengomentari dan mengajukan berbagai renungan singkat tentang tema besar ini.

Kiranya, bagi tiap manusia kata cinta dan segala padanannya dalam bahasa lain berkonotasi positif belaka. Tak jarang kepositifan itu seiring dengan etimologi kata itu. Dalam bahasa Jerman, misalnya, makna asal dari kata Liebe (cinta) adalah “sesuatu yang baik”, “sesuatu yang berharga”. Pandangan positif terhadap cinta demikian mendasar, sehingga pengalaman paling pahit berkaitan dengan cinta sama sekali tidak mengganggu. cinta tetap diidamkan meski bisa membuat manusia menderita, yakni jika cintanya tidak dibalas. Tentu yang dimaksud di sini terutama cinta antara lelaki dan perempuan (asmara). Cinta demikian bersifat khas: ia timbul atau melanda, dan kerap tak bisa dihentikan, walau tidak dibalas. Itulah asal penderitaan —manusia bisa “sakit cinta” bahkan “gila cinta” — karena si pencinta tentu sangat berharap balasan atas perasaan yang begitu kuat dan begitu “menggila” itu.

Kepositifan konotasi itu juga kentara pada antonim-antonim kata cinta yang semuanya berkonotasi negatif seperti antonim utama: benci/ kebencian. Demikian juga antonimantonim lain yang secara tak terduga saya temukan, yakni ketakacuhan, rasa takut atau tak hadirnya cinta yang dalam teologi Nasrani dipahami sebagai antagonisme cinta. Kiranya antonim-antonim menarik itu mengisyaratkan bahwa cinta sama sekali tak terbatas pada hubungan antara lelaki dan perempuan.

Kesanggupan bercinta adalah sesuatu yang inheren pada manusia, dan termasuk ciri yang membedakan manusia dari alam, termasuk hewan. Manusialah yang memiliki potensi untuk bercinta, sekaligus membutuhkan cinta. Manusia yang tidak dicintai atau tidak diacuhkan, akan terganggu jiwanya. Ia akan kehilangan kesanggupan bercinta, bahkan akan membenci dan memusuhi sesamanya. Musibah Perang Dunia II, misalnya, tidak akan pernah terjadi, andai saja Adolf Hitler pada masa kanaknya pernah dicintai dan agak bahagia.

Cinta yang paling populer adalah cinta berunsur seksualitas. Dalam  tradisi Barat

 ia disebut eros, berasal dari kata Yunani yang juga diserap oleh bahasa Indonesia (erotis). Eros bukan saja menjadi tema utama dalam seni, melainkan juga dalam sains terkini yang bersifat materialistis dan positi vistis, khususnya neurobiologi yang temuannya semakin menentukan pandangan “modern” terhadap manusia. Sains itu menangani manusia sebagai makhluk yang ditentukan atau dideterminasikan oleh proses-proses biokemis dan fisiologis yang berlangsung dalam otak. Wakil-wakil sains tersebut menyimpulkan dan meyakini bahwa kehendak bebas, bahkan sang Aku, cuma sebuah ilusi, sebuah konstruk bersifat maya.

                Dalam perihal cinta, neurobiologi itu belum berani mengeluarkan kesimpulan menyeluruh. Istilah cinta dalam ilmu biologi bahkan tidak didefinisikan dan tidak dianggap kategori ilmiah. Namun, sains itu mulai meneliti keadaan manusia yang “jatuh cinta”, memeriksa perasaan atau emosi terkait yang diberi nama limerence. Dengan seksama, para ahli neurobiologi mengukur proses-proses neuroendokrin dalam otak dia yang jatuh cinta, di mana berbagai zat kimia (dopamin, endorphin, cortisol dll.) memainkan perananan yang tak jauh berbeda dengan candu sehingga terjelma rasa “jatuh cinta” yang banyak kesamaannya dengan keadaan sakit jiwa. Konon, keadaan istimewa itu —yang kita ketahui sebagai pelahir kesenian agung, termasuk puisi paling indah— lamalama melemah, karena otak membiasakan diri dengan atau menjadi kebal terhadap zat bersifat candu itu. Ini rata-rata terjadi setelah dua atau tiga tahun. Akhirnya lenyaplah perasaan jatuh cinta, yang bagi sains itu tak lebih daripada permainan molekul belaka. Betapa tidak romantis!

            Biologi-evolusi pun mengurus perasaan cinta asmara dan secara utilitaristis menginterpretasikannya sebagai bermanfaat untuk menstabilkan hubungan pasangan demi keturunannya dan kelangsungan spesies.

Psikologi-evolusi pun menafsirkan peristiwa jatuh cinta sebagai perilaku yang diwariskan kepada kita dari zaman batu, ketika wanita suka (atau terpaksa?) jatuh hati kepada pria pemilik gen sehat supaya anaknya memiliki gen unggul. Sedangkan konsep kita tentang kegantengan dan kecantikan menurut ahli-ahli sains itu berkaitan dengan mutu genetik yang ditandai oleh bentuk badan yang bagus alias biasa dan tak memilili ciri yang aneh (buruk) atau menyimpang.

Dalam pandangan seperti  itu sama sekali tak ada tempat bagi unsur metafisika dalam fenomena cinta. Sastrawati Prancis George Sand (1804-1867) dapat diduga akan merasa tersinggung oleh pendekatan materialistis yang digunakan sains modern, yang pastilah akan dianggapnya penghinaan atas cinta yang ia pegang teguh. Dalam salah satu suratnya di tahun 1838, ia menulis:

Patut digantung saja mereka semua yang menghina hal paling berharga dan suci dalam ciptaan (cinta), sang rahasia Illahi. Tindak mencipta itu yang menjadi ungkapan hidup paling mulia di alam semesta. Magnet menarik besi, hewan saling tertarik, terdesak oleh perbedaan jenis. Tanaman pun patuh kepada cinta, sedangkan manusia, satu-satunya makhluk yang oleh Tuhan dianugrahi bakat untuk menyadari sukacita cinta, cenderung memandang cinta sebagai sebuah keperluan hina, membicarakannya tanpa hormat dan dengan ironi. Sungguh aneh ...)

Cinta eros adalah jenis cinta yang paling menonjol, paling sering dibahas dan sering menjadi tema utama dalam kesenian. Adalah menarik bahwa cinta romantis (penuh perasaan dan diiringi keinginan untuk setia, misalnya dalam bentuk pernikahan) sering dianggap fenomena modern yang baru timbul di kalangan borjuis Eropa pada abad ke-18.

Pendapat itu cukup mengherankan bagi saya, sebab cinta romantis yang pada zaman sekarang menjadi tema utama dalam lagu pop di seluruh dunia —termasuk lagu dangdut di Indonesia— berarti sesuatu yang relatif baru. Dulu belum ada. Bukankah begitu banyak karya sastra dunia membuk-tikan kebalikannya: lihat saja pasangan Romeo dan Julia, Tristan dan Isolde, Samson dan Delilah, Rama dan Sinta?

Bagaimanapun, cinta erotis kepada lawan jenis cuma satu dari sekian jenis cinta yang lain yang dapat dibedakan berdasarkan siapa atau apa yang menjadi obyek cinta. Dengan kriteria itu, kita dapat menemukan kategori atau jenis cinta berikut:

 

  1. Cinta kepada diri sendiri. Cinta demikian melekat kepada manusia sehat dan dapat dianggap sebagai prasyarat untuk kemampuan mencintai sesama. Hal itu kiranya dapat dipahami, karena kebalikannya, yakni rasa benci terhadap diri sendiri, pasti tidak akan mengakibatkan hal-hal baik bagi orang lain. Sama dengan cinta kepada diri sendiri yang menjadi obsesi patologis (disebut narsisme, berdasar legenda Yunani tentang Narcissus yang jatuh cinta pada wajah sendiri yang terpantul di permukaan air kolam).
  1. Cinta kepada kerabat (orang-tua, anak, adik-kakak dll.). Cinta berdasarkan hubungan darah itu cukup universal dan terdapat pada hampir semua masyarakat di dunia. Pada cinta itu ada unsur kewajiban yang juga diterapkan melalui pendidikan. Nepotisme adalah akibat negatif dari jenis cinta itu yang pada dasarnya tentu sangat terpuji.
  2. Cinta kepada sahabat (Philia), yakni cinta kepada orang yang bukan kerabat. Dari segi etika, saya cenderung lebih menghargai cinta itu dibandingkan cinta kepada kerabat. Ia terkesan lebih murni, tak ada unsur terpaksa, dan berdasar pada prinsip mulia, prinsip persahabatan sejati.
  3. Cinta kepada sesama (Agape). Cinta berunsur ketakpamrihan itu jelas sebuah puncak perkembangan etis manusia. Dalam agama Nasrani dan Islam, misalnya, ia terutama dialamatkan kepada manusia yang menderita, tapi sebenarnya ia meluas menjadi philantropie, sikap ramah terhadap semua manusia, dan ini berarti ia sanggup memuncak menjadi cinta yang bahkan dialamatkan kepada musuh. Andai dalam kehidupan benar-benar ada manusia yang sanggup melakukannya ….
  4. Cinta kepada yang bukan-manusia, “cinta” kepada alam, kepada hewan, kepada benda, kepada hobi, kepada ide, dll. Cinta demikian tak jarang agak banal, misalnya kalau orang cuma “cinta” (suka) sambal. Ia juga bisa menghasilkan fanatisme, seperti terbukti oleh “rasa cinta terhadap bangsa” yang, misalnya di Jerman, sempat berkembang menjadi rasisme dan kebencian terhadap bangsa lain. Cinta demikian tentu terpuji, jika orang mencintai kebaikan, kesamaan hak, atau (apalagi) puisi.
  5. Cinta Illahi (cinta Tuhan kepada ciptaan-Nya termasuk kepada manusia) serta cinta manusia kepada Tuhan. Kedua jenis cinta itu tentu sangat dipentingkan oleh kebanyakan agama. Ia menjadi tema besar para teolog dan penyair, misalnya dalam puisi sufi. Adanya cinta Illahi serta kewajiban manusia mencintai Tuhan seharusnya membawa kita kepada kesimpulan yang sangat masuk akal: jika Tuhan mencintai ciptaan-Nya, kita pun wajib mencintai ciptaan itu, termasuk sesama. Itulah bukti cinta kita kepada Tuhan yang seharusnya bersifat agape.

 

Kategori-kategori cinta tersebut tidak sempurna jika mengingat bahwa cinta bisa mengadung berbagai aspek yang berbeda. Misalnya cinta kepada istri bisa mengandung unsur eros dan philia, atau berubah dari tahap kekasih (eros) menjadi sahabat (philia). Selain itu masih terdapat sekian jenis cinta yang tidak disebutkan: cinta platonis, cinta homoseksual, cinta monogam, cinta poligam, cinta yang ingin memiliki (mania), cinta berdasarkan rasio (pragma), dll. Tapi pada dasarnya, saya kira, kategori-kategori di atas cukup meyakinkan, dan sanggup menyajikan gambaran cukup andal tentang fenomena cinta.

Adakah semacam hirarki dalam berbagai kategori cinta? Hirarki etis? Saya kira ya. Sistematika Plato (eros, philia, dan agape) sudah mengadung hirarki itu. Kedudukan cinta erotis paling bawah, dan yang tertinggi jelas agape. Pengukurnya adalah unsur kepamrihan yang semakin menipis.

Agape, cinta kepada sesama bahkan kepada musuh adalah cinta paling mulia. Ia mirip cinta Ilahi. Namun, kita tetap patut bersikap rendah hati dan curiga terhadap diri sendiri andaipun kita sudah merasa sanggup ber-agape. Filsuf Rusia Alexander Iwanowitsch Herzen (1812-1870) pernah berkata:

Hari ini saya didatangi pikiran bahwa cinta paling altruistis sebenarnya cuma egoisme paling kuat, bahwa kerendahan hati, kelembutan dan manis budi pada dasarnya cuma kesombongan yang hina dan kekurangajaran yang tersembunyi. (Alexander Herzen (1, 256), Memoiren und Reflexionen. Terjemahan BD)

Memang, jangan-jangan kita bersikap baik dan altruistis hanya untuk merasa unggul, atau dalam rangka mengumpulkan pahala untuk masuk surga!

Ketika melayari internet untuk mencari bahan tentang tema cinta, secara tak terduga saya menemukan istilah atau konsep cinta tak berobjek. Konsep itu bertolak dari pemikiran para mistikus Eropa abad pertengahan, misalnya filsuf Meister Eckhart (1260-1328). Menurutnya, cinta ideal merupakan sikap, dan tak ada kesamaan lagi dengan sekedar perasaan. Cinta sebagai sikap dasar digambarkannya sebagai tindakan “membuka diri tanpa syarat”, bukan kepada objek tertentu, melainkan terhadap segala sesuatu, dengan kata lain terhadap “Sang Ada” (Keberadaan).

Filsuf Prancis Jean Émile Charon (1920-1998) menyatakan bahwa “cinta universal”, baginya merupakan “tujuan evolusi” atau “transendensi diri sang universal”.

Di sini cinta jelas melampaui pemahaman umum, dan kita barangkali ingin mencari kata lain yang lebih tepat untuk sikap yang demikian mulia. Dalam bahasa Jerman saya merasa sulit menemukan kata yang pas, sedang bahasa Indonesia memiliki kata yang dapat dianggap cocok, yakni: Kasih.

Saya sendiri cukup terkesan dengan konsep “kasih universal” yang dialamatkan kepada sang Ada. Alangkah terpuji andai kita sanggup mengembangkan sikap kasih demikian. Syaratnya pasti kesadaran tinggi, dan terutama tekad yang besar. Namun, seorang filsuf paling terkemuka, Immanuel Kant (1724-1804), dalam Metafisika Kesusilaan menulis:

Cinta/kasih menyangkut perasaan, bukan kehendak. Orang bercinta bukan karena ingin, apalagi karena mesti bercinta (berarti dipaksa); maka kewajiban untuk bercinta jelas mustahil dan absurd.

Kedengaran sangat masuk akal, tapi saya berharap Kant keliru. Bertolak dari kepercayaan saya akan kehendak bebas —yang tak tergoncangkan oleh kesimpulan sains materialistis seperti neurobiologi bahwa ia cuma ilusi— saya berharap bahwa kesanggupan manusia untuk berkembang dan mengembangkan kasih universal (mendesak diri untuk berkasih) bukan sesuatu yang mustahil. Sebagai mahluk yang kepadanya dihadiahkan kemerdekaan berpikir, manusia —secara spiritual— berpotensi meraih segalanya, bahkan kasih kepada sang Ada, yang melebihi dan tentu mengandung semua jenis cinta agape yang lain. Ataukah harapan demikian berlebihan, bahkan merupakan hybris. Karena, sikap kasih demikian nyaris sama dengan “cinta Ilahi”, yakni kasih Tuhan kepada sang Ada alias ciptaan-Nya, cinta-kasih yang kiranya menyebabkan Tuhan berkenan menjadi Pencipta.

Filsuf Jerman Ludwig Feuerbach (1806-1880), bahkan melihat kaitan langsung antara cinta/kasih dengan sang Ada. Dalam karyanya Dasardasar Filosofi Masa Depan ia menulis:

Cinta/kasih adalah bukti ontologis tentang keberadaan sesuatu di luar otak/akal kita – tiada bukti lain tentang sang Ada selain cinta/kasih, sang perasaan utama itu. Yang eksis hanyalah ia atau sesuatu yang keberadaannya membuat kita bahagia, yang ketakberadaannya membuat kita menderita).

Cinta/kasih sebagai bukti keberadaan! Begitu jauh pemikiran seorang filsuf diterbangkan oleh fenomena yang satu ini. Begitu pula kreativitas para seniman,  khususnya penyair. Tak terhitung banyaknya sajak yang diilhami perasaan cinta asmara. Mungkin cinta agape, apalagi cinta yang memuncak menjadi kasih universal, belum secukupnya digarap. Mungkin puisi cinta yang dimuat dalam edisi Jurnal Sajak ini pun cenderung mengabaikan jenis-jenis cinta istimewa itu.

Namun, dan kita semua tahu, sajak yang baik tidak mutlak perlu menyampaikan sesuatu yang jarang, istimewa, ataupun serba baru. Sajak bertema “aus” bisa tetap gemilang andai hal-hal yang lama disampaikan dengan cara yang baru.


Bagi artikel ini


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co