free page hit counter

2014 : Pemerintahan Golkar atau Pemerintahan PDIP?

Pemilu  2014 nantinya ditandai oleh satu monumen penting. Yaitu berakhirnya rezim Demokrat. Rezim yang kokoh selama 10 tahun berkuasa akhirnya tenggelam pada Pemilu 2014. Elektabilitas partai Demokrat terus merosot tak terbendung dibawah 5 %. Kini dukungan terhadap partai Demokrat hanya 4.7 %.

Demikian salah satu temuan terbaru survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI). LSI kembali mengadakan survei tentang peluang partai politik dan calon presiden di Pemilu 2014. Survei ini dilakukan pada tanggal 06 – 16 Januari 2014. Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan 1200 responden dengan margin of error sebesar +/- 2,9 %. Survei dilaksanakan di 33 propinsi di Indonesia. Kami juga melengkapi survei dengan penelitian kualitatif dengan metode analisis media, FGD, dan in depth interview. Survei ini dibiayai sendiri oleh LSI dari dana public interest yang telah dialokasi setiap tahunnya.

Dukungan Partai Demokrat yang diperoleh pada survei LSI Januari 2014 ini bahkan lebih kecil dari dukunganya sebagai partai baru ketika Pemilu 2004. Pada Pemilu 2004, Partai Demokrat memperoleh dukungan sebesar 7. 45 %.

Perolehan suara partai Demokrat saat itu cukup menghentak publik. Diyakini bahwa ketokohan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut mendongkrak suara partai. Ketokohan SBY dan kampanye efektif partai ini juga mengantarkan Partai Demokrat memenangi Pemilu 2009. Pada Pemilu 2009, Partai Demokrat berhasil memperoleh 20. 85 % suara. SBY pun terpilih kembali dengan mudah sebagai presiden dalam satu putaran saja.

Ternyata tak hanya elektabilitas partainya, survei LSI juga mengonfirmasi kembali bahwa para kandidat capres konvensi pun tak populer dan lemah elektabilitasnya. Para capres Demokrat hanya memperoleh dukungan dibawah 5 % jika disandingkan dengan capres-capres partai lain.  Dahlan Iskan hanya memperoleh dukungan 2.5 %, Pramono Edhi Wibowo 2.1 %, Marzuki Ali 2.0 %. Delapan nama capres kovensi lainnya hanya memperoleh dukungan dibawah 2 %.

Cukup ironis jika dibandingkan dengan capres Partai Demokrat pada Pilpres 2004 dan 2009. Pada dua kali Pilpres tersebut capres Demokrat (SBY) adalah primadona. SBY sukses mengalahkan lawan-lawannya dengan dukungan meyakinkan diatas 60 %.

Pada Pilpres 2004, SBY mengalahkan Megawati pada putaran kedua dengan dukungan sebesar 60.62 % suara. Dan pada Pilpres 2009, SBY hanya butuh satu putaran untuk mengalahkan Megawati dan Jusuf Kalla dengan dukungan 60. 80 %. Kini modal dukungan SBY pada dua kali Pilpres tersebut seakan “menguap” keluar. Jika melihat dukungan para capres konvensi Demokrat yang hanya dibawah 5 %, artinya bahwa  Demokrat dan SBY sendiri pun tak mampu mengelola dukungan sehingga bisa terus mengalir pada penerusnya.

Kini setelah hampir 10 tahun berkuasa, menjadi the rulling party, Partai Demokrat ditinggal publik. Faktor paling utama yang menjadi penyebab dan trigger terhadap kemerosotan Partai Demokrat adalah kasus korupsi yang melibatkan mantan petinggi partainya. 

*****

Tak seperti Demokrat, Golkar dan PDIP justru kokoh sebagai calon partai pemenang pemilu 2014. Kini hanya Golkar dan PDIP yang bersaing memimpin pemerintahan baru 2014-2019. Partai Demokrat telah terlempar dari pertarungan ini. Pemerintahan 2014 adalah pemerintahan Golkar atau pemerintahan PDIP.  Survei terbaru LSI pada Januari 2014 menunjukan kedua partai ini menempati posisi satu dan dua elektabilitas partai.

Jika pemilu dilaksanakan pada hari dilaksanakan survei (Januari 2014), maka hasilnya adalah : Partai Golkar sebesar 18.3 %, PDIP 18.2 %, Gerindra 8.7 %, Demokrat 4.7 %, Hanura  4.0 %, PKB 3.7 %, PPP 3.6 %, PAN 3.3 %, PKS 2.2 %, Nasdem 2.0  %, PBB 0.7 %, dan PKPI 0.5 %. Mereka yang menyatakan belum memutuskan sebesar 30. 1 %. Untuk pertama kalinya (Dalam survei LSI), Partai Demokrat berada di posisi keempat dan disalip Gerindra.

Meski masih kokoh dukungannya, tren suara Partai Golkar cenderung menurun. Dua survei terakhir LSI (Oktober 2013 dan Januari 2014) menunjukan tren penurunan dukungan ini. Pada survei LSI Maret 2013, dukungan Partai Golkar masih sebesar 22. 2 %. Pada Oktober 2013 suara Golkar mengalami penurunan pada angka 20. 4 %. Dan kini pada survei Januari 2014, dukungan Partai Golkar berada pada angka 18.3 %.

Jika suara mengambang (30.1 %) diatas dibagi secara proporsional ke semua partai politik, maka prediksi suara partainya sebagai berikut : Partai Golkar sebesar 26.18 %, PDIP 26.04 %, Gerindra 12.45 %, Demokrat 6.72 %, Hanura  5.72 %, PKB 5.29 %, PPP 5.15 %, PAN 4.72 %, PKS 3.15 %, Nasdem 2.86  %, PBB 1.0 %, dan PKPI 0.72 %. 

Dari prediksi diatas, hanya Partai Golkar dan PDIP yang telah melampaui 20 % suara. Elektabilitas Partai Demokrat masih dibawah 10 %. PKS, Nasdem, PBB, dan PKPI terancam tak lolos parliamentary threshold 3.5 % suara sah nasional. Meski PKS dan Nasdem masih berpotensi menaikan elektabilitasnya dengan kekuatan soliditas partai dan militansi kadernya (PKS), serta kekuatan finansial dan akses media (Nasdem).

Dari prediksi diatas, hanya Partai Golkar dan PDIP yg bisa mencalonkan presiden tanpa koalisi (syarat minimal 25 % suara sah nasional atau 20 % kursi DPR). Partai lainnya membutuhkan koalisi antar partai untuk bisa mengajukan capres.

*****

Lalu bagaimanakah kekuatan dan persaingan capres 2014 nanti? Berikut ini hasil survei capres dan analisanya.

Jika Jokowi tak dicapreskan, maka Megawati, Aburizal Bakrie dan Prabowo Subianto akan bersaing ketat. Elektabilitas Megawati Soekarnoputri berkisar pada angka dukungan13.4 % (dukungan terbawah) hingga 22.2 % (dukungan teratas). Sementara elektabilitas Aburizal Bakrie (ARB) berkisar pada angka dukungan 11.5 %  hingga 21.3 %.

Elektabilitas Prabowo Subianto berkisar pada angka dukungan 10.7  % hingga 20.6  %. Elektabilitas Wiranto berkisar pada angka dukungan 11.5 % hingga 18.4 %. Elektabilitas capres lain hanya dibawah 10 persen. Angka dukungan terendah dan teratas yang diraih masing-masing capres sangat tergantung pada simulasi (jumlah dan siapa) capres yang diuji.

Sungguhpun dukungan Prabowo dan Wiranto cukup kuat, tapi keduanya masih kesulitan mendapatkan tiket capres karena elektabilitas partainya yang kurang. Kedua tokoh ini harus bertarung untuk merebut dukungan partai lain sebagai mitra koalisi jika ingin maju sebagai capres.

Jika Jokowi mencalonkan diri, maka Jokowi unggul dari semua kandidat. Dukungan terhadap Jokowi berkisar pada angka 22.3 % (dukungan terbawah) hingga 35.6 % (dukungan teratas). Dukungan terhadap Aburizal Bakrie berkisar pada angka dukungan 13.2 % hingga dukungan sebesar 20.1 %. Dan dukungan terhadap Prabowo Subianto berkisar pada angka dukungan 12.6  % hingga dukungan sebesar 19.7 %. Capres lain dukungannya masih di bawah 10 %. Sekali lagi, angka dukungan terendah dan teratas yang diraih masing-masing capres sangat tergantung pada simulasi (jumlah dan siapa) capres yang diuji.

Megawati adalah queen maker capres 2014. Apakah Jokowi maju atau tidak sangat tergantung pada keputusan Megawati, sebagai ketua umum PDIP. Jika Megawati maju sebagai capres karena dirinya dan PDIP yakin masih punya potensi menang dan meneruskan dinasti Bung Karno. Namun Jokowi pun punya potensi dicapreskan  PDIP. Hal ini terjadi jika Megawati percaya terhadap loyalitas Jokowi kepada dirinya dan platform PDIP. Apalagi elektabilitas Jokowi pun cukup kuat.

Pemilu 2014 berpotensi menjadi rezim PDIP atau rezim Golkar. Dalam Pileg, Golkar masih di atas PDIP. Namun dalam capres, elektabilitas Megawati atau jokowi (PDIP) masih di atas Aburizal Bakrie (Golkar).

Dengan peluang Golkar atau PDIP sebagai partai pemenang pemilu, gimana sebaiknya posisi politik kedua partai ini? Apakah berkoalisi atau beroposisi? Jika dilihat dari sejumlah survei terakhir LSI, kedua partai ini konsisten sebagai dua teratas partai peraih dukungan terbanyak. Dengan diperkuat survei Januari 2014 ini, kedua partai ini hampir pasti menjadi partai terbesar. Pilihan berkoalisi antara kedua partai lebih realistis dibanding harus beroposisi. Jika koalisi kedua partai terjadi, maka kedua partai ini akan menguasai parlemen di atas 50 persen.

LSI merekomendasi Pemerintahan 2014 adalah pemerintahan tiga partai saja. Artinya ada koalisi partai dalam jumlah minimal namun besar secara dukungan di parlemen agar pemerintahan lebih kuat dan efektif. Jika berkoalisi, siapapun yg menang, apakah Golkar ataupun PDIP, akan hanya butuh dukungan satu partai lagi untuk menjadi mayoritas di parlemen.

Jika melihat kenyataan pemilu di Indonesia, partai di era reformasi tak ada yg menang dua kali berturut-turut.  Pada pemilu 1999, PDIP menjadi partai pemenang pemilu dengan dukungan 33.74 %. Pada pemilu 2004, Partai Golkar yang menjadi pemenang dengan dukungan sebesar 21.58 %, dan pada Pemilu 2009, Partai Demokrat yang menjadi pemenang dengan dukungan sebesar 20.85 %. Pada Pemilu 2014, diprediksi Golkar atau PDIP yang kembali menjdi pemanang pemilu menggantikan partai Demokrat. Apakah  yg salah? Pemerintahan kita begitu cepat berganti.

Saatnya Golkar dan PDIP memulai tradisi baru. Kedua partai harus memikirkan koalisi yg permanen yang bisa mencapai 5 kali pemilu agar pemerintahan lebih stabil. Partai yang menang pemilu yang akan memimpin koalisi.***


Bagi artikel ini


Ada pertanyaan ? Hubungi kami di sini
info@inspirasi.co